Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Kredibilitas  Influencer  Dalam Proses Komunikasi Persuasif Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kecantikan Di Tiktok(Studi Kasus  Influencer  Kecantikan) Nazalla Vidya Marlayza
HUMANUS : Jurnal Sosiohumaniora Nusantara Vol. 3 No. 1 (2025): HUMANUS (Jurnal Sosiohumaniora Nusantara)
Publisher : Yayasan Pengembangan Dan Pemberdayaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62180/nf79p545

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran kredibilitas influncer dalam komunikasi persuasif terhadap pertimbangan Keputusan pembelian produk kecantikan di platform TikTok. Kajian ini tidak berfokus pada pengukuran tingkat pengaruh secara kuantitatif, melainkan pada pemahaman proses komunikasi serta cara audiens menafsirkan pesan yang di sampaikan. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk menggali pengalaman dan pandangan audiens secara mendalam. pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam pengguna TikTok yang secara aktif mengonsumsi konten ulasan produk kecantikan, serta dilengkapi dengan observasi terhadap konten video dan interaksi audiens pada kolom komentar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas Influencer dipersepsikan audiens melalui kompetensi dalam menjelaskan produk, keterbukaan dalam menyampaikan pengalaman penggunaan, serta daya tarik gaya komunikasi. Aspek – aspek tersebut membuat pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipertimbangkan oleh audiens. Meskipun demikian, kredibilitas Influencer tidak secara langsung menentukan terjadinya pembelian. Audiens tetap melakukan seleksi informasi dengan mempertimbangkan kesesuaian produk dengan kebutuhan pribadi, kondisi kulit, serta faktor harga dan pengalaman sebelumnya. Proses komunikasi persuasif dalam konteks ini berlangsung secara kontekstual dan bersifat interpretatif. Audiens berperan aktif dalam menilai dan memaknai informasi, sehingga keputusan pembelian muncul sebagai hasil pertimbangan rasional yang melibatkan berbagai faktor. Temuan ini menunjukkan bahwa konten Influencer lebih berfungsi sebagai sumber referensi dan sarana membangun pemahaman awal mengenai produk kecantikan, bukan sebagai pemicu langsung tindakan pembelian. Oleh karena itu, kajian komunikasi pemasaran digital perlu memberi perhatian pada proses pemaknaan audiens sebagai bagian penting dalam memahami efektivitas komunikasi persuasif.
Polarisasi Komunikasi di Kalangan Mahasiswa dalam Kelompok Pergaulan Kampus Dwi Sulistiani; Intan Amelia; Laila Fitria Rahma; Nazalla Vidya Marlayza; Resyiana Saffira Rustandi; Zikra Miftahul Jannah; Ali Alamsyah Kusumadinata
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 11 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i11.21896

Abstract

Manusia merupakan mahluk sosial yang dimana pada hakikatnya selalu membutuhkan keberadaan manusia lain untuk berinteraksi serta memenuhi kebutuhan hidup. Dalam proses tersebut terbentuk kelompok sosial yang berperan sebagai ruang berbagi pengalaman, penguatan identitas, serta sumber dukungan emosional. Salah satu fenomena yang sering muncul adalah polarisasi, yaitu keterbelahaan antar kelompok akibat perbedaan latar belakang, pandangan, maupun pengaruh media digital.Dalam kehidupan kampus, fenomena ini semakin relevan karena mahasiswa berada pada fase pembentukan identitas dan jaringan sosial. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana polarisasi pergaulan terbentuk, dan dimaknai mahasiswa dalam interaksi sehari – hari. Tetapi selain itu juga untuk menganalisis faktor penyebab serta dampaknya bagi komunikasi mahasiswa pada lingkungan kampus. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek mahasiswa Universitas Djuanda. Dipilihnya informan melalui Teknik purposive sampling mengacu pada kriteria keterlibatan dalam kelompok pergaulan dan pengalaman berinteraksi di lingkungan kampus. Sebanyak sepuluh mahasiswa dari latar belakang berbeda diwawancarai secara mendalam, disertai observasi langsung untuk memperkuat data. Serta analisis dilakukan secara tematik untuk menemukan pola interaksi dan kecenderungan polarisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pertemanan terbentuk karena kesamaan jurusan, minat, hobi, maupun kedekatan sebelumnya. Kesamaan ini menubuhkan rasa nyaman dan solidaritas, tetapi juga memunculkan gejala polarisasi berupa gosip, prasangka, sindiran, serta keterbatasan komunikasi lintas kelompok. Temuan ini sejalan dengan teori identitas sosial dan konsep groupthink, yang menjelaskan bagaimana solidaritas internal dapat sekaligus mempersempit ruang bagi pandangan berbeda dalam lingkungan pergaulan mahasiswa.