Ahmad Ridha Jafar
Universitas Islam As’Adiyah Sengkang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Spekulasi (Gharar) dalam Perspektif Hadis Tematik: Analisis Konsep, Larangan, dan Relevansinya dalam Transaksi Kontemporer Ahmad Ridha Jafar; Muhammadiyah Amin; Abdul Rahman Sakka
Ad-Dariyah: Jurnal Dialektika, Sosial dan Budaya Vol 7 No 1 (2026): Dialektika, Sosial dan Budaya (Januari-Juni 2026)
Publisher : STAI DDI Kota Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the concept of gharar (speculation/excessive uncertainty) through a thematic hadith (ḥadīth mawḍūʽī) approach, focusing on its conceptual definition, the grounds of its prohibition, and its relevance to contemporary transactions. The central problem is the persistent gap between the normative prohibition of gharar established in the Prophetic traditions and the empirical reality of modern transaction models e-commerce, conventional insurance, financial derivatives, cryptocurrency, and digital financing that increasingly embed elements of uncertainty. This research aims to reconstruct the meaning of gharar from authentic hadiths and to formulate operational criteria for distinguishing prohibited (fāḥish) from tolerated (yasīr) uncertainty in present-day muamalah. The study employs a qualitative library research design using the thematic hadith method, complemented by content analysis of the matn and a maqāṣid al-sharīʽah reading. The findings show that the prohibition of bayʽ al-gharar in Ṣaḥīḥ Muslim and the sunan collections is grounded in the protection of property, justice, and consent, rather than in the rejection of risk per se. Accordingly, gharar is graded: excessive uncertainty that dominates a contract and exploits one party is forbidden, whereas minor and unavoidable uncertainty is tolerated. Applied to contemporary practice, the criteria of clarity of object, price, quantity, and time of delivery provide a robust instrument for screening digital and financial transactions for Sharia compliance. The study concludes that thematic hadith analysis remains a living source of normative guidance capable of addressing emerging transaction technologies.
Konsep Taqwa dalam Al-Qur’An: Analisis Tafsir Tematik Ahmad Ridha Jafar; Hasyim Haddade; Rosmini Amin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.646

Abstract

Kajian tentang taqwa sering direduksi menjadi nasihat moral yang bersifat individual, padahal Al-Qur’an menempatkannya sebagai kesadaran teologis, etika sosial, dan dasar pembentukan karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep taqwa dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik dengan menelaah makna linguistik, derivasi, ayat-ayat pokok, karakteristik muttaqin, serta relevansinya bagi kehidupan modern dan pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan metode tafsir maudhu’i. Data primer bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an tentang taqwa dan kitab tafsir klasik-kontemporer, terutama Tafsir al-Tabari, Ibn Kathir, al-Qurthubi, Fi Zhilal al-Qur’an, Tafsir al-Azhar, dan Tafsir al-Misbah, sedangkan data sekunder berasal dari jurnal ilmiah, buku metodologi tafsir, serta kajian psikologi dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taqwa berasal dari akar w-q-y yang bermakna menjaga atau melindungi diri; secara Qur’ani, makna ini berkembang menjadi kesadaran aktif yang mengintegrasikan iman, ibadah, keadilan, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral. Perbandingan tafsir menunjukkan bahwa mufassir klasik menekankan ketaatan normatif dan keselamatan eskatologis, sedangkan mufassir kontemporer memperluas taqwa ke ranah transformasi sosial, pendidikan, dan kesadaran etis publik. Kesimpulannya, taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan paradigma hidup yang membentuk moral consciousness dan karakter manusia dalam relasi spiritual, sosial, dan pendidikan.