Surni Kadir
UIN Datokarama

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FROM NORMATIVE THEOLOGY TO CRITICAL THEOLOGY: RECONSTRUCTING ISLAMIC THEOLOGICAL THOUGHT IN RESPONSE TO MODERNITY Surni Kadir; Al Husna
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ky698p32

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi teologi Islam dari paradigma normatif menuju paradigma kritis dalam merespons tantangan modernitas. Masalah utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah keterbatasan metodologis teologi normatif ketika direduksi menjadi model teologi defensif dan tekstualis yang kurang responsif terhadap isu-isu kontemporer seperti pluralisme agama, hak asasi manusia, keadilan gender, krisis ekologi, modernitas digital, dan fragmentasi otoritas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara teologi normatif dan teologi kritis serta merumuskan model integratif rekonstruksi teologi Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis, historis-filosofis, dan rekonstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi normatif tetap penting sebagai fondasi doktrinal keimanan Islam, sedangkan teologi kritis berfungsi sebagai perluasan metodologis yang memungkinkan pemikiran Islam berdialog dengan realitas modern melalui hermeneutika, penalaran berbasis maqāṣid, dan dialog interdisipliner. Artikel ini menegaskan bahwa teologi normatif dan teologi kritis tidak perlu diposisikan sebagai dua paradigma yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua dimensi yang saling melengkapi. Model integratif yang ditawarkan menggabungkan fondasi normatif, metode kritis, dan orientasi transformatif, sehingga teologi Islam tetap berakar pada wahyu sekaligus responsif secara etis dan relevan secara sosial di era modern.
Femenisme Islam Vs Feminisme Barat:“Analisis Perbedaan Paradigma Dan Tujuan” Surni Kadir; Saiful Munir
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 1 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/b9wxqw53

Abstract

Artikel ini mengkaji perbedaan paradigma dan tujuan antara feminisme Islam dan feminisme Barat dalam memahami isu kesetaraan gender. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah basis filosofis, metode perjuangan, serta implikasi sosial dari kedua aliran feminisme tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan, yang melibatkan analisis terhadap literatur akademik, artikel jurnal, serta karya-karya pemikir feminis dari tradisi Islam maupun Barat. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif-komparatif guna menemukan titik temu sekaligus perbedaan mendasar di antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa feminisme Barat berakar pada sekularisme dengan orientasi pada kesetaraan absolut berbasis kebebasan individu, sementara feminisme Islam bertumpu pada prinsip syariat yang menekankan keadilan, kesetaraan spiritual, dan perbedaan kodrat antara laki-laki dan perempuan. Dari segi tujuan, feminisme Barat lebih cenderung menuntut perubahan radikal terhadap struktur patriarki, sedangkan feminisme Islam menekankan reinterpretasi teks keagamaan untuk memperjuangkan hak perempuan tanpa menanggalkan nilai-nilai religius. Novelty penelitian ini terletak pada penyajian analisis kritis yang tidak hanya membandingkan kerangka teoritik keduanya, tetapi juga menyoroti implikasi praktisnya bagi masyarakat Muslim kontemporer. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi pada pengembangan wacana gender yang lebih kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial-keagamaan masa kini.
SALAFIYAH THEOLOGY: BETWEEN THE PURIFICATION OF BELIEF AND THE THREAT OF RADICALIZATION IN CONTEMPORARY ISLAM: TEOLOGI SALAFIYAH: ANTARA PENYUCIAN KEYAKINAN DAN ANCAMAN RADIKALISASI DALAM ISLAM KONTEMPORER Surni Kadir; Soraya Attamimi; Muhammad Raafi’ul Anam
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/4g261t57

Abstract

Artikel ini meninjau kembali teologi Salafi tidak hanya sebagai gerakan penyucian akidah yang berlandaskan pada al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga sebagai fenomena keagamaan yang kompleks, yang terbentuk oleh dinamika historis, etika, dan sosial. Dalam konteks modern, Salafisme menghadapi tantangan signifikan dalam mendamaikan komitmen terhadap literalisme tekstual dan kemurnian teologis dengan tuntutan masyarakat plural serta perubahan dalam penafsiran keagamaan. Melalui tinjauan pustaka yang bersifat fenomenologis, studi ini mengeksplorasi bagaimana para penganut Salafi merespons ketegangan antara otentisitas doktrinal yang kaku dan realitas transformasi sosial-politik yang dinamis.Penelitian ini menyoroti bahwa Salafisme, meskipun berakar pada klaim kembali kepada ajaran Islam awal (al-salaf al-ṣāliḥ), tidak terlepas dari pengaruh modernitas, tekanan politik, serta wacana Islam global. Oleh karena itu, Salafisme tidak hanya dipahami sebagai sikap teologis semata, melainkan juga sebagai realitas sosial yang dijalani dan dipraktikkan, yang dibentuk oleh interaksi lintas negara, pemaknaan lokal, serta perdebatan internal dalam komunitasnya. Unsur-unsur seperti pembentukan identitas, pengendalian spiritual, kerangka etika, serta batasan komunitas menjadi elemen penting dalam memahami wajah Salafisme kontemporer.Dengan pendekatan hermeneutik dan reflektif, studi ini memandang Salafisme sebagai sebuah pengalaman keberagamaan yang dinamis dan hidup dalam konteks global Islam maupun dalam ekspresi lokal yang beragam. Temuan ini menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih bernuansa terhadap teologi Salafi, tidak semata sebagai gerakan reaksioner atau literalistik, tetapi sebagai jalan spiritual yang terus bergulat dengan perubahan zaman, tanpa kehilangan klaimnya atas kemurnian tauhid dan konsistensi teologis.