Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menarasikan Kearifan Lokal dalam Pemikiran Filsafat Indonesia Kontemporer Indira Tiardana Kusuma; Anas Ahmadi
Jurnal Global Ilmiah Vol. 3 No. 9 (2026): Jurnal Global Ilmiah
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/jgi.v3i9.377

Abstract

Kearifan lokal mengandung makna filosofis yang mencerminkan kebijaksanaan leluhur dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai seperti kebersamaan, keseimbangan, dan rasa syukur terwujud dalam berbagai praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk menarasikan kearifan lokal dalam kerangka pemikiran filsafat Indonesia kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kepustakaan (library research). Metode ini dipilih karena fokus kajian terletak pada analisis konseptual dan reflektif terhadap gagasan, teori, serta pemikiran filosofis yang berkaitan dengan integrasi ilmu pengetahuan dan tradisi kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern, terutama dalam menghadapi tantangan global dan masyarakat multikultural. Integrasi nilai-nilai lokal mampu meningkatkan relevansi ilmu terhadap kebutuhan sosial serta memperkaya perspektif ilmiah yang kontekstual. Penggabungan ilmu dan tradisi memerlukan pendekatan filsafat sebagai jembatan konseptual. Melalui hermeneutika, fenomenologi, dan dialektika, filsafat membantu memahami hubungan antara pengetahuan, nilai, dan realitas secara lebih komprehensif, sehingga mencegah reduksi ilmu menjadi sekadar instrumen teknis dan mendorong terbentuknya paradigma ilmiah yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kearifan lokal merupakan bagian penting dalam pengembangan ilmu yang berakar pada realitas sosial-budaya masyarakat.
Identifying Language in the Context of Financial Crimes on Social Media in the Policies and Programs of the Elected Government of the Republic of Indonesia for 2024 (A Forensic Linguistics Study) Indira Tiardana Kusuma; Suhartono Suhartono; Abdul Kholiq
Journal of Social Research Vol. 5 No. 8 (2026): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs (AHU-0028405-AH.01.14 Tahun 2022)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i8.3266

Abstract

The rapid growth of social media has transformed digital communication patterns and created new challenges related to language misuse, including expressions that potentially constitute financial and reputational crimes in the public sphere. The misuse of language in social media discussions regarding government policies and programs may influence public perceptions, spread misleading information, and trigger conflicts among communities. This study aims to identify and analyze forms of language crimes found on social media within the context of financial and policy-related discussions of the elected Government of the Republic of Indonesia in 2024 through a forensic linguistics perspective. This research employed a qualitative descriptive method using forensic semantic and forensic pragmatic approaches. Data were collected through observation, documentation, reading, and note-taking techniques from social media posts and comments on platforms such as YouTube, Instagram, and X (Twitter). Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that language crimes occurring on social media include slander, insults, and defamation expressed through negative labeling, accusations, and degrading statements. Forensic semantic analysis reveals the use of lexical and connotative meanings aimed at damaging the image and credibility of individuals or groups, while forensic pragmatic analysis identifies expressive speech acts intended to influence public opinion. The study concludes that social media language abuse requires careful contextual interpretation and legal awareness because not all negative expressions represent crimes without considering communicative intent, factual basis, and social impact.