Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Global Trust Management: Membangun Reputasi dan Daya Saing Lembaga Pendidikan di Era Borderless Education Fithri Mehdini Addieningrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8838

Abstract

Era borderless education telah menghadirkan tantangan baru bagi lembaga pendidikan di Indonesia dalam membangun dan mempertahankan kepercayaan publik di tengah kompetisi global yang semakin intensif. Artikel ini menganalisis global trust management sebagai kerangka strategis untuk membangun reputasi dan daya saing lembaga pendidikan dengan mengidentifikasi lima dimensi kunci, yakni reputasi akademik, transparansi kelembagaan, kepuasan pemangku kepentingan, inovasi digital, dan legitimasi sosial-kultural. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis literatur sistematis, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja komprehensif yang mencakup indikator terukur untuk setiap dimensi, model kematangan transformasi empat fase yang terdiri dari foundation building, trust acceleration, reputation consolidation, dan global competitiveness, serta studi kasus tiga lembaga pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, borderless education bukan hanya ancaman tetapi juga peluang bagi lembaga pendidikan yang mampu mengelola trust secara efektif, karena kepercayaan yang terbangun secara autentik akan menjadi competitive advantage yang paling bertahan di tengah homogenisasi standar global. Temuan menunjukkan bahwa dimensi transparansi kelembagaan dan legitimasi sosial-kultural menghadapi tantangan paling signifikan, sementara dimensi reputasi akademik menunjukkan kemajuan relatif lebih konsisten. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama: reputasi superficial, trust deficit struktural, kesenjangan digital, dan erosi identitas lokal. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan model trust management yang dapat dijadikan panduan bagi lembaga pendidikan dalam membangun reputasi dan daya saing yang berkelanjutan di era borderless education. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bersifat akademik-analitis tetapi juga berupaya memberikan kontribusi praktis yang dapat langsung dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di lapangan dalam merancang dan mengimplementasikan strategi trust management yang lebih terstruktur, terukur, dan responsif terhadap dinamika borderless education yang terus berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya
Paradigma Keilmuan Holistik: Integrasi Islam Dan Sains Dalam Sistem Pendidikan Global Fithri Mehdini Addieningrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8839

Abstract

Articel ini mengkaji paradigma keilmuan holistik sebagai upaya mengintegrasikan Islam dan sains dalam sistem pendidikan global yang menghadapi tantangan fragmentasi epistemologis. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis hermeneutik dan studi komparatif, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual lima dimensi integrasi yang mencakup dimensi epistemologis, kurikular-pedagogis, institusional-struktural, kultural-kontekstual, dan teknologis-digital. Model transformasi empat fase yang dirumuskan meliputi dekonstruksi, reorientasi, integrasi, dan institusionalisasi, yang berfungsi sebagai panduan sistematis bagi lembaga pendidikan Islam dalam menerapkan paradigma integratif-holistik. Studi kasus terhadap UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan bahwa implementasi integrasi Islam dan sains memerlukan komitmen institusional yang berkelanjutan, pembaruan kurikulum yang substansial, serta pengembangan kapasitas dosen yang transdisipliner. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, yaitu reduksi integratif, dualisme epistemologis, eksklusionisme kultural, dan kooptasi institusional, yang berpotensi menghambat efektivitas paradigma holistik jika tidak dimitigasi secara tepat. Penelitian ini berkontribusi dalam menawarkan model transformasi yang operasional dan kontekstual bagi pengembangan pendidikan Islam yang mampu berdialog dengan tradisi keilmuan global tanpa kehilangan identitas epistemiknya
Moderasi Beragama dalam Perspektif Maqasid al-Shariah: Analisis Terhadap Tantangan Radikalisme Digital di Indonesia Fithri Mehdini Addieningrum; Muhammad Faisal
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i4.8744

Abstract

Moderasi beragama telah menjadi agenda strategis nasional Indonesia dalam menghadapi ancaman radikalisme yang kini semakin bermigrasi ke ruang digital. Artikel ini menganalisis moderasi beragama melalui perspektif maqasid al-shariah sebagai kerangka normatif-teleologis yang menyediakan fondasi filosofis bagi praktik moderasi beragama, sekaligus merespons tantangan radikalisme digital yang mengancam kelima daruriyyat (perlindungan fundamental) dalam maqasid. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis literatur sistematis, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja komprehensif lima dimensi yang mencakup dimensi teologis-normatif (hifz al-din), digital-teknologis (hifz al-'aql), sosiologis-komunitas (hifz al-nasl), institusional-struktural (hifz al-mal), dan kultural-identitas (hifz al-nafs). Temuan menunjukkan bahwa radikalisme digital secara sistematis mengancam seluruh daruriyyat melalui mekanisme distorsi teologis, manipulasi algoritmik, fragmentasi sosial, kooptasi institusional, dan erosi identitas moderat. Model transformasi empat fase yang dikembangkan terdiri dari identifikasi, mitigasi, resiliensi, dan transformasi, memberikan peta jalan operasional bagi institusi keagamaan. Studi kasus terhadap Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Kementerian Agama RI mengungkapkan keragaman pendekatan dan tantangan kontekstual. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama: reduksi maqasid menjadi formalisme, disinformasi dan algoritma radikalisasi, eksklusionisme komunitas, dan kooptasi politis. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama berbasis maqasid yang responsif terhadap dinamika radikalisme digital