Awerman
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Eksistensi Lagu Rere Ma Na RereDi Dalam Upacara Adat Pernikahan Batak Mandailing Di Nagari Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat: (Kajian Musikologi) Elgiya Utami; Ade Syahputra; Awerman; Wilman IN
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1308

Abstract

Lagu Rere Ma Na Rere adalah lagu yang selalu dimainkan di dalam upacara adat pernikahan Batak Mandailing di Nagari Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat. Penelitian ini berangkat dari permasalahan mengenai Bagaimana Eksistensi lagu Rere Ma Na Rere di dalam upacara adat pernikahan Batak Mandailing Di Nagari Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat serta Bagaimana bentuk dan struktur musikal pada lagu Rere Ma Na Rere. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Teori yang digunakan mencakup teori eksistensi Arnold Toynbee, teori kajian musikologi Ruth Watanabe dan teori analisis bentuk musik Leon Stein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu rere ma na rere menjadi peranan penting yang sampai sekarang masih dimainkan dalam upacara adat pernikahan. Bentuk lagu rere ma na rere adalah lagu dua bagian (two part song form) yakni terdiri dari dua struktur lagu A dan B.
Fungsi dan Peran Musik Syair Olang-Olang Dalam Mengiringi Tari Rumah Inai Weni Mawadah; Nursyirwan; Awerman; Wilma Sriwulan
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1380

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan peran musikal Syair Olang-Olang dalam mengiringi Tari Rumah Inai pada upacara Adat Besar masyarakat Melayu di Desa Tasik Serai, Riau. Syair ini merupakan tradisi lisan yang saat ini hadir melalui hasil rekonstruksi oleh pelaku seni setempat akibat ancaman kepunahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan musikologis dan pisau analisis teori etnomusikologi Alan P. Merriam (1964). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan vokal dengan instrumen perkusi (bebano dan tetawak) menjalankan tiga fungsi fundamental. Pertama, fungsi respons fisik sebagai pengatur tempo dan penyangga kestabilan gerak tari melalui pola ostinato bebano dan siklus tetawak. Kedua, fungsi pengesahan institusi sosial dan ritual dengan menciptakan suasana magis yang melegitimasi kesakralan prosesi tolak bala. Ketiga, fungsi kesinambungan budaya, di mana lirik pantun bertindak sebagai media pewarisan memori kolektif yang mengukuhkan nilai kegigihan dan identitas budaya Suku Darat. Meskipun eksistensinya bergantung pada hasil rekonstruksi, kehadiran Syair Olang-Olang tetap menjadi bukti nyata resiliensi pelestarian warisan budaya lokal.