Moh. Syafi
Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MANAJEMEN SANTRI USIA DINI: STUDI KOMPARATIF PESANTREN INDONESIA DAN MALAYSIA Muhammad Fatah Dhya Ulchaq; Moh. Syafi
JISPE Journal of Islamic Primary Education Vol. 7 No. 01 (2026): JISPE Journal of Islamic Primary Education
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/jispe.v7i01.1483

Abstract

Sekolah berasrama Islam semakin banyak menerima siswa usia dini bersamaan dengan siswa usia remaja. Kehadiran siswa usia dini membutuhkan praktik pengelolaan siswa yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan pengelolaan siswa usia dini di Pondok Pesantren Darussalam Magelang, Indonesia, dan Ma'had Tahfiz Vokasional Aman Bistari, Malaysia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi komparatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, termasuk reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lembaga tersebut memiliki tujuan yang serupa dalam menumbuhkan karakter religius, kemandirian, dan disiplin di antara siswa sejak usia dini. Namun, terdapat perbedaan dalam layanan pendidikan dan pendekatan pengembangan. Pondok Pesantren Darussalam menekankan pembiasaan terhadap kehidupan sekolah berasrama tradisional melalui pengasuhan intensif dan pengajaran agama dasar, sedangkan Ma'had Tahfiz Vokasional Aman Bistari mengintegrasikan pendidikan hafalan Al-Quran dengan pengembangan keterampilan kejuruan secara bertahap. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan siswa usia dini di sekolah berasrama Islam harus mengakomodasi kebutuhan perkembangan anak sambil tetap mempertahankan karakteristik khas lembaga pendidikan Islam.
SPIRITUAL PRAGMATICS CIVILIZATION MODEL (SPCM): MODEL PERADABAN BERBASIS SPIRITUALITAS UZBEKISTAN UNTUK PENGUATAN KARAKTER DI PENDIDIKAN DASAR Joni; Moh. Syafi; Andrian Gandi Wijanarko
JISPE Journal of Islamic Primary Education Vol. 7 No. 01 (2026): JISPE Journal of Islamic Primary Education
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/jispe.v7i01.1484

Abstract

Modern civilization presents a paradox in which technological advancement and material prosperity are accompanied by moral decline, social fragmentation, spiritual disorientation, and ecological degradation. This study aims to analyze the practical spirituality of Uzbek society through the principles of Hosh Dar Dam, Dast ba-kār wa Dil ba-yār, and Hashar, and to develop the Spiritual Pragmatics Civilization Model (SPCM) as a conceptual framework for strengthening character education in primary education. The study employed an interpretive qualitative approach using a comparative ethnopragmatic design conducted in Uzbekistan and Indonesia. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document analysis, and were analyzed using open coding, ethnopragmatic analysis, comparative civilization analysis, and conceptual model construction. The findings reveal that practical spirituality functions as an internal moral regulatory mechanism through spiritual awareness, work ethics, social solidarity, and ecological responsibility. The principle of Hosh Dar Dam cultivates moral awareness, Dast ba-kār wa Dil ba-yār integrates productivity with spirituality, while Hashar strengthens social cohesion and ecological responsibility. The novelty of this study lies in the development of the Spiritual Pragmatics Civilization Model (SPCM), which systematically integrates these four dimensions into a conceptual framework for strengthening character education. The proposed model contributes theoretically to the advancement of spirituality-based educational studies and offers practical implications for enhancing character education and promoting sustainable development in Indonesia