Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KELAYAKAN STRUKTUR ATAS MUNGKUNG OVERPASS MENGGUNAKAN METODE RATING FACTOR Debora Lau; Miguel Felix Wijaya; Yulita Prasinda; Remigildus Cornelis; Alvin A. Bara; Irvebry Ayu Wulandari; Akhmad Aminullah
Jurnal Ilmiah Kurva Teknik Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kurva Teknik
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jikt.v15i1.13577

Abstract

Keandalan struktur jembatan tol eksisting perlu dievaluasi secara berkala untuk menjamin keselamatan pengguna dan keberlanjutan layanan lalu lintas. Peningkatan volume serta beban kendaraan yang tidak selalu sesuai dengan asumsi perencanaan awal berpotensi memengaruhi kapasitas aktual struktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan struktur atas Overpass Mungkung yang berada pada ruas Tol Ngawi–Kertosono melalui pendekatan load rating dengan indikator rating factor (RF). Objek penelitian merupakan jembatan beton prategang tipe PCI girder dengan empat bentang, yang dianalisis menggunakan data sekunder berupa dokumen perencanaan dan data teknis, serta data hasil survei lapangan untuk verifikasi kondisi eksisting. Pemodelan numerik struktur dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan merepresentasikan geometri, properti material, sistem tumpuan, dan konfigurasi tendon prategang sesuai kondisi aktual. Pembebanan dimodelkan mengacu pada ketentuan SNI dan AASHTO yang meliputi beban mati, beban mati tambahan, dan beban lalu lintas. Evaluasi kelayakan dilakukan dengan menghitung rating factor momen (RFM) dan rating factor gaya geser (RFS) pada girder interior dan eksterior di setiap bentang. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh elemen superstruktur memiliki nilai RFM dan RFS yang berada di atas batas minimum kelayakan, yang mengindikasikan bahwa struktur masih mampu menahan beban layanan dengan cadangan kapasitas yang memadai. Bentang 1 dan 4 menunjukkan kinerja struktural yang relatif lebih baik dibandingkan bentang lainnya, sementara bentang 2 dan 3 tetap berada pada kategori aman tanpa indikasi kebutuhan rehabilitasi struktural. Secara keseluruhan, struktur atas Mungkung Overpass dinyatakan masih layak beroperasi sebagai jembatan tol aktif, dengan rekomendasi pemantauan rutin sebagai bagian dari pengelolaan aset jembatan.
Penguatan Hygiene Sanitasi Berbasis CHSE pada Destinasi Wisata Pantai Oesina Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang Hikmah Hikmah; Asrial Asrial; Roly Edyan; Andriana Deku; Tengku A. Fauzansyah; Alvin A. Bara; Aditya Ly; Gauris P. Er Lambang
Kreasi: Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Juli
Publisher : BALE LITERASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kreasi.v6i2.3855

Abstract

Destinasi Wisata Pantai Oesina di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, merupakan aset wisata pesisir dengan daya tarik pasir putih, perairan dangkal, fasilitas lopo/gazebo, dan potensi ekowisata berbasis masyarakat. Peningkatan aktivitas wisata perlu disertai pengelolaan hygiene sanitasi yang memadai agar risiko kesehatan lingkungan dapat dicegah dan kenyamanan wisatawan meningkat. Penerapan higiene dan sanitasi di destinasi wisata pantai sangat penting untuk menjaga kualitas lingkungan, mencegah pencemaran dan penyebaran penyakit, serta menjamin kesehatan, keamanan, dan kenyamanan wisatawan secara berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat pengetahuan, kesadaran, dan praktik awal hygiene sanitasi pada kawasan Pantai Oesina. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui observasi lapangan, koordinasi, penyuluhan, diskusi partisipatif, praktik kebersihan lingkungan, dokumentasi, serta penyusunan rekomendasi operasional. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa isu prioritas meliputi ketersediaan dan kualitas air bersih, pemeliharaan toilet/MCK, pengelolaan sampah, pengendalian air limbah, hygiene kios kuliner, dan perilaku wisatawan. Luaran kegiatan berupa model lima pilar hygiene sanitasi, yaitu air bersih dan uji kualitas, toilet/MCK laik sehat, sampah terpilah dan 3R, limbah cair terkendali, serta hygiene personal dan kios kuliner. Rencana tindak lanjut meliputi audit sanitasi berkala, logbook kebersihan, penyediaan sarana cuci tangan, pemilahan sampah, pemeriksaan kualitas air, serta integrasi prinsip CHSE dalam tata kelola destinasi. Kegiatan ini menegaskan bahwa sanitasi wisata pantai harus dikelola sebagai sistem kawasan kolaboratif yang melibatkan pengelola, pokdarwis, pedagang, wisatawan, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.