Hindra Irawan Satari
Universitas Indonesia

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PROFILE OF IMMUNIZATION PRACTICE BY GENERAL PRACTITIONERS AND PEDIATRICIANS IN PRIVATE SETTING Soedjatmiko, Soedjatmiko; Gunardi, Hartono; Satari, Hindra Irawan; Singgih, Adrian Himawan; Yolanda, Natharina
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.572 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n4.1153

Abstract

Basic immunization coverage in Indonesia in 2013 was still low (59.2%) (IBHS, 2013). Physicians? attitude and practice were among the determinant factors of a successful immunization program. This survey aimed to describe general practitioner?s (GP) and pediatrician?s attitude towards immunization and its coverage  in private practices. This cross-sectional study was performed by distributing questionnaires consisting of 5 items on opinion and 10 items on immunization practices to 100 respondents in November 2014. Completed questionnaires were obtained from 29 GPs and 65 pediatricians. Most respondents considered that the Expanded Program in Immunization vaccine should be given. First dose of hepatitis B vaccine was mostly given in the first 12 hours after birth (90% GPs and 74% pediatricians). Oral polio vaccine was mostly given shortly before hospital discharge (65% of GPs and 81% pediatricians) while the DTwP-HB-Hib vaccine were given by 27% of GPs and 21% of pediatricians to >75% patients. Pneumococcal, rotavirus, hepatitis A, typhoid, and influenza vaccines were provided by less than 25% GPs and pediatricians, except for the influenza vaccine which was provided by 31% pediatricians. MMR vaccine was given to >75% patients by 16% of GPs and 29% of pediatricians. This pilot survey of immunization practice in private setting might be the first study in Indonesia that this can be considered as a preliminary report of immunization in private setting. Further studies need to be done, especially regarding problems in immunization in private practices. Key words: Attitude, general practitioners, immunization practice, private setting, pediatriciansGambaran Praktek Imunisasi Dokter Umum dan Dokter Spesialis Anak di Praktek SwastaRiset Kesehatan Dasar 2013 melaporkan bahwa cakupan imunisasi Indonesia masih rendah (59,2%). Sikap dan praktik imunisasi dokter merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan. Tujuan penelitian ini mengetahui sikap dokter dan cakupan imunisasi di praktik swasta. Penelitian potong lintang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner tentang sikap dan praktik imunisasi kepada responden, yaitu 29 dokter umum (DU) dan 65 dokter spesialis anak (DA) pada bulan November 2014. Mayoritas responden berpendapat bahwa vaksin program pengembangan imunisasi harus diberikan. Vaksin hepatitis B dosis I mayoritas diberikan dalam 12 jam setelah lahir (90% oleh DU dan 74% oleh DA). Vaksin polio oral mayoritas diberikan sebelum pulang perawatan (65% oleh DU dan 81% oleh DA), Vaksin DTwP-HB-Hib diberikan oleh 27% DU dan 21% DA kepada ?75% pasien. Penggunaan vaksin pneumokokus, rotavirus, hepatitis A, tifoid dan influenza pada >75% pasien adalah kurang dari 25%, kecuali vaksin influenza, yaitu 31% digunakan oleh DA. Pemberian vaksin MMR pada >75% pasien dilakukan oleh 16% DU dan 29% DA.  Penelitian imunisasi pada praktik swasta ini mungkin  merupakan laporan yang pertama dipublikasi di Indonesia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui hambatan imunisasi di praktik swasta.Kata kunci: Cakupan imunisasi, dokter,  imunisasi, praktik, spesialis
Profil Keamanan setelah Pemberian Dosis Primer Vaksin Pentabio® pada Bayi di Indonesia Sundoro, Julitasari; Rusmil, Kusnandi; Sitaresmi, Mei Neni; Arhana, Arhana; Djelantik, I.G.G.; Hadinegoro, Sri Rezeki; Satari, Hindra Irawan; Syafriyal, Syafriyal; Bachtiar, Novilia Sjafri; Sari, Rini Mulia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1052

Abstract

Vaksin Hib mulai digunakan pada Pogram Imunisasi Nasional sejak tahun 2013 secara bertahap dan di seluruh Indonesia mulai tahun 2014 dalam bentuk vaksin kombinasi DTP/HB/Hib (Pentabio®), yang memberikan  kekebalan terhadap difteria, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe b. Studi ini menilai reaksi sitemik, reaksi lokal, dan reaksi yang serius pascaimunisasi dengan Pentabio®. Sebanyak 4.000 bayi penerima vaksin Pentabio®bergabung dalam studi ini. Reaksi yang timbul dicatat pada kartu harian oleh petugas yang sudah dilatih. Vaksin Pentabio®yang diamati pada PMS ini menggunakan vaksin rutin dari Program Imunisasi Nasional dalam waktu pengamatan 28 hari di empat propinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Bali, Yogyakarta, dan Jawa Barat pada periode Mei–Desember 2014. Sebanyak 3.978 data dapat dianalisis karena 22 di antaranya tidak memberikan informasi yang valid. Reaksi sistemik yang paling banyak timbul adalah demam 0,85% pada 30 menit pertama, dan meningkat menjadi 14,03% pada satu hari pascaimunisasi, kemudian sembuh pada hari berikutnya. Reaksi lokal yang paling sering timbul adalah nyeri pada tempat suntikan pada 67,6% subjek pada 30 menit setelah imunisasi, dan meningkat menjadi 87,23% pada 1 hari pascaimunisasi namun sembuh pada hari berikutnya. Mayoritas nyeri yang timbul adalah kategori ringan. Tidak ditemukan kejadian ikutan pascaimunisasi serius selama pengamatan. Simpulan, reaksi lokal dan sistemik pascaimunisasi dengan Pentabio® dapat ditoleransi pada bayi. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Kata kunci: Bayi, Pentabio®, post marketing surveillance, reaksi lokal, reaksi sistemik   Safety Profile Following Pentabio® Primary Dose Vaccination in Indonesian Infants   Since 2013 Indonesian Expanded Program on Immunization (EPI) has  graduallyincluded Hib vaccine into routine EPI schedule in four provinces and has established the vaccine inclusion in the the nationwide program through integration of Hib vaccine into existing DTP/HB vaccine in the form of pentavalent vaccine (DTP/HB/Hib). Pentabio® vaccine is given to provide protection against diphtheria, tetanus, pertussis, hepatitis B, and Hib infection in infants and children under 5 years old.  The objective of this study was to assess the systemic reactions, local reactions, and any serious adverse event after Pentabio® immunization. About 4,000 infants were involved in this study. Systemic and local reactions were recorded on diary cards by trained health care provider. Pentabio® vaccines in this PMS were obtained from the National Immunization Program within 28 days of observation in four provinces, West Nusa Tenggara, Bali, Yogyakarta, and West Java in May–December 2014. In total, 3,978 infants were analyzed, while the other 22 forms were not included due to incomplete information. The most common systemic reaction was fever, found in 0.85% of the subjects at 30 minutes after injection, and increased to 14.03% at day 1 (one) after immunization, which disappeared the day after. The most common local reaction was pain, which was found in 67.6% subjects at 30 minutes after injection, and increased to 87.23% at day 1 (one) after immunization to disappear the day after. The intensity of the pain was mostly mild. No serious adverse event following immunization found during observation. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Key words: Infants, local reactions, Pentabio®, post marketing surveillance, systemic reactions 
Faktor Prognosis Sindrom Syok Dengue pada Anak Hindra Irawan Satari; Rossy Agus Mardani; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.544 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.131-7

Abstract

Latar belakang. Manifestasi klinis yang bervariasi, patogenesis yang kompleks, dan perbedaan serotipe virus membuat sulit memprediksi perjalanan penyakit dengue. Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang faktor prognosis terjadinya sindrom syok dengue (SSD), tetapi semuanya menggunakan pedoman World Health Organization (WHO) tahun 1997. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor prognosis terjadinya SSD berdasarkan pedoman WHO tahun 2011.Metode. Studi retrospektif menggunakan data rekam medik pasien anak usia 0 sampai <18 tahun dengan diagnosis demam berdarah dengue (DBD), SSD dan expanded dengue syndrome (EDS) yang memenuhi kriteria WHO tahun 2011 di RSCM dari Januari 2013 sampai Desember 2016. Variabel independen, yaitu jenis kelamin, usia, status gizi, infeksi dengue sekunder, leukopenia, nyeri abdomen, perdarahan gastrointestinal, hepatomegali dan kebocoran plasma. Syok merupakan variabel dependen. Analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik. Hasil. Subyek yang memenuhi kriteria penelitian 145 pasien, 52 (35,8%) di antaranya mengalami SSD. Lima dari 52 pasien SSD mengalami syok selama perawatan di rumah sakit. Analisis bivariat yang menghasilkan faktor-faktor signifikan di antaranya, malnutrisi, gizi lebih dan obesitas, perdarahan gastrointestinal, hemokonsentrasi, asites, leukosit ≥5.000 mm3, ensefalopati, peningkatan enzim hati dan overload. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel hemokonsentrasi dan peningkatan enzim hati merupakan faktor prognosis SSD. Kesimpulan. Hemokonsentrasi dan peningkatan enzim hati merupakan faktor prognosis terjadinya SSD.
Uji Klinis Tersamar Acak Ganda Pemberian Parasetamol Pasca Imunisasi DTwP-Hep B-HIB Abdullah Reza; Teny Tjitra Sari; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Kemas Firman
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.178 KB) | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.20-4

Abstract

Latar belakang. Demam, pengurangan waktu tidur, nyeri, dan reaksi lokal adalah beberapa kejadian ikutan pasca imunisasi. Untuk mencegah hal tersebut, profilaksis parasetamol pasca imunisasi diberikan oleh tenaga medis maupun orang tua. Peraturam Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan Pedoman Imunisasi IDAI belum menetapkan secara tegas boleh atau tidaknya pemberian profilaksis parasetamol pasca imunisasi.Tujuan. Mengetahui efektivitas pemberian profilaksis parasetamol oral untuk mencegah kejadian ikutan pasca imunisasi kombinasi DTwP-Hep B-Hib.Metode. Uji klinis tersamar acak ganda (double blind randomized control trialI) dengan pemberian parasetamol dan plasebo pada pasien pasca imunisasi kombinasi DTwP-Hep B-Hib di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dan Kelurahan Batu Ampar selama September 2015 sampai Oktober 2015. Satu hari pasca imunisasi, kelompok perlakuan diberikan parasetamol (40-50 mg/kgBB/hari) yang terbagi empat dosis, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan plasebo. Selama empat hari pasca imunisasi dilakukan pengukuran suhu aksila, lama tidur, dan reaksi inflamasi lokal.Hasil. Subjek terdiri atas 100 bayi yang mendapatkan imunisasi kombinasi DTwP-Hep B-Hib ketiga. Karakteristik dasar meliputi usia, jenis kelamin, dan status gizi tidak berbeda di kedua kelompok. Subjek penelitian mendapatkan profilaksis parasetamol (50 subjek) dan profilaksis plasebo (50 subjek). Seluruh subjek penelitian tidak demam, tidak mengalami gangguan tidur, dan tidak ditemukan reaksi lokal. Pemberian parasetamol 24 jam pasca imunisasi DTwP-Hep B-Hib menunjukkan penurunan suhu 0,1OC - 0,2OC yang bermakna secara statistik (p<0,05) pada 24 jam pertama pasca imunisasi. Pemberian parasetamol menunjukkan waktu tidur yang lebih lama, tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05) pada lama tidur. Kesimpulan. Pemberian parasetamol profilaksis pasca imunisasi DTwP-Hep B-Hib selama satu hari dapat menurunkan suhu tubuh pada 24 jam pasca imunisasi.
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017 Hartono Gunardi; Cissy B. Kartasasmita; Sri Rezeki Hadinegoro; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hanifah Oswari; Hardiono D Pusponegoro; Jose R Batubara; Arwin AP Akib; Badriul Hegar; Piprim B Yanuarso; Toto Wisnu Hendrarto
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.754 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.417-22

Abstract

Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Satuan Tugas Imunisasi mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal imunisasi sebelumnya. Jadwal imunisasi 2017 ini bertujuan menyeragamkan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan RI khususnya untuk imunisasi rutin. Jadwal imunisasi 2017 juga dibuat berdasarkan ketersediaan kombinasi vaksin DTP dengan hepatitis B seperti DTPw-HB-Hib, DTPa-HB-Hib-IPV, dan dalam situasi keterbatasan atau kelangkaan vaksin tertentu seperti vaksin DTPa atau DTPw tanpa kombinasi dengan vaksin lainnya. Hal baru yang terdapat pada jadwal 2017 antara lain: vaksin hepatitis B monovalen tidak perlu diberikan pada usia 1 bulan apabila anak akan mendapat vaksin DTP-Hib kombinasi dengan hepatitis B; bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV (inactivated polio vaccine) bersamaan (simultan) dengan OPV-3 saat pemberian DTP-3; vaksin DTPw direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2,3 dan 4 bulan. Hal baru yang lain adalah untuk vaksin influenza dapat diberikan vaksin inaktif trivalen atau quadrivalen, vaksin MMR dapat diberikan pada usia 12 bulan apabila anak belum mendapat vaksin campak pada usia 9 bulan. Vaksin HPV apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis. Vaksin Japanese Encephalitis direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau pada turis yang akan bepergian ke daerah endemis. Vaksin dengue direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan. Dengan pemberian imunisasi sesuai rekomendasi, diharapkan anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. 
Studi Sero epidemiologi pada Antibodi Mumps Anak Sekolah Dasar di Jakarta Hindra Irawan Satari; Nia Kuniati; Corry S Matondang; Zakiudin Munasir; Jose RL Batubara; Mulyadi Mulyadi
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.134-7

Abstract

Parotitis merupakan penyakit sistemik pada anak yang sampai saat ini masih seringdijumpai. Mumps merupakan salah satu virus penyebab parotitis yang tersering. Saat inisudah tersedia vaksin yang dapat mencegah parotitis yang disebabkan oleh mumps.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana vaksinasi mumps diperlukanpada masa kanak-kanak, dengan mengetahui berapa tinggi tingkat perlindungan kekebalanalamiah. Penelitian seksi silang ini dilakukan di salah satu SD di Jakarta Pusat pada muridmuridyang duduk di kelas I dan VI. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis,dilakukan pengambilan sampel darah untuk uji ELISA terhadap IgG spesifik mumps.Data diolah dengan mengunakan program SPSS versi 6. Terkumpul 127 sampel darahdari 69 anak laki-laki dan 58 anak perempuan. Kelompok ini dibagi dua menjadi kelompokI umur 5- 7 tahun, serta kelompok II umur diatas 5-7 tahun. Berdasarkan anamnesisdidapatkan 24 anak dari 2 kelompok pernah menderita parotitis, yang mana terbagi ataskelompok I sebanyak 15 anak (62,5 %) dan 9 anak (37,5%) dari kelompok II. Meskipunsudah diimunisasi MMR masih ada 3 orang dari kelompok I yang dikatakan oleh orangtua tetap menderita parotitis, sehingga diperkirakan daya lindung vaksinasi mumps terhadapanak-anak ini sekitar 85 %. Dari penelitian ini didapatkan pula data anak yang memilikikekebalan alamiah sebanyak 25,6%. Sebagai kesimpulan, vaksinasi mumps memangdiperlukan pada masa kanak-kanak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukansaat yang tepat untuk pemberian suntikan ulangan.
Faktor Prognosis Terjadinya Perdarahan Gastrointestinal dengan Demam Berdarah Dengue pada Dua Rumah Sakit Rujukan Rinang Mariko; Sri Rezeki S Hadinegoro; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.361-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Angka kematian akibat dengue syok sindrom (DSS) yang disertai dengan perdarahan gastrointestinal hebat dan ensefalopati masih tetap tinggi. Oleh sebab itu, perlu diketahui faktor prognosis terjadinya perdarahan gastrointestinal sehingga diharapkan dapat mengantisipasi dini kejadian perdarahan gastrointestinal pada anak demam berdarah dengue (DBD)Tujuan. Mengetahui faktor prognosis perdarahan gastrointestinal pada pasien demam berdarah dengue anak.Metode. Dilakukan penelitian cross sectional retrospektif di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo dan RSUP Dr. M Djamil dengan mengambil data rekam medik pasien DBD yang dirawat dari Januari 2010 sampai Juni 2011. Diukur parameter klinis (lamanya syok, hepatomegali) dan laboratoris (jumlah trombosit, hemokonsentrasi, pemanjangan sistem koagulasi) pada pasien DBD. Data dianalisis dengan program statistik SPSS versi 17.Hasil. Didapatkan 228 pasien yang menderita DBD. Pasien dengan nilai hematokrit 40,7% mempunyai sensitivitas 58,3% dan spesifisitas 59,8% untuk meramalkan terjadinya perdarahan gastrointestinal. Durasi anak yang mengalami renjatan >1 jam 45 menit mempunyai faktor prognosis untuk terjadinya perdarahan gastrointestinal 14,4 kali dibanding anak yang mengalami renjatan ≤1 jam 45 menit dengan sensitivitas 57,1% dan spesifisitas 91,5%.Kesimpulan. Durasi renjatan dan hematokrit (hemokonsentrasi) merupakan faktor prognosis terjadinya perdarahan gastrointestinal pada pasien DBD
Pengobatan Cefixime pada Demam Tifoid Anak Sri Rezeki S Hadinegoro; Alan R Tumbelaka; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.753 KB) | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.182-7

Abstract

Telah dilakukan penelitian uji klinis non-komparatif pengobatan cefixime terhadapdemam tifoid anak di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, sejak Mei1999 – Januari 2000. Subyek berumur antara 3-15 tahun dengan diagnosis klinis demamtifoid tanpa komplikasi. Di antara 25 orang pasien yang ikut dalam penelitian, terdapat11 laki-laki dan 14 perempuan, 16 (64%) pasien termasuk kelompok 5-9 tahun dan 8(32%) berumur >10 tahun. Delapan belas anak menderita demam di rumah selama 7hari atau lebih. Selain demam, mual, muntah, perasaan tidak enak di perut, deliriumdan hepatomegali merupakan gejala yang terbanyak ditemukan. Lebih dari separuhjumlah kasus menderita demam antara 37,5-38,5oC dan 7 anak lainnya mengalamidemam lebih dari 39oC. Peningkatan LED dan SGOT/SGPT terdapat pada hampirsemua kasus. Semua pasien mendapat pengobatan cefixime 10-15mg/kgbb/hari, dibagi2 dosis selama 10 hari. Penurunan suhu (time of fever defervescence) terjadi setelah 6,0hari (SB 3,1) pengobatan. Cure rate, yang menggambarkan efikasi cefixime terdapatpada 21 (84%) dan gagal 4 (16%) kasus. Penilaian hasil pengobatan hari kelima pada21 kasus menunjukkan 11 pasien sembuh sempurna, 10 pasien lainnya keadaan klinisbaik namun masih demam dan suhu turun pada hari berikutnya. Kegagalan bakteriologisdijumpai pada 1 kasus, termasuk dalam kelompok gagal secara klinis. Secara bakteriologis,3 pasien resisten terhadap salah satu dari ketiga antibiotik konvensional. Satu orangpasien resisten chloramphenicol dan 2 orang resisten ampisilin. Dua puluh satu (84%)di antara 25 pasien tetap sensitif terhadap ketiga antibiotik konvensional. Dalampenelitian ini tidak terdapat satu kasus pun dengan MDRST. Secara umum cefiximemempunyai efikasi yang baik dan dapat ditoleransi oleh semua pasien dengan efeksamping ringan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan evaluasi lebih lanjutmengenai dosis dan lama pengobatan.
Keamanan Vaksin Dengue pada Anak Hindra Irawan Satari; Sharfina Fulki Adilla
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.137 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.129-37

Abstract

Latar belakang. Insidens dengue meningkat 30 kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Penemuan vaksin dengue diharapkan dapat menurunkan angka ini. Vaksin dengue telah mendapatkan izin edar di 19 negara di dunia pada tahun 2015 dan di Indonesia pada tahun 2016. Pada tahun 2017, produsen vaksin menyatakan terdapat kemungkinan dengue berat pada pasien yang belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Tahun yang sama, Filipina melaporkan tiga kasus kematian terkait dengan vaksin dengue. Hal tersebut menimbulkan keresahan di masyarakat mengenai profil keamanan vaksin dengue. Tujuan. Mengetahui keamanan vaksin dengue untuk individu seronegatif dengan usia >9 tahun.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed dan Cochrane. Hasil. Studi oleh Garcia dkk, memperoleh bahwa risiko relatif rawat inap karena dengue yang terkonfirmasi secara virologis pada resipien seronegatif usia >9 tahun adalah 0,937 (IK95% 0,24-4,37). Studi lainnya yaitu, Shridar dkk, suatu case-cohort, mendapatkan hal yang sama yaitu risiko rawat inap karena dengue pada resipien seronegatif adalah 1,41 (IK95% 0,74-2,68), dan untuk dengue berat 2,44 (IK95% 0,47-12,56). Keduanya memberikan hasil yang tidak signifikan.Kesimpulan. Pemberian vaksin dengue pada individu seronegatif >9 tahun tidak mempengaruhi risiko rawat inap dan dengue berat secara signifikan.
Gambaran Infeksi Acinetobacter baumannii dan Pola Sensitifitasnya terhadap Antibiotik I Wayan Gustawan; Hindra Irawan Satari; Idham Amir; Dalima AW Astrawinata
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.35-40

Abstract

Latar belakang. Adanya peningkatan insiden infeksi Acinetobacter baumannii yang disertai peningkatan kejadian resistensi antibiotik, peningkatan morbiditas dan mortalitas, dan terbatasnya laporan kejadian infeksi bakteri ini pada pasien anak.Tujuan. Mengetahui gambaran infeksi Acinetobacter baumannii dan pola sensitifitasnya terhadap antibiotik di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo.Metode. Merupakan penelitian deskriptif retrosfektif melalui penelusuran data hasil biakan darah di laboratorium dan rekam medis dari Januari-Desember 2012.Hasil. Didapatkan 47 isolat darah Acinetobacter baumannii dari 32 pasien. Penelusuran rekam medis mendapatkan 24 data pasien lengkap. Semuanya merupakan pasien ruang NICU, sebagian besar laki-laki (18/24) dan neonatus kurang bulan (18/24). Gambaran klinis menunjukkan rerata frekuensi denyut jantung 148 kali/menit, frekuensi napas 55 kali/menit, suhu aksila 37,10C, kadar leukosit 12767,8/mm3, kadar trombosit 58491,3/mm3, kadar procalcitonin 17,6 ng/mL, dan CRP 88,5 mg/L. Rerata lama perawatan sebelum terjadi infeksi 23,9 hari. Sebagian besar pasien menggunakan alat medis seperti ventilator, CPAP, jalur vena sentral, jalur vena perifir, dan pipa nasogastrik dengan rerata lama pemakaian masing-masing 17,9, 4,5, 20,9, 13,3, dan 17,3 hari. Semua pasien mendapat antibiotik sebelum infeksi dengan rerata lama pemberian 22,5 hari. Uji kepekaan antibiotik mendapatkan 23 isolat (23/24) merupakan MDR. Resistensi antibiotik didapatkan pada golongan aminoglikosida, carbapenem, quinolon, sefalosporin, penisilin-beta lactamase inhibitor, dan tigesiklin. Sebagian besar penderita meninggal dalam perawatan (18/24).Kesimpulan. Semua pasien yang menderita infeksi Acinetobacter baumannii dirawat di ruang NICU, sebagian besar pasien merupakan kasus MDR.
Co-Authors Abdullah Reza Afaf Susilawati Agus Firmansyah Agus Firmansyah Alam , Anggraini Alan R Tumbelaka Alan R Tumbelaka Alan R. Tumbelaka Amalia Almira Andi Annisa Rusyda Khafiyani Anggraini Alam, Anggraini Angky Budianti Anis Karuniawati Antonius H. Pudjiadi Arhana, Arhana Ari Prayitno Arwin AP Akib Arwin AP. Akib Aryono Hendarto Badriul Hegar Bock H Cissy B. Kartasasmita Corry S Matondang Dalima AW Astrawinata Damayanti Rusli Sjarif Delly Chipta Lestari Dewi Wulandari Diana Mettadewi Jong Dimas Seto Prasetyo Dina Muktiarti, Dina Djelantik, I.G.G. E.M. Dady Suyoko Emi Yulianti Endang Windiastuti Fatima Safira Alatas, Fatima Safira Gortap Sihotang Hana Paraswati Putri Hanifah Oswari Hardiono D Pusponegoro Hardjono Abdoerrachman Hardjono Abdoerrachman Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara Htay H Han I Wayan Gustawan Idham Amir Imral Chair Indah S. Widyahening Jose RL Batubara Julitasari Sundoro Kemas Firman Ketut Dewi Kumara Wati Kusnandi Rusmil Laila Fitri Ibbibah Mardjanis Said Martin Hartiningsih Mei Neni Sitaresmi Mohd Andalas Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Mulyadi Mulyadi Munasir , Zakiudin Munasir, Zakiuddin Nabila Maudy Salma Natharina Yolanda, Natharina Nia Kuniati Nina Dwi Putri Novilia Sjafri Bachtiar Piprim B Yanuarso Pramita Gayatri Pratama Wicaksana Pustika Amalia Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia Rahma Karyanti, Mulya Raihan Raihan Ranto, Huminsa Retno Asti Werdhani Riamin Sitorus Rinang Mariko Rinawati Rohsiswatmo Rini Mulia Sari Rini Sekartini Rita Andriyani Rossy Agus Mardani Santya Fatma Dewi Sari Wiraswasty Sasmono , R. Tedjo Sasmono, R. Tedjo Sharfina Fulki Adilla Shindy Claudya Aprianti Sidik Utoro Singgih, Adrian Himawan Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sondang Sidabutar Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri Rezeki S Hadinegoro Sri Rezeki S Hadinegoro Sri Rezeki S Hadinegoro Sri Rezeki S Hadinegoro Suharyono Suharyono Sumarmo Soedarmo Syafriyal Syafriyal, Syafriyal Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Theresia Theresia Toto Wisnu Hendrarto Widyahening , Indah Suci Yuliarti, Klara Yuni Astria Zakiudin Munasir