Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Persepsi Followers Instagram terhadap Kreativitas Konten Hanum Mega dalam Pembentukan Personal Branding di Instagram Dwi Sulistiani
HUMANUS : Jurnal Sosiohumaniora Nusantara Vol. 3 No. 2 (2026): HUMANUS (Jurnal Sosiohumaniora Nusantara)
Publisher : Yayasan Pengembangan Dan Pemberdayaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62180/vq6dpn60

Abstract

Instagram sebagai media visual memberi ruang bagi figur publik untuk menampilkan kreativitas konten sekaligus membangun personal branding. Kreativitas konten tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual, tetapi juga cara penyampaian pesan dan interaksi yang dibangun dengan audiens. Namun, masih terbatas kajian yang menelaah bagaimana kreativitas konten dimaknai langsung oleh followers dalam proses pembentukan personal branding seorang kreator. Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi followers Instagram terhadap kreativitas konten Hanum Mega dalam membentuk personal branding di Instagram. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif deskriptif pada subjek penelitian berupa followers akun Instagram Hanum Mega. Informan dipilih secara purposive berdasarkan kriteria followers yang aktif mengikuti dan mengonsumsi konten Hanum Mega. Data dikumpulkan melalui wawancara daring menggunakan pesan instan. Analisis data dilaksanakan dengan tahap reduksi data, penyajian data pada bentuk narasi deskriptif berdasarkan tema yang muncul, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa followers memaknai kreativitas konten Hanum Mega sebagai kemampuan menyajikan konten kecantikan dengan gaya yang natural, jujur, dan tidak dibuat-buat. Konsistensi tema, gaya komunikasi, serta karakter yang ditampilkan membentuk identitas yang mudah dikenali dan memperkuat personal branding. Interaksi yang terjalin melalui komentar dan pesan langsung juga menciptakan kesan kedekatan emosional, sehingga personal branding tidak hanya dibangun melalui visual, tetapi juga melalui pengalaman berinteraksi. Kreativitas konten tersebut membentuk citra Hanum Mega sebagai figur yang ramah, autentik, dan mudah didekati. Penelitian ini mempunyai keterbatasan pada jumlah informan dan ruang lingkup platform yang  berfokus pada Instagram. Temuan ini diharapkan bisa menjadi rujukan untuk penelitian berikutnya yang mengkaji personal branding kreator digital dengan cakupan informan dan media sosial yang lebih luas.
Representasi Gaya Bicara dan Perilaku Anak-anak SD dari Game Online Roblox Andini Kusuma; Dwi Sulistiani; Intan Amelia; Laila Fitria Rahma; Willy Widinia
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 8 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i8.20161

Abstract

Fase perkembangan kognitif dan sosial pada anak-anak usia sekolah dasar (SD) sangat dipengaruhi oleh lingkungan, salah satunya media digital. Bentuk media yang saat ini populer di kalangan anak-anak adalah game online Roblox, namun penelitian yang mendalam mengenai pengaruh dari game online terhadap gaya bicara dan perilaku anak di kehidupan sehari-harinya belum banyak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi gaya bicara dan perilaku anak-anak SD yang terpapar game online Roblox serta dampaknya terhadap interaksi sosial mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data hasil wawancara dan kuisioner terhadap 50 siswa dikumpulkan dengan hasil tingkat paparan yang berbeda dari game online Roblox, serta di dukung oleh studi pustaka dari beberapa jurnal ilmiah lainnya. Analisis dilakukan dengan cara mereduksi data, mengkategorikan data, dan menarik kesimpulan dari pola-pola yang muncul dari data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak SD cenderung meniru gaya bicara dan perilaku dari karakter yang ada dalam game online Roblox. Kemudian mereka membawa hasil gerakan meniru itu ke dalam interaksi sosial di sekolah maupun di rumah. Anak-anak mengalami perubahan dalam ekspresi diri hingga keterlibatan dalam kelompok digital dalam dunia game online Roblox. Keterbatasan penelitian ini dari jumlah responden yang terbatas dan hanya pada satu wilayah sekolah. Game online seperti Roblox memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan sosio-linguistik anak, perlunya peran aktif orang tua dalam mendampingi dan memberikan edukasi yang baik terhadap literasi digital.
Polarisasi Komunikasi di Kalangan Mahasiswa dalam Kelompok Pergaulan Kampus Dwi Sulistiani; Intan Amelia; Laila Fitria Rahma; Nazalla Vidya Marlayza; Resyiana Saffira Rustandi; Zikra Miftahul Jannah; Ali Alamsyah Kusumadinata
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 11 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i11.21896

Abstract

Manusia merupakan mahluk sosial yang dimana pada hakikatnya selalu membutuhkan keberadaan manusia lain untuk berinteraksi serta memenuhi kebutuhan hidup. Dalam proses tersebut terbentuk kelompok sosial yang berperan sebagai ruang berbagi pengalaman, penguatan identitas, serta sumber dukungan emosional. Salah satu fenomena yang sering muncul adalah polarisasi, yaitu keterbelahaan antar kelompok akibat perbedaan latar belakang, pandangan, maupun pengaruh media digital.Dalam kehidupan kampus, fenomena ini semakin relevan karena mahasiswa berada pada fase pembentukan identitas dan jaringan sosial. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana polarisasi pergaulan terbentuk, dan dimaknai mahasiswa dalam interaksi sehari – hari. Tetapi selain itu juga untuk menganalisis faktor penyebab serta dampaknya bagi komunikasi mahasiswa pada lingkungan kampus. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek mahasiswa Universitas Djuanda. Dipilihnya informan melalui Teknik purposive sampling mengacu pada kriteria keterlibatan dalam kelompok pergaulan dan pengalaman berinteraksi di lingkungan kampus. Sebanyak sepuluh mahasiswa dari latar belakang berbeda diwawancarai secara mendalam, disertai observasi langsung untuk memperkuat data. Serta analisis dilakukan secara tematik untuk menemukan pola interaksi dan kecenderungan polarisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pertemanan terbentuk karena kesamaan jurusan, minat, hobi, maupun kedekatan sebelumnya. Kesamaan ini menubuhkan rasa nyaman dan solidaritas, tetapi juga memunculkan gejala polarisasi berupa gosip, prasangka, sindiran, serta keterbatasan komunikasi lintas kelompok. Temuan ini sejalan dengan teori identitas sosial dan konsep groupthink, yang menjelaskan bagaimana solidaritas internal dapat sekaligus mempersempit ruang bagi pandangan berbeda dalam lingkungan pergaulan mahasiswa.