Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur pada Lansia di Desa Blang Pauh Sa Kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur Mauizzah Mauizzah; Irma Hartati; Husaini Husaini
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seseorang yang sudah memasuki usia 60 tahun lebih sering mengalami gangguan tidur dengan presentase kasus berkisar 67%. Angka ini di dapat dari total penduduk di Indonesia yang sudah berusia 65 tahun lebih. Gangguan tidur seperti insomnia dan parasomnia pada lansia, dapat menimbulkan dampak negatif seperti mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan memori, mood, depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualias tidur pada lansia di Desa Blang Pauh Sa Kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini merupakan penelitian jenis analytic yang bersifat cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia di Desa Blang Pauh Sa Kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur sebanyak 56 orang, dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling, dimana sebanyak 11 responden masuk kedalam kriteria eksklusi. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sleep hygiene lansia sebagian besar sedang sebanyak 37 responden (66,1%), lngkungan fisik lansia sebagian besar kurang baik sebanyak 35 responden (62,5%), sebagian besar lansia tidak mengalami kecemasan sebanyak 29 responden (51,8%) dan kualitas tidur lansia sebagian besar buruk sebanyak 34 responden (70,7%). Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa ada hubungan sleep hygiene p-value 0,006 (p<0,05), lingkungan fisik p-value 0,000 (p<0,05) dan kecemasan p-value 0,001 (p<0,05) dengan kualitas tidur lansia. Diharapkan bagi institusi kesehatan untuk membuat kebijakan dengan menyelenggarakan edukasi mengenaiĀ sleep hygiene mencakup pentingnya konsistensi jadwal tidur-bangun, menciptakan lingkungan kamar yang nyaman (gelap, tenang, sejuk), dan menghindari penggunaan gadget sebelum tidur
Gambaran Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di UPTD Puskesmas Alue Ie Mirah Kabupaten Aceh Timur Kayla Nazra Fitria; Siti Wastuti; Irma Hartati
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 01 (2026): Februari - Maret 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian dapat mencerminkan manajemen mutu di semua tingkat sistem perawatan kesehatan dengan peran penting dalam meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatannya dan melakukan edukasi mengenai kondisi pasien atau masalah kesehatan masyarakat secara umum. Analisis kepuasan dilakukan berdasarkan lima dimensi kualitas layanan, yakni ketanggapan, kehandalan, jaminan, kepedulian, dan bukti fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di UPTD Puskesmas Alue Ie Mirah Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang mendapatkan pelayanan kefarmasian di Puskemas Alue Ie Mirah dalam 1 bulan terakhir yaitu sebanyak 1.026 pasien. Sampel sebanyak 91 responden menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data dilakukan secara univariat . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien merasa sangat puas terhadap pelayanan kefarmasian pada aspek kehandalan sebanyak 38 responden (41,8%). Sebagian besar pasien merasa puas terhadap pelayanan kefarmasian pada aspek ketanggapan sebanyak 46 responden (50,5%). Pada aspek keyakinan sebagian besar pasien merasa puas terhadap pelayanan kefarmasian sebanyak 52 responden (57,1%). Sebanyak 54 responden (59,3%) merasa puas terhadap pelayanan kefarmasian pada aspek keyakinan sebanyak 54 responden (59,3%). Pelayanan kefarmasian pada aspek bukti fisik sebanyak 58 responden (63,7%) merasa puas. Disarankan bagi institusi kesehatan untuk melakukan penambahan tenaga Apoteker yang berkompeten dalam pengelolaan obat dan pelayanan kefarmasian di puskesmas, yaitu menambahkan tenaga apoteker sesuai dengan standar klasifikasi dan perizinan rumah sakit Permenkes No.56 Tahun 2016.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Dismenore Primer pada Remaja Putri di SMP Negeri 5 Kota Langsa Nurhayati Nurhayati; Irma Hartati; Mailisna Mailisna
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 5 (2026): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i5.12097

Abstract

According to the World Health Organization (WHO), the incidence of dysmenorrhea is quite high worldwide. The average incidence of dysmenorrhea in young women is between 16.8-81%. The prevalence of dysmenorrhea in Indonesia is 64%, consisting of 54.89% primary dysmenorrhea and 9.36% secondary dysmenorrhea. One effective way to prevent dysmenorrhea is by doing physical activity such as exercise. This study was conducted to determine the relationship between physical activity and the incidence of primary dysmenorrhea in adolescent girls at SMP Negeri 5 Langsa City. This study is an analytic study with a cross-sectional nature. The population in this study were all adolescent girls at SMP Negeri 5 Langsa 186, the number of samples was 65 samples with the sampling technique carried out by Proportional Stratified Random Sampling. Data analysis was carried out using univariate and bivariate analysis using the Chi-Square test. The results showed that of the 65 respondents, the majority (37 respondents) had low levels of physical activity. The results of the study showed that the incidence of dysmenorrhea in adolescent girls was mostly moderate (26 respondents (40%), and the physical activity of adolescent girls was mostly in the low category (40 respondents (61.5%). There was a relationship between physical activity and the incidence of dysmenorrhea in adolescent girls with a p-value of 0.000 (p<0.05). The results of this study can be used as a policymaker to increase activities that can increase physical activity in adolescents by increasing extracurricular hours and educating adolescent girls about the importance of physical activity in reducing primary dysmenorrhea.