Ana Fauziyah Diyana (Universitas Siliwangi)
Universitas Siliwangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Maqashid Syari’ah dalam Mewujudkan Keadilan, Kesejahteraan, dan Stabilitas Sistem Ekonomi Islam: Perspektif Umar Chapra Risa Aprilida (Universitas Siliwangi); Yulfi Rohmatul Hasanah (Universitas Siliwangi); Dzakwan Afaf Muhammad (Universitas Siliwangi); M.Aditya Saputra (Universitas Siliwangi); Lina Marlina (Universitas Siliwangi); Ana Fauziyah Diyana (Universitas Siliwangi)
SYIRKAH: Jurnal Ekonomi Syariah Vol 2, No 02 (2026): SYIRKAH: Jurnal Ekonomi Syariah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/jes.v2i02.4892

Abstract

This study aims to analyze the role of Maqashid al-Shari’ah in realizing justice, welfare, and stability within the Islamic economic system from the perspective of Umar Chapra. Maqashid al-Shari’ah, as the fundamental objectives of Islamic law, emphasizes the protection of religion (hifz ad-din), life (hifz an-nafs), intellect (hifz al-‘aql), lineage (hifz an-nasl), and wealth (hifz al-mal), which substantively form the normative foundation for developing a just and balanced economic system. According to Umar Chapra, the Islamic economic system is not merely oriented toward material growth but also toward equitable wealth distribution, poverty alleviation, moral development, and socio-economic stability.This research employs a qualitative approach using a library research method by examining Umar Chapra’s major works and relevant literature on Maqashid al-Shari’ah and Islamic economics. The findings indicate that the implementation of Maqashid al-Shari’ah in fiscal, monetary, and Islamic financial policies can create a balance between economic efficiency and distributive justice. Principles such as the prohibition of riba (usury), the obligation of zakat, and the strengthening of the real sector play significant roles in maintaining economic stability and preventing structural crises. In conclusion, Umar Chapra’s perspective affirms that Maqashid al-Shari’ah serves as both a philosophical and operational framework in constructing a just, sustainable, and welfare-oriented Islamic economic system. This study is expected to contribute to the enrichment of Islamic economic scholarship and to serve as a reference for policy formulation based on Shari’ah values.
Kebebasan Bertransaksi Dalam Ekonomi Islam Periode Pertama: Kontribusi Pemikiran Abu Hanifah Terhadap Sistem Keuangan Syariah Dinda Hafnita (Universitas Siliwangi); Alisya Meitasari Wardani (Universitas Siliwangi); Lina Marlina (Universitas Siliwangi); Ana Fauziyah Diyana (Universitas Siliwangi)
SYIRKAH: Jurnal Ekonomi Syariah Vol 2, No 02 (2026): SYIRKAH: Jurnal Ekonomi Syariah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/jes.v2i02.4818

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep kebebasan bertransaksi dalam pemikiran ekonomi Islam periode pertama serta kontribusi Abu Hanifah terhadap sistem keuangan syariah kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode historis-filosofis melalui studi kepustakaan terhadap literatur fikih klasik dan teori ekonomi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abu Hanifah menekankan prinsip kebebasan berakad (hurriyat al-ta‘aqud) yang berlandaskan pada keadilan, kerelaan para pihak (taradhi), serta larangan gharar dan riba. Pendekatan rasional dan kontekstual (ahl al-ra’y) memberikan fleksibilitas dalam aktivitas muamalah tanpa mengabaikan prinsip syariah. Fleksibilitas tersebut menjadi dasar pengembangan berbagai akad pada lembaga keuangan syariah modern, seperti murabahah, mudharabah, dan ijarah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Abu Hanifah berkontribusi penting dalam membangun keseimbangan antara kebebasan pasar dan batasan etis-religius, sehingga tetap relevan dalam sistem keuangan syariah masa kini.