Yudhy Sanjaya
Sekolah Tinggi Teologi Real Batam, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kepemimpinan Visioner Nehemia: Sintesis Teologis-Aplikatif bagi Gereja di Era Digital Yudhy Sanjaya; Agiana Her Visnhu Ditakristi
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v7i1.260

Abstract

Era digital telah mengubah pola kepemimpinan gereja dengan menghadirkan tantangan seperti krisis arah pelayanan, fragmentasi partisipasi jemaat, kebutuhan adaptasi digital, ketegangan antargenerasi, dan melemahnya integritas pemimpin. Tantangan tersebut menuntut model kepemimpinan visioner yang tidak hanya bersifat manajerial, tetapi juga berakar secara teologis. Artikel ini bertujuan menyintesiskan prinsip-prinsip kepemimpinan visioner Nehemia dalam Nehemia 1–5 sebagai kerangka teologis-aplikatif bagi kepemimpinan gereja di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif teologis berbasis studi pustaka dengan pendekatan teologis-aplikatif, kritik naratif, dan analisis tematik. Sumber primer yang dikaji adalah Nehemia 1:1–11, 2:1–20, 3:1–32, 4:1–23, dan 5:1–19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner Nehemia tampak dalam lima prinsip utama: kepekaan terhadap krisis dan lahirnya visi, artikulasi visi dan strategi, pemberdayaan komunitas, ketahanan menghadapi oposisi, serta integritas moral dan keadilan sosial. Kontribusi artikel ini terletak pada perumusan sintesis teologis-aplikatif yang menghubungkan pola naratif Nehemia 1–5 dengan kebutuhan kepemimpinan gereja masa kini di era digital. Keterbatasan studi ini adalah sifatnya yang masih berbasis kajian teologis-literer dan belum menguji penerapan prinsip-prinsip tersebut secara empiris dalam praktik kepemimpinan gereja digital.
Spiritualitas Anak Usia Dini dalam Perspektif Yesus: Analisis Eksegetis Markus 10:13–16 Yudhy Sanjaya; Agiana Her Visnhu Ditakristi; Upa Silaen
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/prg7sr63

Abstract

The development of pedagogy in early childhood Christian Religious Education (CRE) often emphasizes the cognitive transmission of doctrine, while the spiritual dimension of children as theological subjects has not been sufficiently articulated through exegetical readings focused on Gospel texts. This article analyzes Mark 10:13–16 to explain how the passage presents children as those who are received by Jesus and presented as a model for receiving the Kingdom of God, and to examine its relevance for the pedagogy of early childhood Christian Religious Education. This study employs a descriptive qualitative method with a narrative and lexical exegetical approach to Mark 10:13–16, enriched by a reading of the parallel texts in Matthew 19:13–15 and Luke 18:15–17 as well as a review of literature on child theology and Christian education. The specific contribution of this article lies in the formulation of three characteristics of early childhood spirituality derived from the reading of this passage, namely receptivity to grace, incarnational relationality, and the paradigmatic function of the child for the life of discipleship. The findings show that Mark 10:13–16 not only affirms Jesus’ acceptance of children, but also positions them as theological subjects who reveal the logic of the Kingdom of God. These findings imply the need to develop a more child-friendly, relational, and community-based pedagogy of Christian Religious Education that involves family and church, while giving space to children’s experiences of faith within the Christian community. Keywords: Mark 10:13–16; children's spirituality; Christian religious education; narrative exegesis; pedagogy of children’s faith formation Abstrak Perkembangan pedagogi Pendidikan Agama Kristen (PAK) anak usia dini kerap berfokus pada transmisi kognitif doktrin, sementara dimensi spiritualitas anak sebagai subjek teologis belum banyak dirumuskan melalui pembacaan eksegetis yang terfokus pada teks Injil. Artikel ini menganalisis Markus 10:13–16 untuk menjelaskan bagaimana perikop tersebut menampilkan anak sebagai pihak yang diterima Yesus dan dijadikan acuan dalam menerima Kerajaan Allah, serta menelaah relevansinya bagi pedagogi PAK anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksegesis naratif dan leksikal terhadap Markus 10:13–16, yang diperkaya dengan pembacaan teks paralel Matius 19:13–15 dan Lukas 18:15–17 serta studi pustaka teologi anak dan pendidikan Kristen. Kontribusi khusus artikel ini terletak pada perumusan tiga ciri spiritualitas anak usia dini dari pembacaan perikop tersebut, yakni reseptivitas terhadap anugerah, relasionalitas yang inkarnasional, dan fungsi paradigmatik anak bagi kehidupan murid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Markus 10:13–16 tidak hanya menegaskan penerimaan Yesus terhadap anak-anak, tetapi juga menempatkan mereka sebagai subjek pembinaan iman yang mengungkapkan logika Kerajaan Allah. Temuan ini berimplikasi pada pengembangan pedagogi PAK yang lebih ramah anak, berbasis relasi, melibatkan keluarga dan gereja, serta memberi ruang bagi pengalaman iman anak dalam komunitas Kristen. Kata Kunci: Markus 10:13-16; spiritualitas anak; pendidikan agama Kristen; eksegesis naratif; pedagogi iman anak