p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Wana Lstari
Maria M. E. Purnama
Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian UNDANA

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HUTAN TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG DI KELURAHAN CAMPLONG I, KECAMATAN FATULEU, KABUPATAN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Demris A. Maubanu; Maria M. E. Purnama; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2581

Abstract

Kawasan Taman Wisata Alam Camplong berdasarkan surat menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.423/Kpt-II/1999 Tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong, sejak tanggal 15 Juni 1999 dengan luas 696,60 Ha. Kemudian pada Tahun 2014 terbit dasar hukum terbaru yaitu Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas luasan yang sama 696,60 Ha. Taman Wisata Alam Camplong merupakan salah satu Taman Wisata Alam yang ada di Indonesia, status kawasan Taman Wisata Alam Camplong adalah Hutan Produksi. Taman Wisata Alam Camplong memiliki vegetasi yang merupakan perwakilan 2 tipe ekosistem,yaitu ekosistem hutan musim dan ekositem savana. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui respon masyarakat tentang adanya Taman Wisata Alam di Kelurahan Camplong I dan untuk mengetahui pengaruh adanya Taman Wisata Alam terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kelurahan Camplong I. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk sekitar kawasan Tamana Wisata Alam Camplong yang berjumlah 66 jiwa, dengan penentuan menggunakan purposive random sampling. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa respon dari masyarakat Kelurahan Camplong I terhadap Taman Wisata Alam berupa sikap masyarakat terhadap kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan sangat baik, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan baik, dan perilaku masyarakat terhadap kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan tidak baik, sedangkan untuk persepsi masyarakat terhadap kondisi sosial ekonomi mayarakat sekitar kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan baik
STUDI KEKAYAAN DAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI JALUR TRACKING WOLOGAI TAMAN NASIONAL KELIMUTU, KABUPATEN ENDE, PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Gregorius B Langkamau; Maria M. E. Purnama; Norman P.L.B. Riwu Kaho
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2590

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi, diantaranya dalam kategori burung tercatat 1.771 jenis burung yang ditemukan diwilayah indonesia dan diantaranya terdapat 563 yang dilindungi. Kecamatan Kelimutu merupakan salah satu kecamatan yang terdapat sebuah Taman Nasional yang disebut Taman Nasional Kelimutu. Didalam Taman Nasional Kelimutu, terdapat areal Jalur Tracking Wologai. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan Maret-April 2019 dengan menggunakan metode daftar jenis MacKinnon dan indeks Keanekaragaman ShannonWienner.Hasil penelitian menunjukkan di Jalur Tracking Wologai terdapat 36 jenis burung dari 20 suku. Dari 36 jenis burung tersebut terdapat 5 jenis burung yang dilindungi dan 5 jenis burung endemik Flores Jenis burung yang paling banyak yang ditemukan dilokasi penelitian adalah Perkici Pelangi sebanyak 18 individu sedangkan jenis burung yang paling sedikit ditemukan adalah Gelatik Batu Kelabu sebanyak 1 individu. Keanekaragaman jenis burung yang terdapat di Jalur Tracking Wologai adalah 3.37 dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN PREFERENSI PAKAN RUSA TIMOR (Rusa timorensis) DI STASIUN PENELITIAN BU’AT, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Maria L. A Faot; Maria M. E. Purnama; Norman P.L.B. Riwu Kaho
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2595

Abstract

Berdasarkan IUCN red list, sejak beberapa tahun terakhir Rusa timor (Rusa timorensis) termasuk dalam kategori vulnerable (rentan). Upaya konservasi perlu dilakukan untuk mempertahankan populasi Rusa timor (Rusa timorensis) baik secara in-situ maupun ek-situ. Salah satu kawasan konservasi ek-situ Rusa timor yang ada di Nusa Tenggara Timur adalah Stasiun Penangkaran Bu’at Soe. Komponen habitat Rusa timor (Rusa timorensis) yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah pakan. Komponen habitat tersebut harus diperhatikan supaya kebutuhan hewan terpenuhi sehingga dapat hidup secara layak dan dapat membantu keberhasilan konservasi Rusa timor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan dan preferensi pakan Rusa timor yang ada di stasiun penelitian bu’at kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan analisis vegetasi untuk ketersediaan pakan sedangkan untuk preferensi pakan dengan menimbang dan mencatat sisa setiap jenis pakan yang tidak dimakan rusa, setelah data diperoleh, data di analisis secara deskriptif dan diolah menggunakan statistika One-Way Anova dan Uji lanjut BNJ. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Ketersediaan pakan Rusa timor (Rusa timorensis) yang tumbuh secara alami di Stasiun Penelitian Bu’at memiliki keanekaragaman yang tinggi berdasarkan analisis vegetasi yaitu Pennisetum purpureum, Leucaena leucocephala, Gliricidia sepium, Sesbania grandiflora, Ubi hutan, Senna alata, Eucalypthus urophylla, Calliandra, Acacia leucophloea, dan Chromolaena odorata. Namun berdasarkan pengamatan dan wawancara diketahui bahwa tidak semua pakan yang tumbuh alami dalam penangkaran dimakan rusa misalnya Casuarinaceae. Preferensi pakan Rusa timor (Rusa timorensis) di Stasiun Penelitian Bu’at yang paling tertinggi yaitu Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dengan rata-rata komsumsi 14 kg/hari diikuti Lamtoro (Leucaena leucocephala) yaitu 12,40 kg, Jati Putih (Gmelina arborea) yaitu 9,8 kg, Kabesak Putih (Acacia leucophloea) 6,8 kg, Turi (Sesbania grandiflora) 6,4 kg sedangkan yang jenis pakan yang paling sedikit dikomsumsi Rusa timor adalah beringin (Ficus benjamina) dengan rata-rata komsumsi rusa yaitu 5,6 kg/hari.
UPAYA PELESTARIAN TAMAN WISATA ALAM 17 PULAU RIUNG MELALUI PENINGKATAN KUALITAS MASYARAKAT STUDI KASUS DESA NANGAMESE, KECAMATAN RIUNG, KABUPATEN NGADA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Maria M. L Ola; Maria M. E. Purnama; Norman P.L.B. Riwu Kaho
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2596

Abstract

Taman Wisata Alam 17 Pulau merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Pulau Flores. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: bagaimana upaya pelestarian Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung melalui peningkatan kualitasmasyarakat (studi kasus Desa Nangamese, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Penelitian ini dilakukan di Desa Nangamese, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakanmetode kualitatif yang dilaksanakan pada Juli 2019 – Agustus 2019. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, kuesioner terhadap 81 responden yang ditentukan berdasarkan teknik purposive sampling dan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang terpilih dalam upaya pelestarian Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung melalui peningkatan kualitas masyarakat adalah strategi SO yang memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya : 1) Melakukan pemberdayaan, penyuluhan agar enumbuhkan dan meningkatkan kualitas masyarakat tentangnya pelestarian alam. 2) Menciptakan kerja sama antar masyarakat lokal, pelaku wisata, pengelola Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung dan pemerintah secara optimal. 3)Memanfaatkan potensi alam yang ada di Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung untuk menarik para wisatawan berkunjung atau berekreasi di kawasan Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung. 4) Membuat kebijakan dan peraturan yang khusus konservasi dan perlindungan (fauna, flora, dan ekosistemnya) dalam pengembangan objek wisata.
PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP KEBERADAAN HUTAN DIKLAT SISIMENI SANAM DI DESA SILLU KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG Niken W Koreh; Maria M. E. Purnama; Astin E. Mau
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2598

Abstract

Hutan Diklat Sisimeni Sanam merupakan suatu areal hutan yang diperuntukan sebagai sarana dan prasarana praktek dalam rangka mendukung kegiatan diklat kehutanan serta sebagai laboratorium alam untuk mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi (Iptek) di bidang kehutanan. Kawasan Hutan Diklat Sisimeni sanam (RTK.185) Pulau Timor secara keseluruhan telah disahkan sebagai kawasan hutan tetap pada tanggal 25 September 1982 oleh MenteriPertanian u.b. Direktur Jendral Kehutanan dengan fungsi sebagai hutan produksi terbatas, sehingga kawasan hutan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum. Dalam Permenhut No. 44 tahun 2012, tentang pengukuhan kawasan hutan dilakukan melalui tahapan penunjukan kawasan hutan, penataan batas kawasan hutan serta penetapan kawasan hutan. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Diklat Sisimeni sanam telah ditetapkan melalui Keputusan MenteriKehutanan No. SK. 367/Menhut-II/2009 dengan luas ± 2.973,20 ha dan panjang 37,94 km. Sebelum ditunjuk sebagai kawasan hutan pendidikan dan pelatihan berstatus sebagai Register Tanah Kehutanan (RTK) 185 kelompok hutan Sisimeni Sanam, dikelola sebagai Hutan Produksi oleh RPH Camplong, BKPH Camplong, CDK Kupang. Kurangnya sosialisasi dan komunikasi dari pihak pengelola dengan masyarakat Desa Sillu, mengakibatkan kurangnya pemahaman danwawasan masyarakat tentang Keberadaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap, persepsi, perilaku mayarakat lokal terhadap keberadaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam dan untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk sekitar kawasan Hutan Diklat Sisimeni Sanam yang berjumlah 91 jiwa, dengan penentuannya menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sikap dan partisipasi masyarakat terhadap Hutan Diklat Sisimeni Sanam di Desa Sillu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur tergolong pada kategori baik (60.93% dan 79,08%), sedangkan tingkat persepsi dan perilaku mayarakat lokal terhadap keberadaan Hutan Diklat Sisimeni Sanam tergolong pada kategori netral (50,92% dan 52,59%).
Studi Perilaku (Aktivitas Harian) Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Kelimutu, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur Wilhelmiana Djaga; Mamie E Pelondo'u; Maria M. E. Purnama
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3405

Abstract

Long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) are non-human primates that live in groups and are inextricably linked to social interactions between individuals in a population and cause many different activities. Activities that occur can indicate the use and feasibility of the habitat and the distribution of the niche by each long-tailed macaque (Macaca fascicularis). The Kelimutu National Park is one of the habitats of long-tailed macaques (Macaca fascicularis), one of the efforts to preserve the population of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) in natural habitats. This study is designed to determine the daily behavior of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) and was carried out from July to August 2019 in Kelimutu National Park, Kelimutu District, late Regency, East Nusa Tenggara Province. Observation and data acquisition are carried out according to the focal point method and the ad libitum method with a recording duration of 5-10 minutes. After the data is obtained, it is analyzed descriptively and the percentage of daily activity of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) is calculated using the frequency percentage formula. The results showed that the activities that were frequently performed by long-tailed macaques (Macaca fascicularis) moved with 35% presentation, followed by 24% feeding activity, 22% nursing activity, 9% rest activity, 7% social activity and 3% agonistic activity.
STUDI PENGEMBANGAN EKOTORISME DAN EVALUASI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN PADA AREAL PENGELOLAAN KPHL KOTA KUPANG Nixon Rammang; Maria M. E. Purnama; Lusia Sulo Marimpan
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.3672

Abstract

KPHL City of Kupang has a strategic role in creating forest sustainability, community welfare and at the same time accommodate the demands and interests of the central government and regional governments. Some of the strategies that can be done include optimizing community access to forests as an effort to resolve conflict, and improve community welfare. The exixtence of KPH organization at the field level thats close to the community will make it easier to understand the dynamic and the real issues at the field level, and at the same time being alternative solution for the conflict resolution. One of the potentials that is expected to be the main source of revenue for the Kupang City KPHL is Ecotourism. Ecotourism is a recreational and tourism activities that utilize the potential of natural resources, both in natural conditions and after cultivation. Ecotourism development is expected to begin in the first year of KPH Management. The initial step that is planned to be undertaken is to build supporting facilities and infrastructure such as gates, huts, food outlets, road infrastructure and conduct promotions. To be able to calculate the projected value of the economic benefits of nature tourism, it is necessary to develop business plans for each of these attractions. The strategies that can be carried out for ecotourism development in the KPH of Kupang City include the following; (1) promoting through social networking, (2) installing photographs and banners in places frequented by tourists, (3) selling tour packages based on tourist conditions and locations, (4) developing and fulfilling infrastructure (roads, facilities and other infrastructure (5) Participating in exhibitions organized by government and private institutions and (6) Promotion through the website.
PEMANFAATAN SISTEM AGROFORESTRY TERHADAP PENDAPATAN PETANI DI KELOMPOK TANI HUTAN NEKAMESE, DESA EKATETA, KECAMATAN FATULEU, KABUPATEN KUPANG, PROVINSI NUSA TERNGGARA TIMUR Runi Febriani Boimau; Maria M. E. Purnama; Mamie E Pelondo'u
Wana Lestari Vol 3 No 1 (2021): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v4i01.4873

Abstract

‘Nekamese’ forest farmer group is one of the forest farmer groups located in Diklat Sesimeni Sanam forest area, Kupang Regency. This study aims to determine the benefits of applying the agroforestry system to the income of farmers in ‘Nekamese’ forest farmer group in Ekateta Village, Fatuleu District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province. This data collection technique consists of interview and observation. Based on the research results, ‘Nekamese’ forest farmer group applies an Agroforestry system with an Agrosilvopastura pattern where the Agroforestry land managed is planted with agricultural plants such asZea mays L., Capsicum annum L., Musa sp,Brasissca chinensis Var,Cocos mucifera and Allium cepa L.;also forestry plants such as Gmelina arborea Roxb,Swietenia mahagoni, Cassia siamea, Paraseriantis falcataria, Santalum album L.,Vachellia leucophala and there are also livestock raising such as cows, goats and pigs. The contribution of Agroforestry and non-agroforestry to the farmers’ income in‘Nekamese’ forest farmer group are for Agroforestry income is IDR 135.185.000 with the percentage is 81.35% per year and non-agroforestry is IDR 31,000,000with thepercentage is 18.65% per year. This shows that the Agroforestry system has a very important role for the needs and income of farmers in ‘Nekamese’ forest farmer groups.
STUDI PERILAKU HARIAN MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DI KAWASAN HUTAN RESORT RANAMESE, TAMAN WISATA ALAM RUTENG, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Marianus Dedi Dahar; Maria M. E. Purnama; Norman P.L.B. Riwu Kaho
Wana Lestari Vol 3 No 2 (2021): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v5i02.6186

Abstract

This research is about the Study of the Daily Behavior of the Long Tailed Monkey (Macaca fascicularis) in the Forest Area of ​​the Ranamese Resort, Ruteng Nature Tourism Park, East Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province. The purpose of this study was to determine the daily behavior of long-tailed monkeys in the forest area of ​​Ranamese Resort, Ruteng Nature Tourism Park, East Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province. This research has been carried out during July-September 2020. The study began with collecting the location points of the long-tailed monkeys found using GPS Garmin 64S in three time periods with an interval of 2 hours, namely in period I (at 06.00/08.00 WITA), period II (at 10.00/12.00 WITA). , period III (15.00/17.00 WITA) accompanied by observations of the number of behaviors of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) using the focal animal sampling method. The data obtained were analyzed using non-parametric statistics with the Kruskal Wallis H test. The results showed that the total number of direct encounter points of long-tailed monkeys was 363 points. The highest number of direct encounter points for long-tailed monkeys was in period I (06/08 WITA) with a total of 160 points.The daily behavior frequency of long-tailed monkeys in the Forest Area of ​​Ranamese Resort, Ruteng Nature Tourism Park, East Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province, namely the behavior of moving / moving with a number of 973 (28%) followed by eating behavior 855 (25%), social 706 (21%), agonistic 269 (8%), grooming 251(7%), resting 233 (7%), sexual/mating 134 (4%), nesting 0 (0%). The most dominant behavior of moving/moving while the lowest behavior is making nests. The results of Kruskal Wallis' H test showed that there was a very significant difference between different types of behavior categories (P < 0.05).
KEANEKARAGAMAN VEGETASI MANGROVE (STUDI KASUS DI DESA KALIKUR WAIKORO LEULALENG, KECAMATAN BUYASURI, KABUPATEN LEMBATA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) Ikujram Goasyah; Maria M. E. Purnama; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 3 No 2 (2021): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v5i02.6188

Abstract

This Research was conducted to determine the diversity of Mangrove vegetation. This Research was conducted in Kalikur Vilage, Waikoro Leulaleng, Buyasuri District, Lembata Regency, East Nusa Tenggara Province. It Was conduted for 1 month, from September to October 2020. This study used the Vegetation Analysis method, transect track, and interviews with data analysis using qualitative descriptive analyisis and quantitative descriptive analysis. The data was processed using the Shannon Wiener (H’) diversity index formula. The results showedthe Mangrove vegetation found ther were 4 types of Mangrovethat is Sonniratia alba, Rhizophora apiculata, Rhizophora mukronata, and Bruguiera gymnoriza. Based on vegetation analysis shows the value of density, frequency, dominance and INP values of Sonniratia alba type is higher than the other type. This shows that Sonniratia alba is able to adapt to the environment. The results of the Mangrove type of calculation of observation showed the diversity of types at all levels indicates disruption and pressure by outer factors due to the upset of tidal causes that causes the body’s mechanich to unfluence bad, and distrub the exchange of gas, soil water and the atmosphere.