Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Bax/Bcl-2 Ratio as the Golden Marker of Apoptosis: Molecular Mechanisms and Regulatory Pathways Putri, Ghea Farmaning Thias; Nurfatihah Z, Zahara
International Journal of Cell and Biomedical Science Vol 4 No 10 (2025)
Publisher : Stem Cell and Cancer Research (SCCR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59278/cbs.v4i10.65

Abstract

Apoptosis is an essential biological mechanism responsible for maintaining tissue homeostasis by removing unnecessary or damaged cells. Among the key molecular regulators, the interplay between the pro-apoptotic protein Bax and the anti-apoptotic protein Bcl-2 determines cellular fate. The Bax/Bcl-2 ratio has been recognized as the “golden marker” of apoptosis, representing the fine equilibrium between survival and death signaling pathways within cells. This review aims to provide an updated overview of recent advances in understanding the molecular mechanisms and regulatory networks that control the Bax/Bcl-2 ratio and its significance as a diagnostic and therapeutic biomarker. Relevant studies were systematically identified from PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar, focusing on publications from 2020 to 2025. Current evidence suggests that the Bax/Bcl-2 ratio is influenced by transcriptional regulation involving p53, NF-κB, and Akt/PI3K pathways, as well as by post-translational modifications such as phosphorylation and ubiquitination that govern mitochondrial membrane permeabilization. Clinically, alterations in this ratio correlate with disease progression, therapeutic response, and prognosis in cancer, neurodegenerative, and renal disorders. Targeting this ratio through modulation of upstream regulators or BH3 mimetics offers promising therapeutic potential. In conclusion, a deeper understanding of the Bax/Bcl-2 ratio provides crucial perspectives for advancing diagnostic innovation and developing targeted therapies for apoptosis-related diseases.
AKTIVITAS SPESIFIK XILANASE BAKTERI TERMOFILIK AMOBIL SSA2 DENGAN VARIASI SUMBER KARBON Irdawati, Irdawati; Nurfatihah Z, Zahara; Putri, Dwi Hilda; Advinda, Linda; Yusrizal, Yusrizal
Jurnal Agrotek Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 13, FEBRUARI 2025
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v13i1.7130

Abstract

Enzim xilanase memiliki potensi besar dalam berbagai industri. Salah satu kegunaannya adalah dalam industri farmasi dan makanan karena kemampuannya mengubah xilan menjadi xilosa, sebuah gula rendah kalori. Selain itu, enzim xilanase juga digunakan dalam industri kertas sebagai agen pemutihan pulp (biobleaching). Xilanase dapat dihasilkan oleh bakteri termofilik dengan menggunakan xilan dari ekstrak jerami padi sebagai substrat. Produksi enzim dipengaruhi oleh nutrisi yang tersedia, seperti sumber karbon. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan sumber karbon terbaik untuk meningkatkan aktivitas spesifik xilanase oleh bakteri termofilik amobil SSA2. Untuk menghitung aktivitas khusus xilanase, dibagi aktivitas xilanase dengan konsentrasi protein. Penelitian dilakukan di laboratorium departemen biologi FMIPA UNP dari November 2021 hingga Januari 2022 dengan menggunakan metode eksperimen yang mengikuti rancangan acak lengkap (RAL) dan melibatkan 5 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa penambahan xilosa sebagai sumber karbon menghasilkan aktivitas khusus enzim xilanase tertinggi sebesar 1,536 Unit/mg. Kata kunci:  Xylanase, Sumber Karbon, Xylosa, Bakteri Termofilik. 
EDUKASI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) BAGI KELOMPOK PENGAJIAN SITI KHODIJAH-MASJID AL-HIDAYAH DI KELURAHAN RAJABASA RAYA BANDAR LAMPUNG Ulfah, Maya; Nurfatihah Z, Zahara; Hijami, Nurul Afifah; Andriansyah; Permana, Muhammad Aditya
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i2.3759

Abstract

Lansia dan kelompok ibu rumah tangga memiliki peran krusial dalam kesehatan keluarga, namun sering menghadapi tantangan fisik dan pengetahuan terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pengabdian ini bertujuan memberikan edukasi PHBS kepada kelompok ibu-ibu pengajian Siti Khodijah di Masjid Al-Hidayah, Kelurahan Rajabasa, Bandar Lampung. Metode kegiatan menggunakan pendekatan penyuluhan interaktif dan tanya jawab, dengan efektivitas yang diukur melalui desain pre-test dan post-test pada 22 orang peserta. Hasil evaluasi awal (pre-test) menunjukkan tingkat pengetahuan peserta sebesar 86,3% (kategori Tinggi). Setelah intervensi edukasi, terjadi peningkatan skor post-test menjadi 90,8% (kategori Tinggi). Peningkatan ini membuktikan bahwa materi edukasi berhasil memperdalam pemahaman peserta terkait sanitasi dan kebiasaan sehat. Disimpulkan bahwa edukasi kesehatan interaktif efektif sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan penerapan PHBS di lingkungan rumah tangga secara berkelanjutan.
Pemanfaatan ekstrak daun sirih hijau (piper betle L.) sebagai agen fitoterapi topikal dalam perawatan luka kulit: Tinjauan berdasarkan bukti ilmiah Nursakinah, Namira Az-Zahra; Rudiyanto, Waluyo; Z, Zahara Nurfatihah; Sibero, Hendra Tarigen
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2185

Abstract

Background: Skin wounds remain a common health problem in both primary healthcare settings and hospitals due to the high risk of infection, delayed healing, and increased treatment costs. The use of synthetic topical agents in wound care is often associated with side effects and the risk of antimicrobial resistance, prompting the search for safer and more affordable natural-based alternatives. Purpose: To review and synthesize scientific evidence regarding the use of green betel leaf extract (Piper betle L.) as a topical phytotherapeutic agent in the treatment of skin wounds. Method: This systematic literature review was conducted based on PRISMA guidelines. The literature search was conducted through the Scopus database using the keywords "Piper betle L." AND "wound" for the publication period 2020–2025. Results: Five articles met the inclusion criteria, demonstrating that green betel leaf extract has antimicrobial activity against pathogens that cause wound infections, reduces the inflammatory response, and accelerates epithelialization and collagen formation. Conclusion: Green betel leaf extract (Piper betle L.) has strong potential as a topical phytotherapeutic agent in the treatment of skin wounds. Scientific evidence suggests that its antimicrobial, anti-inflammatory, and antioxidant properties contribute to accelerating the wound healing process. Keywords: Green Betel Leaf; Phytotherapy; Skin Wounds; Piper betle L.; Systematic Review. Pendahuluan: Luka kulit masih menjadi masalah kesehatan yang sering dijumpai baik di pelayanan kesehatan primer maupun rumah sakit karena berisiko tinggi mengalami infeksi, keterlambatan penyembuhan, dan peningkatan biaya perawatan. Penggunaan agen topikal sintetis dalam perawatan luka sering dikaitkan dengan efek samping serta risiko resistensi antimikroba, sehingga mendorong pencarian alternatif berbasis bahan alam yang lebih aman dan terjangkau. Tujuan: Untuk meninjau dan mensintesis bukti ilmiah mengenai pemanfaatan ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) sebagai agen fitoterapi topikal dalam perawatan luka kulit. Metode: Penelitian systematic literature review disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data Scopus dengan kata kunci “Piper betle L.” AND “wound” pada periode publikasi 2020–2025. Hasil: Sebanyak lima artikel memenuhi kriteria inklusi yang menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih hijau memiliki aktivitas antimikroba terhadap patogen penyebab infeksi luka, menurunkan respons inflamasi, serta mempercepat epitelisasi dan pembentukan kolagen. Simpulan: Ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) memiliki potensi kuat sebagai agen fitoterapi topikal dalam perawatan luka kulit. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa sifat antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidannya berkontribusi terhadap percepatan proses penyembuhan luka. Kata Kunci: Daun Sirih Hijau; Fitoterapi; Luka Kulit; Piper betle L;Tinjauan Sistematis.      
MicroRNA sebagai Regulator Regenerasi Jaringan: Tinjauan Literatur Nurfatihah Z, Zahara
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp165-169

Abstract

Regenerasi jaringan berlangsung melalui rangkaian proses terkoordinasi yang bertujuan mengembalikan fungsi organ. Proses ini bergantung pada pembentukan sel baru, migrasi, regulasi inflamasi, dan penataan ulang matriks. MicroRNA berperan sebagai regulator yang memengaruhi berbagai tahap dalam regenerasi jaringan melalui regulasi ekspresi gen. Tinjauan ini merangkum temuan ilmiah terkait peran microRNA dalam tahap regeneratif dengan menyoroti pengaruhnya pada jalur molekuler. miR-21, miR-221 dan miR-31 berperan dalam peningkatan proliferasi serta migrasi keratinosit melalui penekanan inhibitor sinyal. miR-200b/c-3p diketahui dapat mengatur plastisitas epitelial yang membantu pemulihan lapisan permukaan. Pada fase inflamasi, miR-155 memicu produksi mediator pro-inflamasi, sedangkan miR-146a, miR-223, dan miR-124 menurunkan aktivasi sel imun untuk menjaga kestabilan respon. Keseimbangan inflamasi menjadi faktor penting karena kelebihan mediator pro-inflamasi dapat menghambat tahap regeneratif berikutnya. Pada fase remodeling, kelompok miR-29, miR-27a-3p, miR-133a, miR-30a, dan miR-142-3p menekan aktivasi fibroblas serta deposisi kolagen sehingga pembentukan jaringan parut lebih rendah dan struktur jaringan baru tersusun lebih teratur. Berbagai temuan menunjukkan bahwa microRNA meregulasi beberapa tahap penting dalam proses regenerasi jaringan melalui jalur molekuler yang saling berhubungan. Peran luas tersebut dapat menjadi dasar untuk pengembangan biomarker dan strategi terapetik yang menarget microRNA guna mendukung hasil regenerasi yang lebih baik.
Diagnostic and Prognostic Relevance of Circulating microRNAs across Multiple Cancer Types Ghea Farmaning Thias Putri; Firda Asmaul Husna; Dwi Widyawati; Zahara Nurfatihah Z
Biofaal Journal Vol 6 No 2 (2025): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v6i2pp159-172

Abstract

Cancer represents a global health burden characterized by high morbidity and mortality,underscoring the urgent demand for reliable, non-invasive biomarkers to enhance early detection,prognostication, and therapeutic monitoring. Circulating microRNAs (c-miRNAs) are short non-coding RNAs present in body fluids that have attracted attention as potential biomarkers, because of their stability, ease of detection, and close relationship with tumor biology. This review evaluates the diagnostic and prognostic potential of c-miRNAs and their integration into precision oncology. A systematic search was performed across PubMed, Scopus, and ScienceDirect for publications from 2010 to 2025 that investigated c-miRNAs in human body fluids in relation to diagnosis, prognosis, or treatment response. Twelve studies met the eligibility criteria, encompassing breast, lung, colorectal, and gallbladder cancers. Frequently dysregulated c-miRNAs, particularly miR-21, miR-155, miR-210, and Let-7a, demonstrated consistent associations with tumor detection, patient survival, and disease progression. Analytical platforms ranged from quantitative RT-PCR to advanced biosensor-based technologies, enabling sensitive and rapid quantification. Collectively, the evidence highlights c-miRNAs as non-invasive biomarkers capable of complementing conventional clinical tools. Their clinical adoption could reduce reliance on invasive tissue biopsies, support earlier and more accurate diagnosis, assist in tailoring patient-specific treatment strategies, and promote the broader implementation of precision medicine in cancer care.
Pemberdayaan Komunitas Pelajar untuk Pencegahan Osteopenia di SMPN 30 Kecamatan Panjang Ta Larasati; Helmi Ismunandar; Rika Lisiswanti; Zahara Nurfatihah Z; Muhammad Aditya
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i2.4085

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang pencegahan Osteopenia melalui edukasi interaktif guna mengoptimalisasi kepadatan massa tulang. Kegiatan dilaksanakan di SMPN 30 Kecamatan Panjang, Bandar Lampung dengan melibatkan 30 siswa sebagai peserta aktif. Metode yang digunakan adalah pemberdayaan komunitas melalui sosialisasi tatap muka, diskusi interaktif, serta evaluasi menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan tingkat pemahaman. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan pada beberapa aspek kunci, terutama pada indikator kesadaran terhadap kesehatan tulang yang meningkat dari 93,33% menjadi 100%. Selain itu, pemahaman mengenai peran vital Vitamin D dan strategi pencegahan dini osteopenia masing-masing mengalami peningkatan sebesar 3,33%. Secara keseluruhan, kegiatan ini terbukti efektif dalam membangun literasi kesehatan sejak dini dan dapat diadopsi sebagai strategi promotif serta preventif yang berkelanjutan di lingkungan sekolah untuk menekan risiko penyakit tulang di masa dewasa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan sasaran ke sekolah lain serta mengkaji efektivitas metode edukasi yang beragam dan pengaruhnya terhadap perubahan perilaku kesehatan tulang remaja.
Peran Reactive Oxygen Species dalam Proses Penyembuhan Luka: Tinjauan Molekuler: Zahara Nurfatihah Z Zahara Nurfatihah Z
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp116-120

Abstract

Penyembuhan luka merupakan proses biologis yang berlangsung melalui empat fase terkoordinasi yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Reactive oxygen species (ROS) dihasilkan terutama oleh enzim NADPH oxidase (NOX) yang berperan sebagai regulator molekuler pada setiap fase. Tinjauan literatur ini bertujuan merangkum bukti ilmiah terkini mengenai peran molekuler ROS dalam proses penyembuhan luka. Pada fase hemostasis, ROS yang dihasilkan trombosit melalui jalur NOX dan cyclooxygenase memperkuat aktivasi dan agregasi trombosit serta mempersiapkan lingkungan mikro. Selama fase inflamasi, neutrofil menjalankan proses respiratory burst menghasilkan ROS untuk eliminasi patogen dan mengaktivasi jalur nuclear factor kappa B (NF-κB). Pada fase proliferasi, ROS menstabilkan hypoxia-inducible factor 1-alpha (HIF-1α) untuk mendorong angiogenesis melalui vascular endothelial growth factor (VEGF) serta mengaktivasi mitogen‐activated protein kinases (MAPK) yang mendukung re-epitelisasi. Pada fase remodeling, jalur NF-E2-related factor 2 (Nrf2) berperan sebagai sistem pertahanan antioksidan utama yang mencegah degradasi extracellular matrix (ECM) secara berlebihan. Ketidakseimbangan kadar ROS pada kondisi patologis seperti diabetes melitus menyebabkan gangguan regulasi seluler yang menghambat proses penyembuhan dan berkontribusi terhadap terbentuknya luka kronis sehingga modulasi ROS melalui target spesifik seperti NOX berpotensi besar sebagai strategi terapeutik dalam penanganan luka.
Tingkat Kelelahan Fisik dan Mental Relawan pada Respon Bencana di Aceh Nurul 'Afifah Hijami; Zahara Nurfatihah Z
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1085

Abstract

Kelelahan fisik dan mental merupakan masalah kesehatan kerja yang umum terjadi pada relawan tanggap bencana akibat tuntutan kerja yang tinggi, jam kerja yang panjang, dan waktu pemulihan yang terbatas. Kondisi ini dapat menurunkan kinerja dan meningkatkan risiko kesalahan operasional selama respons darurat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kelelahan fisik dan mental pada relawan tanggap bencana di Aceh serta menganalisis hubungan dengan durasi kerja harian, lama istirahat dalam 24 jam terakhir, dan durasi aktivitas fisik berat. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Data dikumpulkan melalui survei daring yang melibatkan 35 relawan yang terlibat langsung dalam kegiatan tanggap bencana di Aceh. Tingkat kelelahan diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan distribusi kelelahan, sedangkan analisis bivariat dengan uji chi square digunakan untuk menilai hubungan antarvariabel. Sebagian besar relawan mengalami tingkat kelelahan rendah hingga sedang. Ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat kelelahan dengan durasi kerja harian serta lama istirahat dalam 24 jam terakhir, dengan nilai p kurang dari 0,05. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara durasi aktivitas fisik berat dengan tingkat kelelahan, dengan nilai p lebih dari 0,05. Temuan ini menegaskan pentingnya pengaturan jam kerja dan pemenuhan waktu istirahat yang cukup untuk melindungi kesehatan relawan.
Blood-Based Inflammatory Biomarkers: A Literature Review Zahara Nurfatihah Z; Ghea Farmaning Thias Putri; Elsa Septiani Putri
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1096

Abstract

Introduction: Inflammation is a fundamental biological response involved in the development and progression of various diseases and is commonly assessed using indicators detected in blood. A wide range of inflammatory biomarkers has been described. However, differences in their biological characteristics and clinical relevance require clear understanding for appropriate use. Objective: This review aims to summarize the blood-based inflammatory biomarkers and to present a clear description of their characteristics, strengths, and limitations, as well as key concepts related to their clinical application and interpretation as indicators of inflammatory activity. Method: This study was conducted as a literature review using secondary data from scientific publications. Articles published within the last five years were identified from PubMed, Scopus, and Google Scholar and selected based on their relevance to blood-based inflammatory biomarkers and the clarity of reported information. The selected literature, consisting of original research articles and review papers, was analyzed descriptively to synthesize and compare findings across studies. Result: The results indicate that blood-based inflammatory biomarkers can be grouped into several main categories, each reflecting different mechanisms and stages of inflammation. Differences in biological function and applicability were observed among biomarker groups, highlighting variations in their usefulness depending on inflammatory context. Conclusion: Blood-based inflammatory biomarkers provide important information for evaluating inflammatory status. Accurate assessment depends on interpretation that accounts for biological function, inflammatory context, and inherent limitations of each biomarker.