Ardiansah Putra Perdana
Universitas Muhammadiyah Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kelas Sinema: Community-Based Documentary Film Production Training as an Effort to Preserve Tengger Cultural Heritage Ardiansah Putra Perdana; Hari Windu Asrini
GANDRUNG: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): GANDRUNG: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/gandrung.v7i2.9104

Abstract

The rapid growth of tourism in the Bromo Tengger Semeru National Park (TNBTS) has created new economic opportunities for the Tengger community while simultaneously posing challenges to the preservation of local cultural values. One of the major issues is the limited capacity of local youth to document and communicate their own cultural narratives through audiovisual media. This community service program addressed this issue by implementing Kelas Sinema, a community-based documentary filmmaking training program in collaboration with Lingkaran Space and Shelter Kopi Bromo in Sukapura, Probolinggo. The program employed the Asset-Based Community Development (ABCD) approach integrated with the Participatory Video (PV) method to strengthen local capacities through participatory learning. The activities consisted of community asset identification, documentary filmmaking training, interactive discussions, practical audiovisual exercises, and program evaluation. The training introduced participants to visual language, documentary storytelling, cinematography, and community-based cultural documentation. The results indicate that participants demonstrated increased knowledge and skills in documentary film production, stronger awareness of the importance of preserving Tengger culture through audiovisual media, and active engagement throughout the learning process. The program also fostered collaboration among local communities and strengthened the role of documentary filmmaking as a medium for cultural education, community participation, and sustainable cultural preservation in the TNBTS area.
Representasi Masyarakat Subaltern dalam Novel Kawi Matin di Negeri Anjing Karya Arafat Nur Ardiansah Putra Perdana; Sugiarti Sugiarti
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Vol 11, No 1: Metalingua, Edisi April 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/metalingua.v11i1.33423

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kekerasan epistemik, praktik representasi yang membungkam suara subaltern, serta menjelaskan bagaimana hegemoni kekuasaan bekerja dalam mempertahankan subalternitas tokoh-tokoh marginal dalam struktur sosial yang digambarkan dalam novel Kawi Matin di Negeri Anjing karya Arafat Nur. Penelitian ini menggunakan teori subaltern Gayatri Chakravorty Spivak dan menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan kritik sastra postkolonial melalui pembacaan tekstual terhadap narasi, tokoh, dan peristiwa dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subaltern dalam novel tidak direpresentasikan sebagai subjek yang memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kepentingannya sendiri. Kekerasan epistemik bekerja dengan menghapus pengalaman hidup tokoh-tokoh marginal dari produksi pengetahuan yang dianggap sah, sementara praktik representasi justru menempatkan subaltern sebagai objek yang didefinisikan dari luar melalui pelabelan dan stigma sosial. Selain itu, hegemoni kekuasaan yang berlangsung secara terus-menerus dalam ranah militer, administratif, hukum, dan ekonomi menciptakan kondisi struktural yang menutup akses subaltern terhadap pengakuan sosial, keadilan hukum, dan mobilitas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegagalan subaltern dalam memperbaiki posisi hidupnya bukan disebabkan oleh kelemahan individu, melainkan oleh struktur kekuasaan yang secara sistematis membatasi kemungkinan mereka untuk berbicara dan diakui. Dengan demikian, novel Kawi Matin di Negeri Anjing tidak menghadirkan narasi pembebasan subaltern, melainkan menegaskan subalternitas sebagai kondisi struktural dalam masyarakat pascakolonial Indonesia.