Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS ZAT BESI DAN VITAMIN C SERBUK LIOFILISASI UMBI BIT (Beta vulgaris L) KOMBINASI BUAH APEL HIJAU (Malus sylvestris Mill) sindi suryamin; Cindy Junita Romli; Nuzul Gyanata Adiwisastra; La Ode Muhammad Anwar; Marselina; Salma Hilmy Rusydi Hashim
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v10i2.589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan zat besi dan evaluasi standar serbuk umbi bit (Beta vulgaris L) dan apel hijau (Malus sylvestris Mill) dalam meningkatkan kadar hemoglobin sebagai upaya penanganan anemia, serta menentukan konsentrasi optimal dari kombinasi tersebut. Proses pengeringan dilakukan dengan metode freeze drying untuk mempertahankan stabilitas senyawa aktif. Hasil serbuk umbi bit dan apel hijau masing-masing dari 5 kg bahan menghasilkan 153 g dan 386,8 g serbuk. Uji fitokimia menunjukkan bahwa kedua serbuk mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida, dan polifenol yang berperan dalam penyerapan zat besi dan pembentukan hemoglobin. Uji organoleptik memperlihatkan bahwa serbuk memiliki ciri fisik dan aroma yang khas serta stabil. Hasil uji pH, homogenitas, susut pengeringan, kadar air, dan kadar abu menunjukkan bahwa serbuk memenuhi standar yang berlaku. Uji kadar zat besi dengan spektrofotometri serapan atom menunjukkan regresi linear (R² = 1) dengan kadar tertinggi pada konsentrasi 2 ppm. Uji kadar vitamin C menggunakan spektrofotometri UV-Vis juga menunjukkan hubungan linear kuat (R² = 0,9674) pada serbuk apel hijau, umbi bit, dan kombinasinya pada konsentrasi 20 ppm. Kombinasi serbuk umbi bit mengandung zat besi sebesar 48,392 mg/20 g, sedangkan apel hijau mengandung vitamin C sebesar 61,4052 mg/10 g yang berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin. Kesimpulannya, kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau berpotensi dikembangkan sebagai sediaan nutrasetikal untuk penanggulangan anemia. Namun, efektivitasnya belum dapat dipastikan karena penelitian ini belum menyertakan data uji biologis sehingga diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji in vivo dan in vitro.