p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Biosense
Dwi Hilda Putri
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LITERATURE REVIEW: PERBANDINGAN METODE DETEKSI Streptococcus pneumoniae PADA SAMPEL NASOPHARYNGEAL SWAB PADA POPULASI DEWASA Hana Salamah Zalfa Zalfa; Rosantia Sarassari; Dwi Hilda Putri
JURNAL BIOSENSE Vol 9 No 3 (2026): Edisi Juli 2026
Publisher : Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v9i3.8052

Abstract

Streptococcus pneumoniae merupakan patogen utama penyebab pneumonia komunitas pada populasi dewasa, dengan kolonisasi nasofaring sebagai tahap awal patogenesis. Deteksi bakteri ini menggunakan sampel nasopharyngeal swab (NPS) memiliki peran penting dalam diagnosis dan surveilans, namun performa diagnostiknya bervariasi tergantung metode yang digunakan. Literature review ini bertujuan untuk membandingkan metode deteksi S. pneumoniae pada sampel NPS pada populasi dewasa, dengan fokus pada sensitivitas, spesifisitas, dan implikasi klinis. Kajian dilakukan terhadap artikel publikasi tahun 2015–2026 yang melibatkan populasi dewasa (≥18 tahun) dan menggunakan NPS sebagai spesimen utama atau pembanding. Hasil menunjukkan bahwa metode polymerase chain reaction (PCR), khususnya quantitative PCR (qPCR) dengan target gen lytA dan piaB, memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan kultur konvensional yang cenderung underestimasi kolonisasi. Namun, sensitivitas NPS pada dewasa tetap terbatas dibandingkan spesimen lain seperti sputum dan orofaring, terutama pada kasus dengan densitas bakteri rendah. Penggunaan multiplex PCR dan panel molekuler meningkatkan diagnostic yield serta memungkinkan deteksi simultan berbagai patogen pernapasan. Selain metode, faktor usia, lokasi kolonisasi, dan jenis sampel turut memengaruhi hasil deteksi. Disimpulkan bahwa PCR merupakan metode yang lebih sensitif dibandingkan kultur dalam deteksi S. pneumoniae pada NPS dewasa, namun keterbatasan biologis NPS perlu dipertimbangkan sehingga kombinasi metode dan sampel dapat meningkatkan akurasi diagnostik. Abstract Streptococcus pneumoniae is a major pathogen responsible for community-acquired pneumonia in adults, with nasopharyngeal colonization representing the initial stage of pathogenesis. Diagnostic detection of this bacterium using nasopharyngeal swab (NPS) specimens plays an important role in clinical diagnosis and surveillance; however, its diagnostic performance varies depending on the method employed. This literature review aimed to compare diagnostic methods for Streptococcus pneumoniae using NPS specimens in adult populations, with a particular focus on sensitivity, specificity, and clinical implications. The review included articles published between 2015 and 2026 involving adult participants (≥18 years) and utilizing NPS as the primary or comparative specimen. The findings indicate that Polymerase Chain Reaction (PCR)-based methods, particularly quantitative PCR (qPCR) targeting the lytA and piaB genes, exhibit higher sensitivity than conventional culture methods, which generally detect lower rates of colonization. Nevertheless, the sensitivity of NPS in adults remains limited compared with other specimen types, such as sputum and oropharyngeal swabs, especially in cases with low bacterial density. The use of multiplex PCR and molecular diagnostic panels enhances diagnostic yield and enables the simultaneous detection of multiple respiratory pathogens. In addition to the diagnostic method, factors such as age, colonization site, and specimen type also influence diagnostic outcomes. In conclusion, PCR is a more sensitive method than conventional culture for the detection of Streptococcus pneumoniae in adult NPS specimens. However, the biological limitations of NPS should be taken into account, and combining diagnostic methods with multiple specimen types may improve overall diagnostic accuracy.
UJI ANTAGONIS BAKTERI ENDOFIT Pseudomonas BERFLUORESEN TERHADAP RALSTONIA SOLANACEARUM PENYEBAB LAYU TANAMAN TOMAT DAN NILAM Laila Mardhiyah Nazri; Dwi Hilda Putri; Linda Advinda; Fauzi Eka Nuraini; Dezi Handayani; Moralita Chatri
JURNAL BIOSENSE Vol 9 No 1 (2026): Edisi Januari 2026
Publisher : Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v9i1.6876

Abstract

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya tomat dan nilam karena mampu menurunkan produktivitas secara signifikan. Penggunaan agen hayati seperti pseudomonas berfluoresen menjadi alternatif pengendalian yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan antagonis tujuh isolat bakteri endofit pseudomonas berfluoresen yang berasal dari akar pisang buai dalam menghambat pertumbuhan R. solanacearum yang menginfeksi tomat dan nilam. Penelitian memakai pendekatan deskriptif-kuantitatif dan dilaksanakan di Laboratorium Biologi FMIPA UNP pada Agustus–November 2025. Isolat pseudomonas berfluoresen dan R. solanacearum diremajakan pada media selektif, kemudian diuji antagonismenya menggunakan metode swab pada medium MHA. Suspensi patogen distandarkan pada McFarland 0,5, sedangkan isolat antagonis diinokulasikan secara titik. Zona hambat yang terbentuk setelah inkubasi 24 jam diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kemampuan penghambatan antar isolat. Pada patogen tomat, isolat PfB305, PfB309, PfB311, dan PfB322 menghasilkan zona hambat yang relatif besar, sedangkan PfB32, PfB51, dan PfB52 tidak menunjukkan aktivitas antagonis. Pada patogen nilam, tiga isolat yang sebelumnya tidak aktif pada patogen tomat justru menghasilkan zona hambat, sementara empat isolat lainnya tidak membentuk zona hambat. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pseudomonas berfluoresen dipengaruhi oleh spesifisitas isolat terhadap patogen serta potensi produksi metabolit antibakteri
PENGARUH VARIASI VOLUME CAIRAN RUMEN SAPI TERHADAP PRODUKSI BIOGAS BERBASIS KOTORAN SAPI Echa Azkia Afandi; Alya Hamdah; Irdawati; Dwi Hilda Putri
JURNAL BIOSENSE Vol 9 No 2 (2026): Edisi April 2026
Publisher : Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v9i2.7977

Abstract

Kebutuhan energi yang terus meningkat mendorong pengembangan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, salah satunya biogas yang dihasilkan melalui proses fermentasi anaerob bahan organik. Limbah peternakan seperti kotoran sapi memiliki potensi besar sebagai substrat biogas karena kandungan bahan organiknya yang tinggi. Selain itu, cairan rumen sapi yang kaya akan mikroorganisme dan enzim pendegradasi bahan organik diduga dapat berperan sebagai inokulum untuk meningkatkan efisiensi proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi volume cairan rumen sapi terhadap produksi biogas berbasis kotoran sapi. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu tanpa penambahan cairan rumen (P1), penambahan 160 mL cairan rumen (P2), dan penambahan 320 mL cairan rumen (P3), masing-masing dengan dua ulangan. Fermentasi dilakukan selama 20 hari dalam kondisi anaerob dalam reaktor dengan balon karet sebagai penampung gas. Volume biogas diamati setiap 5 hari berdasarkan perubahan volume balon. Hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan produksi biogas seiring bertambahnya volume cairan rumen yang digunakan. Perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, diikuti oleh P2 dan P1. Hal ini mengindikasikan bahwa cairan rumen berpotensi meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam proses degradasi bahan organik menjadi gas metana sehingga berkontribusi terhadap peningkatan produksi biogas.