Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUATAN BUDAYA KESELAMATAN SEKOLAH MELALUI PELATIHAN TANGGAP DARURAT DAN EVAKUASI BENCANA DI SMKS KESEHATAN PROSKILL INDONESIA Santhy Syafriani; Irham Ansya; Muhammad Toyeb; Rio Animenendra; Syakhila Pradhani; Reni Mutiara
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 4 No. 04 (2026): JULI 2026
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah merupakan salah satu lingkungan yang memiliki potensi risiko terhadap berbagai kondisi darurat dan bencana, seperti kebakaran, gempa bumi, dan keadaan darurat lainnya yang dapat mengancam keselamatan warga sekolah. Guru memiliki peran strategis dalam mengarahkan dan melindungi peserta didik saat terjadi keadaan darurat sehingga diperlukan peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan melalui program edukasi yang terstruktur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat budaya keselamatan sekolah (safety culture) melalui pelatihan tanggap darurat dan evakuasi bencana bagi guru dan tenaga kependidikan di SMKS Kesehatan Proskill Indonesia Pekanbaru. Metode yang digunakan berupa pelatihan tatap muka dengan pendekatan edukatif-partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab. Materi yang diberikan meliputi kesiapsiagaan tanggap darurat, identifikasi potensi bahaya, prosedur evakuasi bencana, sistem tanggap darurat sekolah, serta prinsip perencanaan jalur evakuasi dan ketahanan bangunan terhadap bencana. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert yang diisi oleh 23 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memiliki tingkat pemahaman yang sangat baik dengan skor rata-rata 4,77 (95,48%), persepsi manfaat pelatihan sebesar 4,91 (98,26%), dan kesiapsiagaan sebesar 4,87 (97,39%). Secara keseluruhan, kegiatan memperoleh skor rata-rata 4,85 (97,04%) yang termasuk kategori sangat baik. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan peserta serta mendorong penguatan budaya keselamatan sekolah sebagai upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi keadaan darurat dan bencana.
Pencemaran Udara Perkotaan dan Beban Penyakit Respiratori/Kardiopulmoner: Systematic Review Transparan, Replikatif, dan Berbasis Appraisal Kualitas Bukti Irham Ansya; Muhammad Fachri; Nurmalia Lusida
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60718

Abstract

Background: Urban air pollution is a modifiable environmental determinant that contributes to the burden of respiratory and cardiopulmonary diseases. The initial SLR manuscript provided a comprehensive synthesis, but it needs to be strengthened to ensure greater transparency, replicability, and a focus on evidence quality appraisal. Objective: This review synthesizes evidence from the past five years on the association between PM2.5, PM10, NO2, O3, traffic-related pollutants, and household air pollution with asthma, COPD, respiratory infections, reduced lung function, hospitalizations, mortality, DALYs, and YLLs. Methods: The review was conducted in accordance with PRISMA 2020. The search was conducted on PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science Core Collection, ScienceDirect, SpringerLink, and Google Scholar on June 6, 2026, for articles published between January 1, 2021, and June 6, 2026. Duplicate removal was performed using DOI/PMID, normalized titles, and manual matching. Study quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Tools, ROBINS-E/ROBINS-I, and AMSTAR 2, depending on the study design. Results: The workflow log aligns with the PRISMA source manuscript: 492 records, 122 duplicates, 370 records screened, 197 full-text reports assessed, 50 reports excluded, and 147 studies included. The most consistent evidence was found for PM2.5 and NO2, particularly regarding asthma/COPD hospitalizations, respiratory mortality, and cardiopulmonary burden. Ozone is more prominent in COPD and the elderly due to acute oxidative effects, impaired mucociliary clearance, and interactions with temperature and summer exposure. Household air pollution differs from ambient air pollution because microenvironmental exposure intensity is higher, exposure duration is more closely tied to domestic activities, and the burden is disproportionately borne by women, children, and low-income households. Conclusion: This systematic review indicates that controlling PM2.5, traffic-related NO₂, combustion-derived particles, ozone in the elderly and those with COPD, and household air pollution should be a priority for environmental-health policies, including in Indonesia.