Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Minat Siswa untuk Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi: Survei Siswa Kelas XII di SMAN 5 Solok Selatan: Penelitian Nurdawani Putri Insyani; Nurfazlin Nova; Siska Widyawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.6897

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat siswa kelas XII di SMAN 5 Solok Selatan dalam hal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII SMAN 5 Solok Selatan dengan jumlah sampel sebanyak 280 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif. Keabsahan data diuji melalui teknik triangulasi sumber. Teknik analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap minat siswa dalam melanjutkan Pendidikan di pendidikan tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi sekolah dalam memetakan motivasi belajar siswa di tingkat akhir.
Mendampingi Anak dalam Mengenali Karakter Positif untuk Mengembangkan Potensi Diri di Paud Terpadu Anugrah Sungai Lingkitang : Pengabdian Peki Fitra Sandi; Eka Puji Lestari; Nurdawani Putri Insyani; Nurfazlin Nova; Siska Widyawati; Rahmah Permaidani; Gledies Qipranfebbyana; Sri Suhartika
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7278

Abstract

Pendidikan karakter sejak usia dini merupakan fondasi penting dalam mendukung perkembangan potensi diri anak. Hasil observasi di PAUD Terpadu Anugrah Sungai Lingkitang menunjukkan bahwa sebagian anak masih memiliki rasa percaya diri yang rendah, kurang mandiri, dan mengalami kesulitan dalam bekerja sama dengan teman sebaya. Selain itu, orang tua belum sepenuhnya memahami cara mendampingi anak dalam mengenali karakter positif sebagai dasar pengembangan potensi diri. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mendampingi anak mengenali karakter positif sehingga potensi dirinya dapat berkembang secara optimal. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif yang dipadukan dengan penyuluhan, diskusi, simulasi, dan refleksi. Sasaran kegiatan adalah 10 orang tua peserta didik di PAUD Terpadu Anugrah Sungai Lingkitang. Evaluasi dilakukan melalui observasi, angket, dokumentasi, dan refleksi terhadap keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman orang tua mengenai pentingnya karakter positif dalam mendukung perkembangan potensi anak. Orang tua mulai mampu mengidentifikasi karakter positif yang dimiliki anak, memberikan penguatan terhadap perilaku positif, membangun komunikasi yang lebih efektif, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan potensinya. Pendampingan juga memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah dalam mendukung pembentukan karakter anak secara berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan peran orang tua sebagai pendamping utama anak untuk mengenali karakter positif dan mengembangkan potensi dirinya sejak usia dini.
Pelanggaran Yang Terjadi Pada Penyalahgunaan Dana Boss Sekolah Dela Puja Tri Ditia; Indah Dwi Pebriora; Nabilla Permata Delin; Siska Widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.705

Abstract

Penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan salah satu permasalahan serius yang menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Dana BOS yang seharusnya menjadi penopang utama dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta pemenuhan kebutuhan operasional sekolah, kerap diselewengkan melalui berbagai praktik seperti laporan fiktif, mark-up anggaran, hingga penggunaan dana yang tidak sesuai ketentuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus dan kajian pustaka untuk menganalisis bentuk pelanggaran, faktor penyebab, serta dampak penyalahgunaan dana BOS terhadap dunia pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan dana BOS dipicu oleh tekanan kebutuhan sekolah akibat keterbatasan anggaran, lemahnya pengawasan internal, serta rendahnya integritas sebagian pengelola sekolah. Dampaknya meliputi menurunnya kualitas pembelajaran, kerugian finansial bagi negara dan masyarakat, erosi kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan, penurunan moral pengelola sekolah, serta terhambatnya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Temuan ini menegaskan perlunya peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan dalam pengelolaan dana BOS untuk memastikan bahwa dana publik tersebut benar-benar digunakan sesuai tujuan guna mendukung pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.
Fenomena Cyberbullying di Media Sosial Sebagai Pelanggaran Sila Kedua Pancasila Muhammad Ziqri; Rahmi; Tiara Analiza; Chintya Zahratu Sinta; Siska Widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak cyberbullying terhadap kondisi psikologis remaja serta kaitannya dengan pelanggaran nilai kemanusiaan dalam sila kedua Pancasila. Cyberbullying merupakan bentuk perundungan digital yang dapat menimbulkan berbagai gangguan emosional dan psikologis, seperti stres, kecemasan, rasa tidak aman, serta menurunnya kepercayaan diri. Penelitian ini menemukan bahwa cyberbullying tidak hanya mengganggu kestabilan emosi, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial dan proses perkembangan karakter remaja. Selain itu, tindakan tersebut jelas bertentangan dengan nilai “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” karena merendahkan martabat dan hak orang lain. Masalah yang muncul tidak hanya berdampak pada stabilitas emosi, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial, perkembangan karakter, dan kesejahteraan mental remaja secara keseluruhan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan menelaah artikel ilmiah, laporan penelitian, serta regulasi yang berkaitan dengan etika digital dan perlindungan terhadap anak dan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan cyberbullying membutuhkan kerja sama antara orang tua, guru, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan beretika. Edukasi mengenai etika bermedia sosial, literasi digital, serta penguatan karakter remaja juga diperlukan untuk mengurangi risiko perundungan. Dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam aktivitas digital, lingkungan media sosial dapat menjadi ruang yang lebih positif dan mendukung perkembangan remaja.
Tinjauan Hukum Dan Pancasila Dalam Penanganan Ekploitasi Anak Sebagai Pengemis Senci Ridalvia; Azlyn Lananda Putri; Vivian Tri Putri; Zahira Syifa; Siska Widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bentuk-bentuk eksploitasi anak sebagai pengemis serta mengidentifikasi bagaimana perspektif hukum nasional dan nilai-nilai Pancasila memberikan kerangka perlindungan terhadap anak. Masalah utama yang muncul pada kasus eksploitasi anak adalah pemaksaan aktivitas ekonomi oleh orang dewasa, kurangnya pengawasan, serta lemahnya penegakan hukum sehingga anak berada dalam situasi rentan, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan menganalisis undang-undang perlindungan anak, peraturan pemerintah, putusan kasus terkait eksploitasi anak, serta artikel ilmiah yang relevan. Data dianalisis untuk menemukan pola pelanggaran hak anak sekaligus menilai kesesuaiannya dengan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan penghargaan terhadap martabat manusia dalam Pancasila. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik eksploitasi anak sebagai pengemis merupakan bentuk pelanggaran hak asasi anak serta bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila, terutama sila Kedua dan Kelima. Faktor penyebabnya meliputi kemiskinan, rendahnya pendidikan orang tua, ketidakstabilan keluarga, dan lemahnya pengawasan pemerintah. Upaya penanganan yang efektif memerlukan sinergi antara aparat hukum, lembaga sosial, dan masyarakat melalui pendekatan hukum yang tegas serta program rehabilitasi yang berkelanjutan.
Pelanggaran Etika Guru: Studi Kasus Tentang Perlakuan Guru Terhadap Siswa Dian Febriani; Shaumi Darno; Winda Putri Zalni; Siska Widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.948

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pelanggaran etika guru dalam bentuk tindakan menyindir dan mempermalukan siswa yang tidak dapat mengikuti kegiatan perpisahan sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus dan studi literatur, penelitian ini menggali pola perilaku guru yang bertentangan dengan profesionalisme dan kode etik pendidik. Data studi kasus menunjukkan adanya ketidakkonsistenan komunikasi guru, yang pada awalnya mengizinkan ketidakhadiran siswa, namun kemudian memberikan sindiran di depan kelas. Tindakan tersebut terbukti menimbulkan dampak psikologis, seperti rasa malu, rendah diri, stres, dan penurunan motivasi belajar. Temuan literatur mendukung hasil studi kasus, bahwa komunikasi negatif dan tidak empatik dapat merusak kepercayaan diri siswa, menghambat partisipasi dalam pembelajaran, serta memperlemah hubungan guru–siswa. Selain itu, minimnya respons kepala sekolah memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan terhadap siswa dari keluarga ekonomi lemah. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kompetensi sosial, komunikasi empatik, serta kesadaran profesional guru untuk mencegah pelanggaran etika. Diperlukan upaya perbaikan pola komunikasi di lingkungan sekolah dengan melibatkan guru, siswa, dan orang tua dalam interaksi yang terbuka, nondiskriminatif, dan menghargai martabat peserta didik.
Rendahnya Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan Olifia Maysira; Restu Nasletia; Gilang Ramadhan; Putri Desmaya Natasya; Siska Widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.960

Abstract

Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan faktor penting dalam menciptakan kualitas hidup masyarakat. Namun, pencemaran lingkungan di Kecamatan Sungai Pagu, Muara Labuh masih menjadi persoalan karena rendahnya kepedulian masyarakat dalam pengelolaan sampah, seperti membuang sampah ke sungai dan menumpuk sampah di lahan kosong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, dampaknya, serta upaya penanganan yang dapat dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis dengan teknik observasi lapangan, dokumentasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencemaran lingkungan di Sungai Pagu disebabkan oleh perilaku masyarakat, pembiasaan budaya, dan minimnya pengetahuan lingkungan. Dampaknya meliputi penurunan kualitas ekosistem sungai, meningkatnya risiko gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Upaya penanganan yang diperlukan mencakup edukasi lingkungan berkelanjutan, penegakan aturan, pengawasan, dan peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi peningkatan kebersihan lingkungan secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Dampak Pelanggaran Kode Etik Profesi Guru Terhadap Proses Pembelajaran Siska Cantika Putri; Meli Susanti; Azizah Kurnia; Siska widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.961

Abstract

Kode etik profesi guru merupakan dasar penting untuk menjaga profesionalisme dan kualitas proses belajar mengajar di lingkungan sekolah. Seorang guru bukan hanya bertugas memberikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi contoh baik dalam hal moral dan perilaku bagi siswanya. Jika seorang guru melanggar kode etik, misalnya dengan meninggalkan kelas saat jam mengajar, hal ini menunjukkan kurangnya tanggung jawab dan disiplin. Hal tersebut juga akan memengaruhi proses belajar mengajar secara negatif. Dampaknya antara lain berupa menurunnya semangat belajar siswa, gangguan suasana kelas, hilangnya kepercayaan siswa terhadap guru, serta penurunan hasil belajar mereka. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan pelanggaran etika secara terus menerus. Langkah tersebut meliputi pembinaan profesional, peningkatan kompetensi guru, pengawasan terhadap kinerja, serta kebijakan pendidikan yang seimbang antara tugas mengajar dan tugas administratif. Dengan menerapkan kode etik secara konsisten dan didukung oleh seluruh pihak yang terlibat, diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, profesional, serta mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan potensi siswa secara optimal. Dalam penelitian ini, penulis menerapkan pendekatan kualitatif yang melibatkan kajian pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data dari buku dan jurnal yang relevan. Pelanggaran terhadap kode etik oleh guru dapat berakibat pada penurunan kualitas pembelajaran dan kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Studi Kasus Guru Yang Melakukan Diskriminasi Terhadap Siswa Di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Kode Etik Keguruan Mesi ziola Monica; Tio Martin; Yunita agusni; Siska Widyawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.992

Abstract

Diskriminasi yang dilakukan oleh guru terhadap siswa di sekolah dasar merupakan permasalahan serius dalam dunia pendidikan karena bertentangan dengan nilai keadilan, kemanusiaan, dan profesionalisme keguruan. Guru sebagai pendidik seharusnya menjadi teladan dalam bersikap objektif dan adil kepada seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, akademik, maupun kondisi pribadi siswa. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan kasus guru yang secara sadar atau tidak sadar melakukan perlakuan diskriminatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji studi kasus diskriminasi guru terhadap siswa di sekolah dasar dengan meninjau permasalahan tersebut berdasarkan kode etik keguruan. Fokus kajian diarahkan pada bentuk-bentuk diskriminasi yang terjadi, faktor penyebab munculnya diskriminasi, serta dampak yang ditimbulkan terhadap perkembangan akademik, psikologis, dan sosial siswa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Berdasarkan tinjauan kode etik keguruan, tindakan diskriminatif guru jelas melanggar prinsip profesionalisme, keadilan, dan tanggung jawab moral seorang pendidik. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif dan korektif melalui penguatan pemahaman kode etik, pembinaan profesional guru, serta peran aktif sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh siswa.