Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN OSTEOARTHRITIS LANJUT USIA WANITA DI PUSKESMAS CAKRANEGARA KOTA MATARAM TAHUN 2016 Gumangsari Gita Ni Made Gita Ni Made Ni Made
JURNAL BIDANG ILMU KESEHATAN Vol 7, No 2 (2017): Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.676 KB) | DOI: 10.52643/jbik.v7i2.92

Abstract

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Jumlah kasus Osteoarthritis di puskesmas Cakranegara Kota Mataram  mencapai 46,1 % arthritis pada Lanjut usia wanita. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan Osteoarthritis lanjut usia wanita di Puskesmas Cakranegara Kota Mataram tahun 2016. penelitian ini menggunakan survey analitik dengan rancangan cross sectional, dengan Populasi adalah seluruh lansia wanita yang mengalami arthritis di wilayah kerja Puskesmas Cakranegara kota Mataram sebanyak 380 orang. Teknik pengambilan sampel accidental sampling dengan  sampel sebanyak 77 orang, menggunakan Analisis univariat, bivariat (chi square) dan multivariat (regresi logistik). Hasil akhir penelitian menunjukkan faktor olahraga nilai p 0,000, OR 14,507, pekerjaan  p 0,000, OR 13,0950, umur p 0,081, OR 3,484, istirahat p 0,098, OR 3,034.  Kesimpulan penelitian ini faktor yang dominan berhubungan dengan kejadian osteoarthritis adalah olahraga, dan sebagai faktor perancu istirahat dan umur. Saran diperlukan upaya memberi pelayanan kesehatan untuk pelatihan  olah raga yang baik dan memberikan pekerjaan yang sesuai agar lansia dapat tercegah dari osteo atrhitis dan mengurangi kesakitan karena OA.                                                                                                                         Kata Kunci:  olah raga, pekerjaan, Osteoarthritis Wanita lanjut usia
HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN OSTEOARTHRITIS LANJUT USIA WANITA DI PUSKESMAS CAKRANEGARA KOTA MATARAM TAHUN 2016 Gumangsari Gita Ni Made
JURNAL BIDANG ILMU KESEHATAN Vol 7, No 2 (2017): Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.676 KB) | DOI: 10.52643/jbik.v7i2.34

Abstract

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Jumlah kasus Osteoarthritis di puskesmas Cakranegara Kota Mataram  mencapai 46,1 % arthritis pada Lanjut usia wanita. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan Osteoarthritis lanjut usia wanita di Puskesmas Cakranegara Kota Mataram tahun 2016. penelitian ini menggunakan survey analitik dengan rancangan cross sectional, dengan Populasi adalah seluruh lansia wanita yang mengalami arthritis di wilayah kerja Puskesmas Cakranegara kota Mataram sebanyak 380 orang. Teknik pengambilan sampel accidental sampling dengan  sampel sebanyak 77 orang, menggunakan Analisis univariat, bivariat (chi square) dan multivariat (regresi logistik). Hasil akhir penelitian menunjukkan faktor olahraga nilai p 0,000, OR 14,507, pekerjaan  p 0,000, OR 13,0950, umur p 0,081, OR 3,484, istirahat p 0,098, OR 3,034.  Kesimpulan penelitian ini faktor yang dominan berhubungan dengan kejadian osteoarthritis adalah olahraga, dan sebagai faktor perancu istirahat dan umur. Saran diperlukan upaya memberi pelayanan kesehatan untuk pelatihan  olah raga yang baik dan memberikan pekerjaan yang sesuai agar lansia dapat tercegah dari osteo atrhitis dan mengurangi kesakitan karena OA.
PEMBINAAN KEGIATAN YOGA PADA WANITA MENOPAUSE HIPERTENSI DI LINGKUNGAN BENDEGA Isviyanti Isviyanti; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Ni Made Gita Gumangsari; Diana Hidayati; Amelia Kandisa; Ni Luh Budi Astuti; Adib Ahmad Shammakh
SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 3, No 2 (2020): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.559 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v3i2.1644

Abstract

ABSTRAKHipertensi dapat dialami oleh semua kalangan usia, terutama pada usia paruh baya. Beberapa permasalahan yang dihadapi meliputi: 1. Masih tingginya jumlah wanita menopause dengan hipertensi di lingkungan Bendega wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang. 2. Kurangnya informasi masalah pola hidup sehat yang dapat mencegah penyakit hipertensi. 3. Kurangnya kegiatan rutin atau aktivitas fisik yang dilakukan untuk penangulangan hipertensi pada wanita menopause 4. Belum adanya sosialisasi mengenai aktivitas fisik yoga dalam membantu menurunkan tekanan darah pada wanita menopause. Solusi yang dapat ditawarkan meliputi: 1. Pelatihan dan pendampingan aktivitas fisik yoga untuk mengurangi tekanan darah (hipertensi) pada wanita manupause. 2. Melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai aktivitas fisik yoga dalam membantu menurunkan tekanan darah pada wanita menupause. 3. Pembagian booklet & CD yoga sebagai panduan pelaksanaan yoga di rumah. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat adalah wanita menopause (umur 40-60 tahun), mampu melakukan gerakan yoga, hipertensi (tekanan darah sistolik ≥140 mmHg, diastolic ≥ 90 mmHg) dan tinggal di  lingkungan Bendega. Kegiatan pengabdian ini menggunakan teknik penyuluhan tentang hipertensi dan yoga yaitu dengan menggunakan teknik ceramah, diskusi dan simulasi gerakan yoga dengan media sosialisasi berupa video dan booklet dilanjutkan dengan berlatih yoga bersama. Para peserta diberikan arahan tentang teknik gerakan dan manfaat dari gerakan-gerakan tersebut. Selain itu, mereka diajarkan pola hidup sehat untuk mencegah dan menanggulangi hipertensi. Dari kegiatan masyarakat yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa hasil pengukuran tekanan darah sebelum latihan fisik yoga dan setelah latihan yoga mengalami perubahan. Dari 20 peserta kegiatan pengabdian masyarakat, rata-rata peserta mengalami penurunan sistol 20 mmHg dan diastole 10 mmHg. Kata kunci: hipertensi; menopause; yoga. ABSTRACTHypertension can be occurred in any age. Some of the problems faced include: 1. The high number of menopausal women with hypertension in the Bendega 2. Lack of information on healthy lifestyle problems that can prevent hypertension. 3. Lack of routine activities or physical activities undertaken to overcome hypertension in menopausal women 4. There is no socialization regarding physical activity of yoga in helping to reduce blood pressure in menopausal women. Solutions that can be offered include: 1. Training and mentoring physical activity of yoga to reduce blood pressure (hypertension) in postmenopausal women. 2. Socializing and counseling about the physical activity of yoga in helping to reduce blood pressure in menopausal women. 3. Distribution of yoga booklets & CDs as a guide to implementing yoga at home. The target community service activities are menopausal women (aged 40-60 years), able to do yoga movements, hypertension (systolic blood pressure ≥140 mmHg, diastolic ≥ 90 mmHg) and live in the Bendega environment. This dedication activity uses counseling techniques about hypertension and yoga that is by using lecture, discussion and yoga movement simulation techniques with media socialization in the form of videos and booklets followed by practicing yoga together. Participants are given direction about movement techniques and the benefits of these movements. In addition, they are taught a healthy lifestyle to prevent and treat hypertension. From the community activities that have been carried out, it shows that the results of blood pressure measurements before the physical exercise of yoga and after the practice of yoga have changed. From 20 participants of community service activities, the average participant experienced a decrease in systole of 20 mmHg and diastole of 10 mmHg. Keywords: hypertension; menopause; yoga.
SOSIALISASI BUDIDAYA TOGA DI LAHAN TERBATAS DENGAN VERTICAL GARDEN UNTUK MENUNJANG PRIMARY HEALTH CARE DALAM UPAYA PENCEGAHAN COVID-19 DI LINGKUNGAN BENDEGA I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Isviyanti Isviyanti; Ni Made Gita Gumangsari; Diana Hidayati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 4, No 1 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.033 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v4i1.3378

Abstract

ABSTRAKSalah satu peran keluarga dalam Primary Health Care (PHC) yaitu penyediaan tanaman obat keluarga (toga) dalam apotek hidup sebagai bahan baku utama dalam manajemen pencegahan dan penanganan penyakit termasuk COVID-19. Lingkungan Bendega merupakan salah satu lingkungan yang ada di Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lingkungan Bendega terbilang lingkungan yang padat penduduk. Luas pekarangan di masing-masing KK di Lingkungan Bendega, rata-rata kurang memadai untuk dijadikan lahan bercocok tanam. Kurangnya ruang terbuka hijau dan kawasan padat penduduk menyebabkan sanitasi di Lingkungan Bendega menjadi kurang diperhatikan. Terlebih di saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Pada umumnya remaja di lingkungan Bendega tersebut mempunyai banyak waktu karena aktivitas pembelajaran yang belum secara tatap muka dan Ibu-ibu rata-rata bekerja sebagai pedagang sehingga dari sore sampai malam hari dapat digunakan waktunya untuk mengikuti sosialisasi. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam menanam dan mengolah jenis toga yang secara ilmiah berfungsi mencegah COVID-19, serta menyebarluaskan informasi tentang cara menanam toga di lahan terbatas guna mewujudkan apotek hidup mandiri dengan teknik vertical garden. Metode pelaksanaan: survei lokasi, pengurusan izin, pendataan lahan dan inventarisasi, pengumpulan bahan baku, pembuatan poster & penyuluhan, sosialisasi teknik budidaya & pengolahan tanaman toga, evaluasi kegiatan, dokumentasi dan pelaporan. Dari hasil kegiatan, didapatkan sebanyak 90 % mitra mengalami peningkatan pengetahuan tentang tanaman toga. Mitra memperoleh keterampilan baru dalam bercocok tanam dengan teknik vertical garden. Kata kunci: Bendega; COVID-19; herbal; toga; vertical garden  ABSTRACTOne of the roles of families in Primary Health Care (PHC) is the provision of family medicinal plants (toga) in living pharmacies as the main raw material in the management of prevention and management of diseases including COVID-19. Bendega neighborhood is one of the neighborhoods in Tanjung Karang Village, Sekarbela District, Mataram City, West Nusa Tenggara Province. Bendega is a densely populated environment. The area of yards in each household in the Bendega neighborhood is inadequate to be used as land for cultivation. Lack of green open space and densely populated areas causes sanitation in the Bendega Neighborhood to be less attention. Especially during the COVID-19 pandemic like now. In general, adolescents in the Bendega neighborhood have a lot of time because the learning activities are doing not face-to-face and the average mothers work as traders so that from the afternoon until the evening they can use the time to attend the socialization. The aim of this community service activity is to increase the knowledge and skills of partners in planting and processing types of toga that scientifically function to prevent COVID-19, as well as disseminating information about how to grow toga in limited land in order to create independent living pharmacies with vertical garden techniques. Methods of implementation: survey, permition, land data collection and inventory, collection of raw materials, making posters & counseling, socialization of toga cultivation & processing techniques, evaluation of activities, documentation and reporting. From the results of the activity, an increase in knowledge about toga was obtained by 90% sample. The object groups acquire new skills in farming with vertical garden techniques. Keywords: Bendega; COVID-19; herbs; toga; vertical garden
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR (WUS) TENTANG DETEKSI DINI KANKER LEHER RAHIM DENGAN METODE INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (IVA)DI DUSUN JATI IRENG DESA JATI SELAKECAMATAN GUNUNG SARI TAHUN 2017 Ni Made Gita Gumangsari; Purnama Lindasari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 2 (2018): Juni 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumor ganas yang menyerang leher rahim yang disebabkan virus Human Papilloma Virus (HPV).Di wilayah kerja UPT BLUD Puskesmas Gunungsari program Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) . Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptifdengan menggunakan desain penelitiancross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu 81wanita usia subur di Wilayah kerja UPT BLUD Puskesmas Gunungsari Tahun 2017. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner.Dari Hasil penelitian ini diperoleh bahwa tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)yaitu sebagian besar responden termasuk dalam kategori pengetahuan cukup sebanyak 58,02%. Walaupun sebagian besar responden berpengetahuan cukup, namun tingkat pemahaman responden khususnya pada Jadwal dan syarat pemeriksaan IVA masih tergolong kurang. Dari hasil Penelitian dapat di simpulkan Tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)dalam kategori cukup. Disarankan pada UPT BLUD Puskesmas Gunungsari untuk memberikan penyuluhan dan promosi kesehatan pada Wanita Usia Subur tentang Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)
Knowledge and Behavior regarding Consumption of Herbal Galactagogues among Breastfeeding Women in Mataram City I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Ni Made Gita Gumangsari; I Gde Adi Suryawan Wangiyana
EMBRIO: Jurnal Kebidanan Vol 15 No 1 (2023): EMBRIO: Jurnal Kebidanan (MAY)
Publisher : Program Studi S1 Kebidanan - Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/embrio.v15i1.6199

Abstract

Mataram city occupied the region with the lowest coverage of exclusive breastfeeding in West Nusa Tenggara in 2022. One of the causes of the failure of exclusive breastfeeding is the lack of breast milk production. Galactagogues are substances that can increase breast milk production. A relatively safe alternative to support breast milk production is to consume herbs containing galactagogues. It is essential to trace local culture, knowledge, and behavior regarding herbal galactagogues to get insight into the types of galactagogues, their properties as well as side effects. Scientific studies are required to be used as a reference for breastfeeding women. This study aims to describe knowledge and behavior of breastfeeding women regarding the consumption of galactagogues. The study applied mixed-method design with a cross-sectional approach to conduct a survey on knowledge and behavior regarding consumption of herbal galactagogues. Data were collected by distributing questionnaires to respondents who were selected based on inclusion criteria, namely breastfeeding women with children aged 0 to 6 months, domiciled in the city of Mataram and registered at the Community Health Center in the city of Mataram, as many as 124 people. It was found that most of respondent had a poor level of knowledge by 62.1 percent, while 37.1percent of them had good consumption behavior of herbal galactagogues. It can be concluded that generally, the people of Mataram City consumed herbal galactagogues more often based on empirical evidence from generation to generation. Thus, additional information regarding variations of other herbal galactagogues is required to support exclusive breastfeeding coverage.
Mengurangi Ketidaknyaman dalam Kehamilan dengan Prenatal Gentle Yoga di Desa Batu Mekar Isviyanti, Isviyanti; Gustiya, Sherly Dwi; Gumangsari, Ni Made Gita; Mayasari, Astri; Astuti, Ni Luh Budi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstormin
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/japhb.v7i2.6752

Abstract

Seiring dengan perkembangan dunia teknologi, ibu hamil banyak memeriksakan diri ke dokter Sp.OG dibandingkan dengan bidan. Ibu hamil juga mulai memilih untuk melakukan persalinan secara Caesar dibandingkan pervaginam. Pergeseran peran bidan dan kader kini hanya sebagai pendamping dalam kehamilan dan persalinan. Hal inilah yang mendorong Klinik Bumi Sehat mengenalkan upaya- upaya pendekatan yang lebih humanis dalam persalinan dan mengembalikan kodrat seorang ibu untuk bisa nyaman dalam kehamilan dan persalinan. Dalam melakukan asuhan kehamilan hendaknya tenaga kesehatan melakukan pendekatan komplementer agar dapat memberikan pemahaman kepada para warga bahwa bersalin ataupun berobat di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan akan lebih efektif. Kegiatan ini diawali dengan membagikan kuesioner tentang ketidaknyamanan selama kehamilan dan pengetahuan tentang prenatan yoga kepada ibu hamil, penyuluhan tentang macam-macam ketidaknyamanan selama kehamilan dan cara mengatasinya serta menjelaskan tentang prenatal yoga. Kemudian pada hari berikutnya dilanjutkan dengan pelaksanaan prenatal yoga yang diikuti oleh 10 ibu hamil dilakukan sebanyak 2 kali dengan durasi setiap pertemuan selama 60-90 menit yang dipimpin oleh instruktur yoga yang bersertifikat. Pelaksanaan kegiatan hari terakhir tim kembali membagikan kuesioner untuk mengetahui hasil setelah dilakukan kegiatan tersebut. Setelah dilakukan kegiatan prenatal yoga didapatkan sebanyak 86,2% dari peserta mengatakan bahwa ketidaknyamanan yang dirasakan berkurang.Gerakan prenatal gentle yoga sangat baik dilakukan oleh ibu selama kehamilannya karena dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan serta dapat mempersiapkan ibu untuk proses persalinannya nanti.
Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Anemia untuk Menurunkan Risiko Stunting di Desa Cikawao Isviyanti, Isviyanti; Triandini, I Gusti Agung Ayu Hari; Hairani, Hairani; Gumangsari, Ni Made Gita; Hidayati, Diana; Gustiya, Sherly Dwi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2172

Abstract

Artikel ini melaporkan hasil dari sebuah program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi risiko stunting melalui edukasi pencegahan pernikahan dini di Desa Cikawao tepatnya di SMPN 2 Pacet dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Program ini memberikan informasi tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan ibu dan anak serta menawarkan solusi untuk mengatasi masalah stunting dengan mengkonsumsi tablet Fe dan edukasi kesehatan reproduksi untuk pencegahan pernikahan dini. Penilaian dilakukan melalui survei awal dan akhir program untuk mengukur perubahan pengetahuan remaja. Dari hasil perbandingan pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi sebesar 16.83%. Terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan pada siswa pada materi yang diberikan. Dengan demikian edukasi dinilai efektif dalam mengubah persepsi tentang pernikahan dini. Education on the Prevention of Early Marriage and Anemia to Reduce the Risk of Stunting in Cikawao Village Abstract This article reports the results of a community service program which aims to reduce the risk of stunting through education on preventing early marriage in Cikawao Village, specifically at SMPN 2 Pacet using a participatory approach. This program provides information about the impact of early marriage on maternal and child health and offers solutions to overcome the problem of stunting by consuming Fe tablets and reproductive health education to prevent early marriage. Assessments are carried out through surveys at the beginning and end of the program to measure changes in youth knowledge. From the results of the pre-test and post-test comparison, it shows that there is an increase in knowledge before and after education (16,83%). There is a significant difference between the level of knowledge before and after counseling students on the material provided. Thus, education is considered effective in changing perceptions about early marriage.
Hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi (0-12 bulan) di Dusun Endut Desa Batu Mekar Gumangsari, Ni Made Gita; Isviyanti, Isviyanti; Hidayati, Diana
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.601

Abstract

Background: Eczema is a chronic, inflammatory and recurrent skin disease, characterized by a person's skin becoming red, inflamed, and itchy. Eczema is one type of disease that often occurs in children ranging from the age of 6 months to 5 years. In 2021, eczema increased again by around 59,395 cases and was ranked 5th in West Nusa Tenggara (NTB) Province. In Endut Hamlet, there were 30 cases of babies with eczema ranging from 0-12 months of age. Purpose: To determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Method: Descriptive research with a quantitative approach to determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months in 2003 in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. The population in this study were 30 mothers who had babies aged 0-12 months. Sampling used total sampling method so that 30 babies became respondents. The dependent variables consisted of hair cleanliness, hand-nail-toenail cleanliness, clothing cleanliness, skin cleanliness, towel cleanliness and bed and bed linen cleanliness. While environmental sanitation consisted of clean water facilities, waste disposal facilities and healthy toilet facilities. The independent variable was the incidence of eczema in babies aged 0-12 months, which was assessed by subjective observation. Data were analyzed using the chi square test with an alpha value of 0.05 (95%). Results: Respondent data shows that most of the environmental cleanliness and sanitation levels are in the poor category. The significance of hair cleanliness levels on eczema cases obtained pValue=0.023. The significance of respondents' hand, foot and nail cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of respondents' skin cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.042. The significance of respondents' clothing cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of towels cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.002. While the significance for bed cleanliness levels with eczema cases and obtained pValue=0.042. And with a p value of 0.023 for clean water facilities and a p value of 0.010 for waste disposal facilities/healthy toilet facilities, it shows that there is a significant relationship between clean water facilities, waste disposal facilities, and healthy toilet facilities and the occurrence of eczema in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. Conclusion: Environmental sanitation, cleanliness of equipment and supporting facilities for cleanliness are factors that influence the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Healthy lifestyles and supporting facilities for cleanliness are dominant factors in preventing the occurrence of eczema. Suggestions: This activity and research is expected to provide increased knowledge, especially regarding the implementation of a healthy lifestyle and maintaining environmental sanitation to prevent eczema and the results of this study can be a reference in further research by adding other variables in testing such as other variables such as eye hygiene, nose hygiene, oral and dental hygiene and genital hygiene. Keywords: Eczema; Environmental sanitation; Infants; Personal hygiene; Skin Pendahuluan: Eksim merupakan penyakit kulit kronik, inflamatif dan dapat muncul kembali, yang ditandai kulit seseorang menjadi merah, meradang, dan terasa gatal. Penyakit eksim salah satu jenis penyakit yang sering terjadi pada usia anak-anak mulai dari usia anak 6 bulan pertama sampai 5 tahun. Pada tahun 2021 penyakit Eksim meningkat lagi sekitar 59.395 kasus dan masuk ke dalam peringkat ke-5 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Dusun Endut sebanyak 30 kasus bayi yang terkena eksim mulai dari usia 0-12 bulan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian panyakit eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi usia 0-12 bulan pada tahun 2003 di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat..  Populasi dalam penelitian ini adalah 30 ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan. Pengambilan sampel menggunakan cara total sampling sehingga mendapatkan 30 bayi menjadi responden. Variabel dependen terdiri atas kebersihan rambut, kebersihan tangan-kuku-kaki, kebersihan pakaian, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan tempat tidur serta sprei. Sedangkan sanitasi lingkungan terdiri atas sarana air bersih, sarana pembuangan sampah dan sarana jamban sehat. Variabel independennya adalah kejadian eksim pada bayi usia 0-12 bulan, yang dinilai dengan observasional subyektif. Data dianalisa dengan uji chi square dengan nilai alpha 0.05 (95%).   Hasil: Data responden menunjukkan sebagian besar tingkat kebersihan dan sanitasi lingkungan dalam kategori buruk. Signifikansi  tingkat kebersihan rambut terhadap kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Signifikansi tingkat kebersihan tangan, kaki dan kuku responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan kulit responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.042. Signifikansi tingkat kebersihan pakaian responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan handuk dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.002. Sedangkan signifikansi untuk tingkat kebersihan tempat tidur dengan kejadian dan mendapatkan pValue=0.042. Dan dengan nilai p value sebesar 0.023 untuk sarana air bersih dan p value sebesar 0.010 untuk sarana pembuangan sampah/sarana jamban sehat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih, sarana pembuangan sampah, dan sarana jamban yang sehat terhadap timbulnya pernyakit eksim di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupatan Lombok Barat. Simpulan: Sanitasi lingkungan, kebersihan perlengkapan dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang berpengaruh terhadap kejadian eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Pola hidup sehat dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang dominan dalam mencegah timbulnya kejadian eksim. Saran: Kegiatan dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan peningkatan pengetahuan khususnya mengenai penerapkan pola hidup sehat dan menjaga sanitasi ligkungan untuk mencegah terjadinya eksim dan hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan di penelitian lanjutan dengan menambahkan variabel lain dalam pengujian seperti variabel lainnya seperti  kebersihan mata, kebersihan hidung, kebersihan mulut dan gigi serta kebersihan genetalia.
PENGUATAN PERAN POSYANDU KELUARGA DI LINGKUNGAN ASAHAN KELURAHAN TANJUNG KARANG PERMAI KOTA MATARAM Gumangsari, Ni Made Gita; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Isviyanti; Hairani; Hidayati, Diana; Gustiya, Sherly Dwi
MONSU'ANI TANO Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32529/tano.v8i2.4233

Abstract

Posyandu Keluarga merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat yang memadukan layanan ibu hamil, balita, lansia, dan remaja dalam satu wadah. Namun, di Lingkungan Asahan, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, peran Posyandu Keluarga belum optimal karena terbatasnya kapasitas kader dan rendahnya partisipasi masyarakat serta fasilitas yang belum memadai. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat peran Posyandu Keluarga melalui pelatihan kader, edukasi kesehatan, dan pendampingan program terpadu. Metode yang digunakan adalah penyuluhan, pelatihan keterampilan dasar kesehatan, serta simulasi layanan terpadu kepada kader dan warga. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader sebesar 45% berdasarkan pre-test dan post-test, peningkatan jumlah kunjungan keluarga ke Posyandu sebesar 30%, serta meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan promosi kesehatan. Kegiatan ini membuktikan bahwa penguatan kapasitas kader dan kolaborasi dengan warga merupakan strategi efektif dalam mengoptimalkan peran Posyandu Keluarga. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan keluarga secara berkelanjutan