Nursyirwan
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pertunjukan Solis Klarinet Repertoar Concerto In B♭ Major, sTari Tualang Tiga, Dan Nuovo Cinema Paradiso Aspaula Rida; Nursyirwan; Bambang Wijaksana; Aluna
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1296

Abstract

Pertunjukan ini disusun dengan tujuan menghadirkan nuansa berbeda mulai dari perpaduan repertoar klasik, melayu dan popular dengan instrumen utama Klarinet. Repertoar pertama Concerto In B♭ Major karya Franz Anton Dimmler (1753-1827), menampilkan gaya klasik dengan penekanan struktur, melodi, dan dialog antara penyaji dengan pengiring. Repertoar kedua, Tari Tualang Tiga merupakan lagu melayu ciptaan Yusoff B dengan lirik yang di tulis oleh S. Sudarmaji, yang dipopulerkan oleh Dayang Nurfaizah dalam album Belagu (2021). Karya ini diarransemen ulang ke format klarinet dengan mempertahankan nuansa lincah dan melodi khas melayu. Repertoar ketiga Nuovo cinema Paradiso karya Ennio Marricone (1988), menghadirkan ekspresi dan sinematik yang kuat , dengan nuansa romantis dan nostalgia. Metode pertunjukan meliputi tahapan persiapan, rencana kegiatan, proses latihan individu maupun gabungan, serta cakupan pra-pertunjukan, pertunjukan, dan pasca-pertunjukan. Hasil penyajian menunjukkan bahwa setiap repertoar menuntut penguasaan teknik, implementasi dan kemampuan adaptasi solis ke dalam format orkestra.
Musik Rabanae Dalam Prosesi Arak Induak Bako Di Nagari Sungai Abu Kabupaten Solok: Kajian Musikologis Jusna Dilka Risha; Wilma Sriwulan; Nursyirwan; Arga Budaya
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur musik dan bentuk penyajian musik rebana dalam prosesi Arak Induak Bako pada masyarakat Nagari Sungai Abu, Kabupaten Solok. Tradisi Arak Induak Bako merupakan salah satu upacara adat Minangkabau yang masih dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan keluarga bako kepada anak pisang. Musik rebana memiliki peran penting sebagai pengiring prosesi sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya, sosial, dan keagamaan yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan musikologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur musik rebana terdiri atas unsur ritme, tempo, dinamika, dan pola permainan yang sederhana dengan pengulangan motif sehingga menghasilkan kesatuan musikal yang mendukung jalannya prosesi adat. Bentuk penyajian musik rebana disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan Arak Induak Bako, mulai dari arak-arakan hingga prosesi penyambutan. Keberadaan musik rebana tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya serta memperkuat identitas masyarakat Nagari Sungai Abu.
Fungsi dan Peran Musik Syair Olang-Olang Dalam Mengiringi Tari Rumah Inai Weni Mawadah; Nursyirwan; Awerman; Wilma Sriwulan
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1380

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan peran musikal Syair Olang-Olang dalam mengiringi Tari Rumah Inai pada upacara Adat Besar masyarakat Melayu di Desa Tasik Serai, Riau. Syair ini merupakan tradisi lisan yang saat ini hadir melalui hasil rekonstruksi oleh pelaku seni setempat akibat ancaman kepunahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan musikologis dan pisau analisis teori etnomusikologi Alan P. Merriam (1964). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan vokal dengan instrumen perkusi (bebano dan tetawak) menjalankan tiga fungsi fundamental. Pertama, fungsi respons fisik sebagai pengatur tempo dan penyangga kestabilan gerak tari melalui pola ostinato bebano dan siklus tetawak. Kedua, fungsi pengesahan institusi sosial dan ritual dengan menciptakan suasana magis yang melegitimasi kesakralan prosesi tolak bala. Ketiga, fungsi kesinambungan budaya, di mana lirik pantun bertindak sebagai media pewarisan memori kolektif yang mengukuhkan nilai kegigihan dan identitas budaya Suku Darat. Meskipun eksistensinya bergantung pada hasil rekonstruksi, kehadiran Syair Olang-Olang tetap menjadi bukti nyata resiliensi pelestarian warisan budaya lokal.
ESTETIKA MUSIK TRADISI SYARAFAL ANAM PADA GRUP PERAMA DI KOTA BENGKULU Anissa Fadillah Dita; Nursyirwan; Irwan; Awerman
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v4i1.557

Abstract

Estetika dalam Syarafal Anam tercermin dari keselarasan syair yang sarat pujian kepada Nabi Muhammad SAW, ritme rebana yang dinamis dan ritmis, ekspresi vokal yang penuh penghayatan, serta suasana khusyuk yang terbangun selama pertunjukan. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan spiritual, tetapi juga ruang aktualisasi nilai nilai religius dan budaya yang diwariskan secara turun- temurun oleh masyarakat Lembak. Penelitian ini mengkaji estetika musik tradisional Syarafal Anam pada grup PERAMA (Perkumpulan Rebana Panorama) di Kota Bengkulu, yang merupakan bagian dari tradisi keagamaan masyarakat suku Lembak. Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan unsur musikal, makna, dan bentuk penyajian dalam pertunjukan Syarafal Anam, serta menelaah persepsi keindahan dari para pelaku dan masyarakat pendukungnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan observasi langsung, wawancara, dokumentasi, dan analisis musikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keindahan Syarafal Anam tidak hanya terletak pada aspek musikal, tetapi juga dalam nilai spiritual, kebersamaan, dan kekuatan tradisi yang terus dipertahankan hingga kini. Pertunjukan ini menjadi media dakwah, sarana pembelajaran sosial, serta penguat identitas budaya lokal yang melekat erat pada kehidupan masyarakat.