Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penggunaan Antibiotik tanpa Resep pada Kalangan Mahasiswa: Review Artikel Ghozi Purna Atmaja; Nurma Suri; Afriyani; Rani Himayani
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.818

Abstract

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya resistensi antibiotik yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik masih ditemukan melakukan penggunaan antibiotik secara tidak rasional, sehingga perlu dilakukan kajian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep pada kalangan mahasiswa di Indonesia. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah artikel penelitian asli yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ResearchGate yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Hasil penelusuran memperoleh 85 artikel, kemudian dilakukan proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi hingga diperoleh 10 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang paling banyak memengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep pada mahasiswa adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan pendidikan, kemudahan memperoleh antibiotik tanpa pengawasan tenaga kesehatan, sumber informasi yang kurang tepat, serta pengalaman penggunaan antibiotik sebelumnya. Keempat faktor tersebut secara konsisten dilaporkan berkontribusi terhadap perilaku penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan berpotensi meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang rasional serta penguatan pengawasan terhadap distribusi antibiotik untuk menekan praktik penggunaan antibiotik tanpa resep di kalangan mahasiswa.
Pengaruh Jenis Pelarut terhadap Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) dengan Metode Maserasi: Literatur Review M. Ghazi Al Ghifari; Ramadhan Triyandi; Afriyani; Tri Umiana Soleha; Muhammad Iqbal
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.843

Abstract

Daun sirih hijau (Piper betle L.) mengandung berbagai metabolit sekunder, seperti fenolik, flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri yang berperan sebagai antioksidan dan antibakteri alami. Efektivitas ekstrak dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan jenis pelarut, kedua faktor tersebut menentukan jenis serta jumlah senyawa bioaktif yang terekstraksi. Metode maserasi merupakan metode ekstraksi yang banyak digunakan karena mampu mempertahankan stabilitas senyawa termolabil tanpa pemanasan sehingga sesuai untuk ekstraksi metabolit sekunder daun sirih hijau. Literatur Review ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan pelarut polar dan non-polar terhadap aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak daun sirih hijau berdasarkan berbagai publikasi ilmiah akses terbuka yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelarut polar, seperti etanol dan metanol, lebih efektif dalam mengekstraksi senyawa fenolik dan flavonoid dibandingkan pelarut non-polar. Kandungan senyawa bioaktif yang lebih tinggi berkontribusi pada peningkatan aktivitas antioksidan, yang ditunjukkan oleh nilai IC₅₀ metode DPPH sebesar 44,929 µg/mL dan termasuk kategori antioksidan sangat kuat. Selain itu, ekstrak daun sirih hijau menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram-positif, seperti Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Streptococcus mutans, serta bakteri Gram-negatif, seperti Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Berdasarkan hasil kajian, pelarut polar terutama etanol dan metanol secara konsisten menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan dan antibakteri yang lebih tinggi dibandingkan pelarut non-polar. Dengan demikian, pemilihan pelarut yang tepat menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan potensi daun sirih hijau sebagai sumber antioksidan dan antibakteri alami.
Korelasi Kadar Total Fenolik terhadap Kapasitas Penghambatan Reactive Oxygen Species: Studi Tinjauan Literatur Dhia Gina Alifah; Zulpakor Oktoba; Femmy Andrifianie; Afriyani
Jurnal Teknologi dan Sains Modern Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jtsm.v3i4.867

Abstract

Reactive Oxygen Species (ROS) merupakan radikal bebas yang memicu stres oksidatif dan berkontribusi terhadap penuaan seluler serta berbagai penyakit degeneratif. Senyawa fenolik dari tumbuhan memiliki aktivitas antioksidan yang mampu menghambat pembentukan maupun aktivitas ROS. Artikel ini bertujuan menganalisis hubungan antara Kadar Total Fenolk dan kapasitas penghambatan ROS melalui studi literatur pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci Total Phenolic Content, ROS Scavenging, Oxidative Stress, dan Antioxidant. Artikel penelitian berbahasa Indonesia dan Inggris yang diterbitkan pada periode 2017–2026 diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 10 artikel untuk dianalisis secara sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa TPC umumnya berkorelasi positif dengan aktivitas penghambatan ROS, meskipun hubungan tersebut tidak selalu linear. Aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh kadar TPC, struktur senyawa fenolik, jumlah dan posisi gugus hidroksil, serta mekanisme Hydrogen Atom Transfer (HAT), Single Electron Transfer (SET), kelasi ion logam transisi, dan aktivasi jalur Nrf2/ARE. Pada konsentrasi tertentu, peningkatan TPC dapat mengalami plateau effect akibat keterbatasan stoikiometri, agregasi molekul, dan potensi sifat prooksidan. Disimpulkan bahwa TPC merupakan indikator penting kapasitas antioksidan, namun efektivitas penghambatan ROS juga dipengaruhi oleh karakteristik struktur senyawa fenolik dan mekanisme biologis yang terlibat. Kajian ini mendukung SDGs Tujuan 3 (Good Health and Well-being) melalui pengembangan antioksidan alami untuk pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.