Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TRANSPORMASI NILAI SUMBANG DUO BALEH DEMI PENGUATAN KARAKTER PADA SISWA SMK N 1 SINGKARAK Zona Rida Rahayu; Elan Halid; Mega Putri; Rini Wirasty.B; Redo Andi Marta; Suci Dwinitia
PUAN INDONESIA Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal PUAN Indonesia Vol. 8 No. 1 Juli 2026
Publisher : ASOSIASI IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/jpi.v8i1.535

Abstract

Generasi muda Minangkabau saat ini menghadapi tantangan dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai adat, khususnya sumbang duo baleh sebagai pedoman perilaku dan berbahasa yang santun. Derasnya arus teknologi dan informasi menyebabkan terjadinya akulturasi budaya yang berdampak pada memudarnya pemahaman siswa terhadap dua belas kaidah perilaku tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mentransformasikan nilai sumbang duo baleh demi penguatan karakter siswa SMK Negeri 1 X Koto Singkarak. Metode yang digunakan adalah pendekatan dialogis melalui dialog dan diskusi terbuka bersama 50 siswa dari kelas X, XI, dan XII serta 8 orang guru yang dilaksanakan pada 18 Maret 2025. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap dua belas nilai sumbang duo baleh, meliputi sumbang duduak, tagak, bajalan, kato, mancaliak, makan, bapakaian, karajo, tanyo, jawek, bagaua, dan kurenah. Transformasi nilai dilakukan melalui tiga strategi, yaitu integrasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, program pembiasaan di lingkungan sekolah, serta pemanfaatan media digital. Keberlanjutan kegiatan dirancang melalui pemunculan slogan-slogan adat di lingkungan sekolah dan pembudayaan berbahasa santun dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau tetap relevan dan dapat diinternalisasi oleh generasi muda di era digital melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
MENANAMKAN BUDAYA LITERASI PADA ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA Mega Putri; Elan Halid; Rini Wirasty B.; Redo Andi Marta; Zona Rida Rahayu; Suci Dwinitia; Fera Zora
PUAN INDONESIA Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Puan Indonesia Vol 7 No 2 januari 2026
Publisher : ASOSIASI IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/jpi.v7i2.456

Abstract

Literacy is the ability of an individual to read, write, speak, and think critically. Literacy does not merely encompass the ability to read and write, but also includes understanding and utilizing information. Information obtained by an individual should not be accepted uncritically; rather, it must be analyzed in terms of its content and message. Cultivating this habit from an early age significantly influences a child’s development. In daily life, a culture of literacy is something that must be emphasized across all levels of society, including within the family environment. It is crucial to instill this literacy culture from childhood so that individuals grow into adults capable of critically analyzing every piece of information they receive. Jorong Lurah Nan Tigo is a region located in the Kenagarian Salayo, Solok Regency. This community actively engages women through the PKK Lurah Nan Tigo group. The women in this area come from diverse social and family backgrounds, ranging from housewives to working mothers. With such diversity, parenting patterns also vary, which in turn influences the way literacy culture is applied within families. Therefore, it is important to provide understanding to the women of the PKK Lurah Nan Tigo so that the surrounding community recognizes the significance of literacy culture and its application, beginning within the family, particularly by mothers. Mothers play a pivotal role in the family as motivators who can enhance the abilities and skills of their children.
TRADISI MANGAJI NAGARI KUNCIR KECAMATAN X KOTO DIATAS KABUPATEN SOLOK: KAJIAN SEMIOTIKA Elan Halid; Suci Dwinitia; Lativa Raudhatul Yuniar
IdeBahasa Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Idebahasa Vol 7 No 2 Desember 2025
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/idebahasa.v7i2.346

Abstract

Semiotic studies examine the study of signs and meanings. The Minangkabau people are one of the largest ethnic groups in Indonesia originating from the West Sumatra region and several surrounding areas, and are known for their unique culture, customs, and social systems. One of the Nagari in West Sumatra is Nagari Kuncir which has a tradition of mangaji samalam, tigo hari, seven hari, fourteen hari, fifty hari, and one hundred hari. The purpose of this study is to describe the Mangaji Tradition of Nagari Kuncir, X Koto Diatas District, Solok Regency: Semiotic Study. This type of research is qualitative with descriptive methods. The data are in the form of pillows, clothes, mattresses, prayer beads, umbrellas, sandals carried out in the mangaji procession. This study involved three informants, namely people who know the ins and outs of the mangaji tradition, namely the Family, Datuak, and Bundo Kanduang. Data collection techniques are in the form of field observations, interviewing informants, recording, noting the process in the mangaji tradition, and documenting the process in the mangaji tradition. The data analysis techniques are: re-reading all the collected data, marking by coding the data, classifying the data according to the table format, interpreting and analyzing the collected data based on semiotic components in the form of signs, symbols, emblems, and drawing conclusions. From the research, 27 data were found. The most frequently found data is in the tradition of reading the one hundred days of semiotic symbol components, amounting to eleven data.
KONTEKS DALAM PERSPEKTIF THEO VAN LEEUWEN PADA SAAT DEBAT PUBLIK Zona Rida Rahayu; Riyen Pemata; Suci Dwinitia
Pena Literasi : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Pena Literasi
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/pl.8.1.30-40

Abstract

Konteks komunikasi pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota sebagai komunikator menyampaikan maksud ujaran kepada masyarakat pemilihnya kepada masyarakat kota Solok, yaitu dapat terpilih sebagai Walikota dan Wakil Walikota Solok tahun 2020-2024. Sebagai komunikator, pasangan calon tentunya menyampaikan maksud menggunakan konteks yang tepat, sehingga maksud ujaran dapat ditangkap dengan tepat juga. Untuk itu, pasangan calon memerlukan komunikasi yang efektif untuk mencapai tujuan dalam berdebat tersebut dengan melibatkan konteks komunikasi higt dan low contexs cuture. Dalam melakukan telaah ini, peneliti menggunakan analisis Wacana Kritis perspektif Theo van Leeuwen. Perspektif ini menjelaskan dalam menciptakan ujaran secara terstruktur, rasionalitas, serta ada muatan ideologi di dalamnya. Pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi komunikasi. Hasil penelitian ada konteks komunikasi yaitu higt dan Low  Context Cultureyang ekslusi dan Inklusi. Jika, sasaran mitra komunikasi adalah sesama pasangan calon, maka penutur menggunakan higt Context Culture. Hal ini dilakukan penutur untuk menghormati dan menghargai sesama pasangan calon. Sesuai dengan pepatah Minangkabau yaitu mangango sabalun mengecek ‘berpikir sebelum berbicara’. Artinya, seorang penutur dikehendaki dalam berbicara untuk hati-hati dalam mengujar apa yang akan disampaikan serta memilih dan memilah bahasa yang tepat digunakan dalam berkomunkasi. Low context culture adalah komunikator mengungkapan maksud ujaran secara langsung, sehingga mitra tutur dapat menangkap maksud ujaran secara langsung. Jika, sasaran mitra komunikasi pasangan calon ini adalah  masyarakat kota Solok, maka penutur menggunakan law Context Culture. Hal ini dilakukan agar mitra komunikasi dapat dengan mudah menangkap maksud ujaran.