Nabila Sakina Putri
Universitas Islam Negeri Palangka Raya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Echo Chamber, Identitas Keagamaan, dan Kematangan Beragama Remaja: Studi Psikologi Perkembangan Agama Digital Reyza Ayu Qomaria; Firda Nazirah; Lipur Ninda Ningtyas; Nabila Sakina Putri; Surawan Surawan
Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA Vol. 18 No. 1 (2026): ANALITIKA JUNE
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/analitika.v18i1.17586

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara remaja memperoleh dan memahami informasi keagamaan. Melalui algoritma personalisasi, pengguna cenderung lebih sering terpapar pada konten yang sejalan dengan preferensi dan keyakinannya sehingga memunculkan fenomena echo chamber. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fenomena echo chamber terhadap pembentukan identitas keagamaan dan kematangan beragama pada remaja generasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif eksploratif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 20 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Namun, penelitian juga menemukan bahwa sebagian informan tetap menunjukkan sikap reflektif dengan mempertimbangkan pandangan yang berbeda sebagai tambahan wawasan. berusia 18–21 tahun yang aktif mengakses konten keagamaan melalui media sosial. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi sumber utama informasi keagamaan melalui konten ceramah singkat, motivasi Islami, serta penjelasan akhlak dan ibadah. Algoritma media sosial mendorong terbentuknya pola konsumsi informasi yang homogen, ditandai dengan kecenderungan informan mengikuti akun dan tokoh agama yang memiliki pandangan sejalan dengan keyakinan mereka. Kondisi tersebut memperkuat identitas keagamaan yang dibangun dari sumber informasi yang relatif seragam dan membatasi paparan terhadap perspektif keagamaan alternatif. Temuan ini menunjukkan bahwa echo chamber tidak secara langsung menghasilkan sikap eksklusif, tetapi berpengaruh terhadap kematangan beragama dengan membentuk preferensi informasi yang homogen sehingga proses refleksi dan eksplorasi pemahaman keagamaan menjadi lebih terbatas.
Kepemimpinan Non-Muslim dalam Perspektif Islam: Analisis terhadap Pandangan Ulama dan Konteks Kehidupan Modern Uzdma Latifah; Nabila Sakina Putri; Husna Mukaromah; Ahmadi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7275

Abstract

Kepemimpinan non-Muslim dalam perspektif Islam merupakan salah satu isu yang terus menjadi perdebatan di kalangan ulama maupun masyarakat Muslim hingga saat ini. Perbedaan pandangan muncul akibat adanya variasi penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan kepemimpinan, khususnya QS. Al-Ma’idah ayat 51. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan non-Muslim dalam perspektif Islam melalui pandangan ulama klasik dan kontemporer serta relevansinya dalam konteks kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, tafsir Al-Qur’an, hadis, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema kepemimpinan non-Muslim. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif-analitis dengan membandingkan pandangan ulama klasik dan kontemporer mengenai kepemimpinan non-Muslim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama klasik pada umumnya menolak kepemimpinan non- Muslim atas umat Islam karena dianggap bertentangan dengan prinsip kepemimpinan dalam Islam. Sementara itu, sebagian ulama kontemporer memandang persoalan ini secara lebih kontekstual dengan mempertimbangkan sistem demokrasi, pluralitas masyarakat, prinsip keadilan, serta kemaslahatan umat dalam kehidupan modern. Dalam konteks negara demokratis seperti Indonesia, pembahasan mengenai kepemimpinan non-Muslim tidak hanya berkaitan dengan aspek teologis, tetapi juga menyangkut persoalan hak warga negara, toleransi, dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan sikap moderat dan pemahaman yang komprehensif agar perbedaan pandangan tidak menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat.