Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PEMBINAAN KADER DALAM ASUHAN MANDIRI TOGA DI BENDEGA I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Hairani Hairani; Diana Hidayati; Widhya Aligita; Nur Intan Hayati; Soni Muhsinin; ED. Yunisa Mega Pasha
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 5, No 1 (2021): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v5i1.6266

Abstract

Primary Health Care (PHC) adalah kontak pertama individu, keluarga, atau masyarakat  dengan sistem pelayanan kesehatan. PHC bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 (tiga) strategi utama, yaitu kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi. Salah satu peran keluarga dalam PHC yaitu TOGA dalam apotek hidup sebagai bahan baku utama dalam manajemen pencegahan dan penanganan penyakit termasuk yang berhubungan dengan gejala COVID-19. Kader Posyandu yang sehari-harinya berinteraksi dalam mendampingi ibu dalam membangun kesehatan keluarga juga menjadi sosok yang berperan dalam program asuhan mandiri keluarga yang telah dicanangkan pemerintah dalam perwujudan PHC tersebut. TABSTRAKPrimary Health Care (PHC) adalah kontak pertama individu, keluarga, atau masyarakat  dengan sistem pelayanan kesehatan. PHC bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 (tiga) strategi utama, yaitu kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi. Salah satu peran keluarga dalam PHC yaitu TOGA dalam apotek hidup sebagai bahan baku utama dalam manajemen pencegahan dan penanganan penyakit termasuk yang berhubungan dengan gejala COVID-19. Kader Posyandu yang sehari-harinya berinteraksi dalam mendampingi ibu dalam membangun kesehatan keluarga juga menjadi sosok yang berperan dalam program asuhan mandiri keluarga yang telah dicanangkan pemerintah dalam perwujudan PHC tersebut. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini adalah untuk melakukan perekrutan kader TOGA pada mitra, sosialisasi tupoksi kader serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah jenis TOGA yang secara ilmiah berfungsi mencegah COVID-19. Metode pelaksanaan: survei lokasi, pengurusan izin, penyuluhan, sosialisasi teknik pengolahan tanaman TOGA, evaluasi kegiatan, dokumentasi dan pelaporan. Kegiatan dilaksanakan secara daring dan luring. Dari hasil kegiatan, telah dibentuk suatu wadah kader TOGA di lingkungan Bendega yang berfungsi dalam mengembangkan pelayanan kesehatan primer di lingkungan Bendega melalui pengembangan tanaman obat keluarga. Kata kunci: bendega; covid-19; kader, TOGA. ABSTRACTPrimary Health Care (PHC) is an individual, family, or community's first contact with the health care system. PHC aims to increase public access to quality health services. In Indonesia, PHC has 3 (three) main strategies, namely multisectoral cooperation, community participation, and application of technology. One of the roles of the family in PHC is TOGA in living pharmacies as the main raw material in the management of prevention and treatment of diseases, including those related to the symptoms of COVID-19. Posyandu cadres who interact daily in assisting mothers in building family health are also figures who play a role in the family self-care program that has been launched by the government in the realization of the PHC. The purpose of this community service activity is to recruit TOGA cadres to partners, socialize the main tasks of cadres and increase the knowledge and skills of partners in processing TOGA types which scientifically function to prevent COVID-19. Methods of implementation: site survey, permit processing, counseling, socialization of TOGA plant processing techniques, evaluation of activities, documentation and reporting. Activities are carried out online and offline. From the results of the activity, a TOGA cadre forum has been established in the Bendega environment which functions in developing primary health services in the Bendega environment through the development of family medicinal plants. Keywords: bendega; covid-19; cadre; TOGA.ujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini adalah untuk melakukan perekrutan kader TOGA pada mitra, sosialisasi tupoksi kader serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah jenis TOGA yang secara ilmiah berfungsi mencegah COVID-19. Metode pelaksanaan: survei lokasi, pengurusan izin, penyuluhan, sosialisasi teknik pengolahan tanaman TOGA, evaluasi kegiatan, dokumentasi dan pelaporan. Kegiatan dilaksanakan secara daring dan luring. Dari hasil kegiatan, telah dibentuk suatu wadah kader TOGA di lingkungan Bendega yang berfungsi dalam mengembangkan pelayanan kesehatan primer di lingkungan Bendega melalui pengembangan tanaman obat keluarga.  
PEMBINAAN KEGIATAN YOGA PADA WANITA MENOPAUSE HIPERTENSI DI LINGKUNGAN BENDEGA Isviyanti Isviyanti; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Ni Made Gita Gumangsari; Diana Hidayati; Amelia Kandisa; Ni Luh Budi Astuti; Adib Ahmad Shammakh
SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 3, No 2 (2020): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.559 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v3i2.1644

Abstract

ABSTRAKHipertensi dapat dialami oleh semua kalangan usia, terutama pada usia paruh baya. Beberapa permasalahan yang dihadapi meliputi: 1. Masih tingginya jumlah wanita menopause dengan hipertensi di lingkungan Bendega wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang. 2. Kurangnya informasi masalah pola hidup sehat yang dapat mencegah penyakit hipertensi. 3. Kurangnya kegiatan rutin atau aktivitas fisik yang dilakukan untuk penangulangan hipertensi pada wanita menopause 4. Belum adanya sosialisasi mengenai aktivitas fisik yoga dalam membantu menurunkan tekanan darah pada wanita menopause. Solusi yang dapat ditawarkan meliputi: 1. Pelatihan dan pendampingan aktivitas fisik yoga untuk mengurangi tekanan darah (hipertensi) pada wanita manupause. 2. Melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai aktivitas fisik yoga dalam membantu menurunkan tekanan darah pada wanita menupause. 3. Pembagian booklet & CD yoga sebagai panduan pelaksanaan yoga di rumah. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat adalah wanita menopause (umur 40-60 tahun), mampu melakukan gerakan yoga, hipertensi (tekanan darah sistolik ≥140 mmHg, diastolic ≥ 90 mmHg) dan tinggal di  lingkungan Bendega. Kegiatan pengabdian ini menggunakan teknik penyuluhan tentang hipertensi dan yoga yaitu dengan menggunakan teknik ceramah, diskusi dan simulasi gerakan yoga dengan media sosialisasi berupa video dan booklet dilanjutkan dengan berlatih yoga bersama. Para peserta diberikan arahan tentang teknik gerakan dan manfaat dari gerakan-gerakan tersebut. Selain itu, mereka diajarkan pola hidup sehat untuk mencegah dan menanggulangi hipertensi. Dari kegiatan masyarakat yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa hasil pengukuran tekanan darah sebelum latihan fisik yoga dan setelah latihan yoga mengalami perubahan. Dari 20 peserta kegiatan pengabdian masyarakat, rata-rata peserta mengalami penurunan sistol 20 mmHg dan diastole 10 mmHg. Kata kunci: hipertensi; menopause; yoga. ABSTRACTHypertension can be occurred in any age. Some of the problems faced include: 1. The high number of menopausal women with hypertension in the Bendega 2. Lack of information on healthy lifestyle problems that can prevent hypertension. 3. Lack of routine activities or physical activities undertaken to overcome hypertension in menopausal women 4. There is no socialization regarding physical activity of yoga in helping to reduce blood pressure in menopausal women. Solutions that can be offered include: 1. Training and mentoring physical activity of yoga to reduce blood pressure (hypertension) in postmenopausal women. 2. Socializing and counseling about the physical activity of yoga in helping to reduce blood pressure in menopausal women. 3. Distribution of yoga booklets & CDs as a guide to implementing yoga at home. The target community service activities are menopausal women (aged 40-60 years), able to do yoga movements, hypertension (systolic blood pressure ≥140 mmHg, diastolic ≥ 90 mmHg) and live in the Bendega environment. This dedication activity uses counseling techniques about hypertension and yoga that is by using lecture, discussion and yoga movement simulation techniques with media socialization in the form of videos and booklets followed by practicing yoga together. Participants are given direction about movement techniques and the benefits of these movements. In addition, they are taught a healthy lifestyle to prevent and treat hypertension. From the community activities that have been carried out, it shows that the results of blood pressure measurements before the physical exercise of yoga and after the practice of yoga have changed. From 20 participants of community service activities, the average participant experienced a decrease in systole of 20 mmHg and diastole of 10 mmHg. Keywords: hypertension; menopause; yoga.
SOSIALISASI BUDIDAYA TOGA DI LAHAN TERBATAS DENGAN VERTICAL GARDEN UNTUK MENUNJANG PRIMARY HEALTH CARE DALAM UPAYA PENCEGAHAN COVID-19 DI LINGKUNGAN BENDEGA I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Isviyanti Isviyanti; Ni Made Gita Gumangsari; Diana Hidayati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 4, No 1 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.033 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v4i1.3378

Abstract

ABSTRAKSalah satu peran keluarga dalam Primary Health Care (PHC) yaitu penyediaan tanaman obat keluarga (toga) dalam apotek hidup sebagai bahan baku utama dalam manajemen pencegahan dan penanganan penyakit termasuk COVID-19. Lingkungan Bendega merupakan salah satu lingkungan yang ada di Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lingkungan Bendega terbilang lingkungan yang padat penduduk. Luas pekarangan di masing-masing KK di Lingkungan Bendega, rata-rata kurang memadai untuk dijadikan lahan bercocok tanam. Kurangnya ruang terbuka hijau dan kawasan padat penduduk menyebabkan sanitasi di Lingkungan Bendega menjadi kurang diperhatikan. Terlebih di saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Pada umumnya remaja di lingkungan Bendega tersebut mempunyai banyak waktu karena aktivitas pembelajaran yang belum secara tatap muka dan Ibu-ibu rata-rata bekerja sebagai pedagang sehingga dari sore sampai malam hari dapat digunakan waktunya untuk mengikuti sosialisasi. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam menanam dan mengolah jenis toga yang secara ilmiah berfungsi mencegah COVID-19, serta menyebarluaskan informasi tentang cara menanam toga di lahan terbatas guna mewujudkan apotek hidup mandiri dengan teknik vertical garden. Metode pelaksanaan: survei lokasi, pengurusan izin, pendataan lahan dan inventarisasi, pengumpulan bahan baku, pembuatan poster & penyuluhan, sosialisasi teknik budidaya & pengolahan tanaman toga, evaluasi kegiatan, dokumentasi dan pelaporan. Dari hasil kegiatan, didapatkan sebanyak 90 % mitra mengalami peningkatan pengetahuan tentang tanaman toga. Mitra memperoleh keterampilan baru dalam bercocok tanam dengan teknik vertical garden. Kata kunci: Bendega; COVID-19; herbal; toga; vertical garden  ABSTRACTOne of the roles of families in Primary Health Care (PHC) is the provision of family medicinal plants (toga) in living pharmacies as the main raw material in the management of prevention and management of diseases including COVID-19. Bendega neighborhood is one of the neighborhoods in Tanjung Karang Village, Sekarbela District, Mataram City, West Nusa Tenggara Province. Bendega is a densely populated environment. The area of yards in each household in the Bendega neighborhood is inadequate to be used as land for cultivation. Lack of green open space and densely populated areas causes sanitation in the Bendega Neighborhood to be less attention. Especially during the COVID-19 pandemic like now. In general, adolescents in the Bendega neighborhood have a lot of time because the learning activities are doing not face-to-face and the average mothers work as traders so that from the afternoon until the evening they can use the time to attend the socialization. The aim of this community service activity is to increase the knowledge and skills of partners in planting and processing types of toga that scientifically function to prevent COVID-19, as well as disseminating information about how to grow toga in limited land in order to create independent living pharmacies with vertical garden techniques. Methods of implementation: survey, permition, land data collection and inventory, collection of raw materials, making posters & counseling, socialization of toga cultivation & processing techniques, evaluation of activities, documentation and reporting. From the results of the activity, an increase in knowledge about toga was obtained by 90% sample. The object groups acquire new skills in farming with vertical garden techniques. Keywords: Bendega; COVID-19; herbs; toga; vertical garden
KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA DI RUANG BERSALIN RSUD KOTA MATARAMTAHUN 2016 Diana Hidayati; Hilda Handayani
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 2 (2018): Juni 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dirancanguntukdapat mengetahui bagaimana karateristik ibu bersalin dengan ketuban pecah sebelum waktunya di Ruang Bersalin RSUD Kota Mataram Tahun 2016, denganmetodepenelitianyaknimetodepenelitian deskriptif yang bersifat retrospektif. Tempat penelitian dilakukan di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram, data yang disajikan yaitu karakteristik ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dari bulan Januari-Desember 2015. Besar populasi dalam penelitian ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya yaitu 281.
KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA DI RUANG BERSALIN RSUD KOTA MATARAM TAHUN 2016 Diana Hidayati; Hilda Handayani
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 4 (2017): Desember 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dirancang untuk dapat mengetahui bagaimana karateristik ibu bersalin dengan ketuban pecah sebelum waktunya di Ruang Bersalin RSUD Kota Mataram Tahun 2016, dengan metode penelitian yakni metode penelitian deskriptif yang bersifat retrospektif. Tempat penelitian dilakukan di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram, data yang disajikan yaitu karakteristik ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dari bulan Januari-Desember 2015. Besar populasi dalam penelitian ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya yaitu 281.
Pengaruh Kombinasi Ekstrak Makroalga Terhadap Serapan Unsur Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) Pada Media Hidroponik Diana Hidayati
PENBIOS: JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI DAN SAINS Vol 2 No 01 (2017): PENBIOS: Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains, Vol. 2, No. 1, Mei 2017 ISSN 2541-
Publisher : Biology Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, University of Nahdlatul Wathan Mataram - Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui pengaruh ekstrak kombinasi makroalga terhadap serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman tomat yang ditanam pada media hidroponik (Hoagland). Penelitian eksperimental ini dilakukan di Laboratorium Imunobiologi FMIPA UNRAM dan analisis serapan unsur hara dilakukan di Laboratorium Analitik FMIPA Unram. Peneltian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu perlakuan ekstrak kombinasi makroalga. Data dianalisis dengan menggunakan analisis keragaman (ANOVA) pada taraf nyata 5%, dan untuk perlakuan yang berbeda nyata (signifikan) maka pengujian dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak kombinasi makroalga meningkatkan serapan N, P dan K serta meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang dan berat basah. Adapun perlakuan yang memberikan hasil terbaik untuk parameter serapan unsur hara N diberikan adalah perlakuan F (ekstrak kombinasi S. crasifolium dan T. murayana), dan untuk unsur hara P dan K adalah perlakuan D (ekstrak kombinasi S. cristafolium dan Hydroclahtrus sp.). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak kombinasi makroalga D dan F dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat melalui peningkatan kemampuannya untuk menyerap unsur hara. Pertumbuhan tanaman tomat baik tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang serta berat basah tanaman yang lebih baik diberikan oleh perlakuan kombinasi ekstrak D dan F. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa aplikasi ekstrak kombinasi makroalga berpengaruh terhadap serapan N, P dan K oleh tanaman tomat serta pertumbuhan tanaman tomat.
Pembinaan Kelompok Istri & Kader Posyandu Sebagai Kader Toga Di Lingkungan Bendega Dalam Upaya Primary Health Care Saat Pandemi Covid-19 I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; Hairani Hairani; Diana Hidayati; Widhya Aligita; Nur Intan Hayati; Soni Muhsinin; ED. Yunisa Mega Pasha
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kementerian Kesehatan telah mencanangkan beberapa program terkait pengembangan kesehatantradisional melalui teknologi tanaman obat keluarga (TOGA) yaitu saintifikasi jamu, asuhan mandiri(selfcare), serta perawatan herbal dan terapi tradisional akupresur yang bertujuan untukmeningkatkan akses dan keterjangkauan masyarakat terhadap obat-obatan. Peran keluarga sebagaigarda terdepan dalam upaya PHC membuat ibu/istri sebagai sosok yang berperan penting dalamkesehatan keluarga yang diharapkan akan membawa perubahan ke komunitas kecil di sekitarnyadan perlahan diterapkan ke dalam komunitas yang lebih besar dan beragam. Kader Posyandu yangsehari-harinya berinteraksi dalam mendampingi ibu dalam membangun kesehatan keluarga jugamenjadi sosok yang berperan dalam program asuhan mandiri keluarga yang telah dicanangkanpemerintah. Lingkungan Bendega merupakan salah satu lingkungan yang ada di Kelurahan TanjungKarang Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lingkungan tersebutmerupakan lingkungan binaan kesehatan ibu dan anak dari Universitas Bhakti Kencana PSDKUMataram, IBI Tanjung Karang dan Puskesmas Tanjung Karang. Sebelumnya, telah dilakukanpengabdian masyarakat dengan mengangkat sosialisasi pembuatan vertical garden TOGA dilingkungan tersebut. Selama ini belum ada program khusus tentang TOGA ataupun pembentukankader TOGA di lingkungan Bendega. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini adalahuntuk melakukan perekrutan kader TOGA pada mitra, sosialisasi tupoksi kader serta meningkatkanpengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah jenis TOGA yang secara ilmiah berfungsimencegah COVID-19. Metode pelaksanaan: persiapan, sosialisasi, evaluasi dan dokumentasi.Kegiatan dilaksanakan secara daring dan luring. Berdasarkan hasil yang diperoleh, didapatkanbahwa mitra telah mendapatkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan tentang TOGA danpemanfaatannya. Selain itu, telah dibentuk organisasi Kader TOGA di lingkungan Bendega yangberfungsi mengembangkan TOGA di lingkungan Bendega.  Kata kunci : Bendega, COVID-19, herbal, istri, kader, TOGA.
Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Anemia untuk Menurunkan Risiko Stunting di Desa Cikawao Isviyanti, Isviyanti; Triandini, I Gusti Agung Ayu Hari; Hairani, Hairani; Gumangsari, Ni Made Gita; Hidayati, Diana; Gustiya, Sherly Dwi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2172

Abstract

Artikel ini melaporkan hasil dari sebuah program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi risiko stunting melalui edukasi pencegahan pernikahan dini di Desa Cikawao tepatnya di SMPN 2 Pacet dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Program ini memberikan informasi tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan ibu dan anak serta menawarkan solusi untuk mengatasi masalah stunting dengan mengkonsumsi tablet Fe dan edukasi kesehatan reproduksi untuk pencegahan pernikahan dini. Penilaian dilakukan melalui survei awal dan akhir program untuk mengukur perubahan pengetahuan remaja. Dari hasil perbandingan pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi sebesar 16.83%. Terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan pada siswa pada materi yang diberikan. Dengan demikian edukasi dinilai efektif dalam mengubah persepsi tentang pernikahan dini. Education on the Prevention of Early Marriage and Anemia to Reduce the Risk of Stunting in Cikawao Village Abstract This article reports the results of a community service program which aims to reduce the risk of stunting through education on preventing early marriage in Cikawao Village, specifically at SMPN 2 Pacet using a participatory approach. This program provides information about the impact of early marriage on maternal and child health and offers solutions to overcome the problem of stunting by consuming Fe tablets and reproductive health education to prevent early marriage. Assessments are carried out through surveys at the beginning and end of the program to measure changes in youth knowledge. From the results of the pre-test and post-test comparison, it shows that there is an increase in knowledge before and after education (16,83%). There is a significant difference between the level of knowledge before and after counseling students on the material provided. Thus, education is considered effective in changing perceptions about early marriage.
Hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi (0-12 bulan) di Dusun Endut Desa Batu Mekar Gumangsari, Ni Made Gita; Isviyanti, Isviyanti; Hidayati, Diana
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.601

Abstract

Background: Eczema is a chronic, inflammatory and recurrent skin disease, characterized by a person's skin becoming red, inflamed, and itchy. Eczema is one type of disease that often occurs in children ranging from the age of 6 months to 5 years. In 2021, eczema increased again by around 59,395 cases and was ranked 5th in West Nusa Tenggara (NTB) Province. In Endut Hamlet, there were 30 cases of babies with eczema ranging from 0-12 months of age. Purpose: To determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Method: Descriptive research with a quantitative approach to determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months in 2003 in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. The population in this study were 30 mothers who had babies aged 0-12 months. Sampling used total sampling method so that 30 babies became respondents. The dependent variables consisted of hair cleanliness, hand-nail-toenail cleanliness, clothing cleanliness, skin cleanliness, towel cleanliness and bed and bed linen cleanliness. While environmental sanitation consisted of clean water facilities, waste disposal facilities and healthy toilet facilities. The independent variable was the incidence of eczema in babies aged 0-12 months, which was assessed by subjective observation. Data were analyzed using the chi square test with an alpha value of 0.05 (95%). Results: Respondent data shows that most of the environmental cleanliness and sanitation levels are in the poor category. The significance of hair cleanliness levels on eczema cases obtained pValue=0.023. The significance of respondents' hand, foot and nail cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of respondents' skin cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.042. The significance of respondents' clothing cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of towels cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.002. While the significance for bed cleanliness levels with eczema cases and obtained pValue=0.042. And with a p value of 0.023 for clean water facilities and a p value of 0.010 for waste disposal facilities/healthy toilet facilities, it shows that there is a significant relationship between clean water facilities, waste disposal facilities, and healthy toilet facilities and the occurrence of eczema in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. Conclusion: Environmental sanitation, cleanliness of equipment and supporting facilities for cleanliness are factors that influence the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Healthy lifestyles and supporting facilities for cleanliness are dominant factors in preventing the occurrence of eczema. Suggestions: This activity and research is expected to provide increased knowledge, especially regarding the implementation of a healthy lifestyle and maintaining environmental sanitation to prevent eczema and the results of this study can be a reference in further research by adding other variables in testing such as other variables such as eye hygiene, nose hygiene, oral and dental hygiene and genital hygiene. Keywords: Eczema; Environmental sanitation; Infants; Personal hygiene; Skin Pendahuluan: Eksim merupakan penyakit kulit kronik, inflamatif dan dapat muncul kembali, yang ditandai kulit seseorang menjadi merah, meradang, dan terasa gatal. Penyakit eksim salah satu jenis penyakit yang sering terjadi pada usia anak-anak mulai dari usia anak 6 bulan pertama sampai 5 tahun. Pada tahun 2021 penyakit Eksim meningkat lagi sekitar 59.395 kasus dan masuk ke dalam peringkat ke-5 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Dusun Endut sebanyak 30 kasus bayi yang terkena eksim mulai dari usia 0-12 bulan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian panyakit eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi usia 0-12 bulan pada tahun 2003 di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat..  Populasi dalam penelitian ini adalah 30 ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan. Pengambilan sampel menggunakan cara total sampling sehingga mendapatkan 30 bayi menjadi responden. Variabel dependen terdiri atas kebersihan rambut, kebersihan tangan-kuku-kaki, kebersihan pakaian, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan tempat tidur serta sprei. Sedangkan sanitasi lingkungan terdiri atas sarana air bersih, sarana pembuangan sampah dan sarana jamban sehat. Variabel independennya adalah kejadian eksim pada bayi usia 0-12 bulan, yang dinilai dengan observasional subyektif. Data dianalisa dengan uji chi square dengan nilai alpha 0.05 (95%).   Hasil: Data responden menunjukkan sebagian besar tingkat kebersihan dan sanitasi lingkungan dalam kategori buruk. Signifikansi  tingkat kebersihan rambut terhadap kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Signifikansi tingkat kebersihan tangan, kaki dan kuku responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan kulit responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.042. Signifikansi tingkat kebersihan pakaian responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan handuk dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.002. Sedangkan signifikansi untuk tingkat kebersihan tempat tidur dengan kejadian dan mendapatkan pValue=0.042. Dan dengan nilai p value sebesar 0.023 untuk sarana air bersih dan p value sebesar 0.010 untuk sarana pembuangan sampah/sarana jamban sehat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih, sarana pembuangan sampah, dan sarana jamban yang sehat terhadap timbulnya pernyakit eksim di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupatan Lombok Barat. Simpulan: Sanitasi lingkungan, kebersihan perlengkapan dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang berpengaruh terhadap kejadian eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Pola hidup sehat dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang dominan dalam mencegah timbulnya kejadian eksim. Saran: Kegiatan dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan peningkatan pengetahuan khususnya mengenai penerapkan pola hidup sehat dan menjaga sanitasi ligkungan untuk mencegah terjadinya eksim dan hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan di penelitian lanjutan dengan menambahkan variabel lain dalam pengujian seperti variabel lainnya seperti  kebersihan mata, kebersihan hidung, kebersihan mulut dan gigi serta kebersihan genetalia.
Implementasi Data Mining Menggunakan Algoritma K-Means untuk Pengelompokkan Obat di Puskesmas Kerongkong Kecamatan Suralaga Hidayati, Diana; Yahya, Yahya; Juniarta Hidayat, Muh. Adrian
Jurnal PRINTER: Jurnal Pengembangan Rekayasa Informatika dan Komputer Vol. 1 No. 2 (2023): Jurnal PRINTER: Jurnal Pengembangan Rekayasa Informatika dan Komputer
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jprinter.v1i2.22006

Abstract

Pengelolaan obat merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan dalam tujuan mengelola stok obat. Obat perlu dikelola secara baik, efektif, dan efisien. Dengan pengelolaan obat yang baik maka obat dapat diperoleh dengan cepat dan tepat serta mengurangi hal-hal seperti kehabisan stok obat pada layanan kesehatan seperti Puskesmas, Rumah Sakit dan lain sebagainya.  Hasil wawancara salah satu pegawai yang mengurus data obat di Puskesmas Kerongkong di puskesmas tersebut sering terjadi kekurangan bahkan kehabisan stok obat. Algoritma K-Means merupakan salah satu Algoritma Clustering.  Dan salah satu opsi yang dapat digunakan dalam pengelolaan obat sebab nantinya sistem cluster dapat membuat pengelompokkan pada obat dengan pemakaian tinggi dan kurang sehingga nantinya dapat menjadi acuan atau knowledge base dalam pengambilan keputusan untuk mengatur stok obat. Penggunaan Algoritma K-Means dalam penelitian adalah karena kesederhanaan dan efisiensinya sehingga dapat diterapkan di segala bidang contohnya pada klasterisasi data obat.Kata kunci:Algoritma K-Means, Data Mining, Obat