Yuliarti, Klara
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Pendampingan Asuhan Nutrisi Balita dengan Epilepsi di Era Pandemi COVID-19 Secara Daring: Uji Klinis Acak Terkontrol Klara Yuliarti; Achmad Rafli; Citra Raditha; Valensia Vivian The; Nadia Chairunnisa; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.221-30

Abstract

Latar belakang. Anak epilepsi berisiko mengalami malnutrisi, keterlambatan perkembangan, dan defisiensi vitamin D akibat obat anti-epilepsi. Pandemi COVID-19 membatasi kunjungan ke dokter sehingga menghambat pemantauan pertumbuhan anak epilepsi. Pemantauan jarak jauh dapat membantu asuhan nutrisi optimal selama pandemi..Tujuan. Mengevaluasi efektivitas pendampingan asuhan nutrisi pediatrik melalui WhatsApp pada balita epilepsi.Metode. Penelitian multisenter dimulai Maret 2021 pada pasien epilepsi (6 bulan - 5 tahun). Kelompok intervensi mendapat pendampingan asuhan nutrisi melalui WhatsApp selama 3 bulan, sementara kelompok kontrol tidak. Sebelum intervensi, subjek diberikan edukasi melalui webinar, pemeriksaan anemia defisiensi besi dan vitamin D 25-OH.Hasil. Sebanyak 73 subjek direkrut dan 69 subjek mengikuti penelitian sampai selesai. Defisiensi/insufisiensi vitamin D didapatkan pada 35,6% subjek. Oral nutrition supplement merupakan saran intervensi terbanyak (23,1%). Meski WhatsApp tidak signifikan untuk perbaikan status gizi, 84,2% orangtua melihat manfaatnya dalam meningkatkan pengetahuan dan mengatasi masalah nutrisi. Meskipun beberapa memerlukan nutrisi enteral dan kunjungan tatap muka, dampak positif WhatsApp terlihat dalam meningkatkan pemahaman orangtua. Kesimpulan. Asuhan nutrisi anak epilepsi dapat ditingkatkan melalui pendampingan WhatsApp di masa pandemi. Beberapa intervensi memerlukan konsultasi tatap muka, tetapi kombinasi supervisi daring dan kunjungan tatap muka dapat menjadi alternatif setelah pandemi, mengatasi kendala jarak dan mobilitas dalam memberikan asuhan nutrisi.
Biomarker Inflamasi (IL1?, IL6, TNF?, CRP) dan Mikronutrien (Zat Besi, Seng) pada Anak dengan Stunting Usia 6-59 Bulan: Sub Analisis SEANUTS II Ranto, Huminsa; Yuliarti, Klara; Munasir, Zakiuddin; Gunardi, Hartono; Wahidiyat, Pustika Amalia; Satari, Hindra Irawan; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.316-22

Abstract

Latar belakang. Stunting memengaruhi 19,8% anak Indonesia usia di bawah lima tahun, menurut Survei Status Gizi Nasional tahun 2024. Sitokin proinflamasi (IL-1?, IL-6, TNF-?) dan defisiensi mikronutrien (zat besi, seng) diduga berperan dalam terjadinya stunting, terutama di negara berpendapatan menegah ke bawah, karena perannya dalam penghambat pertumbuhan tulang dan fungsi imun.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar sitokin proinflamasi, C-reactive protein (CRP), zat besi, dan seng dengan status stunting pada anak Indonesia usia 6-59 bulan.Metode. Data dikumpulkan dari sampel darah 100 anak Indonesia usia 6–59 bulan, dengan analisis statistik menggunakan uji chi-square, uji t, atau uji Mann-Whitney (p<0,05 dianggap bermakna).Hasil. Dari 100 subjek, 49 mengalami stunting dan 51 memiliki status gizi normal. Tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua lebih rendah pada kelompok stunting (masing-masing p=0,019 dan p<0,001). Kadar median sitokin (IL-1?: p=0,344; IL-6: p=0,121; TNF-?: p=0,213), CRP (p=0,320), serta kadar mikronutrien (feritin: p=0,087; seng: p=1,000) tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara sitokin proinflamasi dan defisiensi mikronutrien yang diteliti dengan kejadian stunting, kemungkinan karena ukuran sampel yang terbatas dan bias perkotaan. Faktor sosial ekonomi berpengaruh signifikan terhadap stunting. Diperlukan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar untuk memperjelas hubungan tersebut.