Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Terapi Aktivitas Kelompok Senam Anti Hipertensi Dan Pijat Punggung Terhadap Penurunan Tekanan Darah Lansia Di PPRSLU Budi Sejahtera Banjarbaru M. Arief Wijaksono; Prasetya Putra Pratama; Rahmawati Rahmawati; Rizka Mariyana Destriyani; Siti Muzdalifah; Yesa Septia Trianjani; Ni Made Ayu Komang Dewi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Wadah Publikasi Cendekia Vol 3 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat WPC
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jpmwpc.v3i2.1027

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang sering terjadi pada lansia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengontrol tekanan darah adalah melalui terapi nonfarmakologis seperti senam anti hipertensi dan pijat punggung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta membantu menurunkan tekanan darah lansia melalui terapi aktivitas kelompok berupa senam anti hipertensi dan pijat punggung. Metode kegiatan yang digunakan adalah edukasi kesehatan dan demonstrasi praktik terapi kepada lansia di Wisma Melati Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera Banjarbaru. Kegiatan dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Peserta kegiatan berjumlah 8 orang lansia yang mengikuti pemeriksaan tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan, penyuluhan kesehatan, praktik senam anti hipertensi, serta terapi pijat punggung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai terapi nonfarmakologis, dimana sekitar 90–100% lansia mampu menjelaskan kembali manfaat serta langkah-langkah pelaksanaan terapi. Selain itu, sebagian besar lansia melaporkan tubuh terasa lebih rileks, nyaman, serta berkurangnya ketegangan otot setelah mengikuti kegiatan. Terapi senam anti hipertensi dan pijat punggung dapat membantu memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan relaksasi, serta memberikan efek positif terhadap kondisi fisik dan psikologis lansia. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi salah satu upaya efektif dalam membantu pengelolaan hipertensi pada lansia.
Perbandingan Sistem Skoring CT Helsinki dan CT Rotterdam sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Cedera Kepala di RSUD dr.H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Rahmawati Rahmawati; Muhammad Riduansyah; M. Sobirin Mohtar
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 6, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v6i1.1654

Abstract

Cedera kepala merupakan penyebab utama kematian akibat kecelakaan dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti perdarahan intrakranial, edema serebri, hingga peningkatan tekanan intrakranial yang berujung pada kematian. Penilaian dini terhadap keparahan cedera kepala penting untuk menentukan prognosis dan tata laksana yang tepat. Sistem skoring CT Helsinki dan CT Rotterdam merupakan dua metode berbasis CT Scan yang digunakan untuk memprediksi luaran klinis pasien cedera kepala. Penelitian ini bertujuan membandingkan kemampuan prediksi mortalitas antara kedua sistem skoring tersebut pada pasien cedera kepala di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kohort retrospektif dengan 138 pasien cedera kepala yang menjalani pemeriksaan CT Scan kepala. Skor CT Helsinki dan CT Rotterdam dihitung menggunakan lembar observasi dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney U. Mayoritas pasien berada pada kategori cedera kepala ringan berdasarkan kedua sistem skoring. CT Helsinki mengklasifikasikan 68,1% pasien tanpa risiko mortalitas, sedangkan CT Rotterdam mengklasifikasikan 55,1% pasien sebagai cedera ringan. Hasil uji menunjukkan CT Helsinki memiliki efek yang sangat kecil (r = 0,07) dan tidak signifikan (p = 0,444) dalam membedakan status mortalitas pasien. Sebaliknya, CT Rotterdam menunjukkan efek sedang-besar (r = 0,45) dan signifikan secara statistik (p = 0,000), dengan kekuatan diskriminasi yang cukup kuat antara pasien hidup dan meninggal. Kedua sistem skoring dapat digunakan untuk memprediksi mortalitas pasien cedera kepala, namun CT Rotterdam memiliki kemampuan diskriminasi lebih baik dibandingkan CT Helsinki, sehingga berpotensi menjadi acuan utama dalam penilaian awal pasien cedera kepala di rumah sakit.Head injury is a leading cause of death from accidents and can lead to serious complications such as intracranial hemorrhage, cerebral edema, and increased intracranial pressure that may result in death. Early assessment of head injury severity is important for determining prognosis and appropriate management. The Helsinki CT score and Rotterdam CT score are two CT-scan-based systems used to predict clinical outcomes in head injury patients. This study aimed to compare the mortality prediction ability of these two scoring systems in head injury patients at RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh. This study used a retrospective cohort approach involving 138 head injury patients who underwent head CT scan examinations. Helsinki CT and Rotterdam CT scores were calculated using observation sheets and medical records, then analyzed using the Mann–Whitney U test. The majority of patients fell into the mild head injury category according to both scoring systems. The Helsinki CT score classified 68.1% of patients as having no mortality risk, while the Rotterdam CT score classified 55.1% of patients as mild injury. Test results showed that the Helsinki CT score had a very small effect size (r = 0.07) and was not statistically significant (p = 0.444) in distinguishing patients' mortality status. In contrast, the Rotterdam CT score showed a moderate-to-large effect size (r = 0.45) and was statistically significant (p = 0.000), with fairly strong discriminative power between surviving and deceased patients. Both scoring systems can be used to predict mortality in head injury patients; however, the Rotterdam CT score demonstrated better discriminative ability than the Helsinki CT score, suggesting its potential as the primary reference for the initial assessment of head injury patients in hospitals.