Muhammad Agus
Institut Agama Islam DDI Mangkoso

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nilai-Nilai Etos Kerja Qur'ani dalam Perspektif Tafsir Tematik: Landasan Profesionalisme Laela Safriani; Muhammad Agus; Hasyim Haddade; Muhammad Irham
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/0n9yen50

Abstract

Artikel ini mengkaji nilai-nilai etos kerja dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik (tafsir maudhu‘i). Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan etos kerja di tengah dinamika kehidupan modern yang ditandai oleh meningkatnya tuntutan profesionalisme, produktivitas, dan kompetisi kerja. Al-Qur’an tidak hanya memberikan dorongan untuk bekerja dan berusaha, tetapi juga menawarkan landasan moral dan spiritual yang membentuk karakter kerja seorang muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengonstruksi nilai-nilai serta prinsip-prinsip etos kerja yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sekaligus menjelaskan kontribusinya terhadap pembentukan produktivitas dan profesionalisme Islami. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data diperoleh melalui pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kerja, usaha, amanah, tanggung jawab, kualitas amal, disiplin waktu, dan pengembangan diri. Analisis dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi tema-tema utama, menelaah konteks ayat, serta menghubungkannya dengan konsep etos kerja dalam Islam berdasarkan penafsiran para mufasir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memandang kerja sebagai bagian integral dari ibadah, pengabdian kepada Allah Swt., dan manifestasi tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Ditemukan sejumlah nilai utama etos kerja Qur’ani, yaitu ikhlas, amanah dan kejujuran, tanggung jawab, disiplin dan penghargaan terhadap waktu, kerja keras (mujāhadah), profesionalisme dan kualitas kerja (itqān dan ihsān), orientasi masa depan, serta keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Nilai-nilai tersebut membentuk kerangka etos kerja Islami yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan sosial dalam aktivitas profesional. Dengan demikian, etos kerja Qur’ani berfungsi sebagai landasan normatif dalam membangun sumber daya manusia yang produktif, berintegritas, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan individu maupun masyarakat.
Integrasi Maqāṣid al-Syarī’ah dalam Perumusan Konsep Keluarga Sakinah Kontemporer Muhammad Agus; Laela Safriani
Al-Azhar Islamic Law Review VOLUME 6 NOMOR 2, 2024
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Azhar Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluarga sakinah merupakan tujuan ideal dalam perkawinan Islam yang tidak hanya menekankan aspek ketenteraman lahiriah, tetapi juga kesejahteraan spiritual, psikologis, dan sosial. Namun, dinamika kehidupan keluarga kontemporer menghadirkan berbagai tantangan baru seperti perubahan peran gender, tuntutan ekonomi, dan pergeseran nilai sosial yang menuntut reformulasi konsep keluarga sakinah agar tetap relevan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis integrasi maqāṣid al-syarī’ah dalam perumusan konsep keluarga sakinah kontemporer sebagai kerangka normatif dan kontekstual dalam hukum keluarga Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research, melalui penelaahan literatur klasik dan kontemporer yang relevan dengan maqāṣid al-syarī’ah dan konsep keluarga sakinah. Hasil kajian menunjukkan bahwa maqāṣid al-syarī’ah, khususnya perlindungan agama (ḥifẓ al-dīn), jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan harta (ḥifẓ al-māl), dapat dijadikan landasan integral dalam membangun konsep keluarga sakinah yang adaptif terhadap perubahan zaman. Integrasi ini memungkinkan perumusan keluarga sakinah yang tidak hanya normatif-dogmatis, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial kontemporer.