Diare masih menjadi masalah kesehatan utama pada balita dan berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan. Di wilayah kerja Puskesmas Meomeo Kota Baubau yang melayani 19.303 jiwa dengan jumlah balita sebanyak 1.706, tercatat 124 kasus diare pada balita selama periode 2024–2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan sanitasi dasar rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Meomeo Kota Baubau. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan pada November–Desember 2025. Sampel berjumlah 95 balita usia 12–59 bulan yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Variabel penelitian meliputi kualitas dan ketersediaan air bersih, kepemilikan dan kelayakan jamban sehat, sistem pembuangan limbah cair rumah tangga, serta pengelolaan sampah rumah tangga. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Prevalence Ratio (PR) dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas dan ketersediaan air bersih (PR=6,60; 95%CI=4,09–10,66; p<0,001), kepemilikan dan kelayakan jamban sehat (PR=10,14; 95%CI=3,88–26,53; p<0,001), sistem pembuangan limbah cair rumah tangga (PR=10,66; 95%CI=4,52–25,13; p<0,001), serta pengelolaan sampah rumah tangga (PR=6,60; 95%CI=4,09–10,66; p<0,001) dengan kejadian diare pada balita. Disimpulkan bahwa seluruh komponen sanitasi dasar rumah tangga berhubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita. Peningkatan akses air bersih, perbaikan jamban sehat, pengelolaan limbah cair, dan pengelolaan sampah rumah tangga perlu diperkuat untuk menurunkan kejadian diare pada balita.