Claim Missing Document
Check
Articles

STASIUN CUACA MINI UNTUK PERTANIAN LAHAN KERING KEPULAUAN TERINTEGRASI IOT Hevenly I.A. Berubu; Ali Warsito; Andreas C. Louk; Bernandus, Bernandus; Theodosius Laubase; Nixon Rammang; Agusthinus Sampeallo; Kalvein Rantelobo
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 7 (2025): Desember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan yang dilakukan ini adalah Pemberdayaan Masyaraka yang bertujuan untuk membangun sistem sensor terpadu yang akan diterapkan pada mitra berupa inovasi pertanian lahan kering kepulauan yang terintegrasi IoT. Dua buah prototype alat ukur untuk dua parameter ukur berbeda yaitu anemometer dan curah hujan yang terintegrasi IoT sebagai dasar inovasi. Sistem sensor yang dibangun dapat bekerja dengan baik, memiliki penyajian data yang konsisten dan real-time. Prototype anemometer yang dibangun memiliki tingkat presisi yang baik namun akurasi yang cukup rendah di mana koefisien deteminan berturut-turut R² = 9x10-6, R² = 0,1634, dan R² = 0,0239, dengan perentase perbedaan nilai relatif 21,29%, 25,14%, dan 25,46%. Prototype Tipping-Bucket Rain Gauge dalam pengukuran curah hujan memiliki akurasi pengukuran yang cukup baik dengan presentase akurasi pengukuran sebesar 95,55%.
PENDUGAAN SIMPANAN BIOMASSA DAN KARBON JENIS AMPUPU (Eucalyptus urophylla) PADA KAWASAN HUTAN TAMAN WISATA ALAM RUTENG DI RESORT KONSERVASI WILAYAH I GOLO LUSANG, KECAMATAN LANGKE REMBONG, KABUPATEN MANGGARAI, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Nixon Rammang; Lusia Sulo Marimpan; Erefansius K. Aldi
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1903

Abstract

Forests can absorb CO2 in the atmosphere through photosynthesis. CO2 that accumulates in the atmosphere will cause the effects of Green House Gases that can cause global warming. Forests are a major carbon storage in global ecosystems so their role in the global carbon cycle is very important, both in the form of carbon storage or carbon flux. This study aims to estimate the biomass deposits and carbon of the Ampupu (Eucalyptus urophylla) forest in the Ruteng Nature Tourism Park, Resort I Golo Lusang. This study uses a systematic method by census. The amount of biomass and carbon reserves of each species of Ampupu (Eucalyptus urophylla) is calculated by the Allometric equality. The total biomass content in the study location was 9.82 Tons/Ha, the tree phase was 7.60 tons / ha, the pole phase was 1.86 Tons/Ha, the sapling phase was 0.36 Tons/Ha and seedlings were 0. Total carbon content in the study location of 3,03 Tons/Ha, the tree phase was 2.34 Tons/Ha, the pole phase was 0.58 Tons/Ha, the sapling phase was 0.11 Tons/Ha and the seedling phase was 0.
IDENTIFIKASI DAERAH JELAJAH RUSA TIMOR (Rusa timorensis) DI TAMAN WISATA ALAM PULAU MENIPO, KECAMATAN AMARASI TIMUR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nixon Rammang; Margareth H. R. Turwewi; Ludji Michael Riwu Kaho; Norman P.L.B. Riwu Kaho
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1905

Abstract

Deer is a source of animal wealth in Indonesia, consisting of four endemic species, namely: Muntjak Deer (Muntiacus muntjak), Bawean Deer (Axis kuhlii), Sambar Deer (Cervus unicolor), and Timor Deer (Russa timorensis). Timor deer is a species of tropical deeroriginating from Java, often found in various Indonesian archipelago both in its natural habitat and in captivity, management of Timor deer under the Directorate General of Forestry, Nature Conservation and the Ministry of Forestry, its existence is feared to be extinct by the threat of poaching and habitat destruction (Lelono, 2003). The Timor deer (deer timorensis) is one of the most protected wildlife in Indonesia, based on the regulation of the Minister of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia number P.106 in 2018 on species of plants and animals Protected, from all forms of hunting, arrest and possession. Field observations are used for two periods, the first period is 06.00 - 10.00 and the second period is 15.00 - 18.00 which is used in data collection for the home range is the Minimum Convex Polygon method and the most commonly used is core utilization or regional data collection, the kernel utilization distribution method. The results showed that the area of deer Timor was scattered in the region, with the area of Timor deer exploration in TWA Menipo Island area of 3425 km2 or 306 hectares (Ha) (12.49% of the total area of TWA Menipo Island) and the core area of 1776 km2 or 170 hectares (Ha) (6.94% of the total area of TWA Menipo Island).
ANALISIS PENDAPATAN DAN RANTAI PEMASARAN USAHATANI KEMIRI (Aleurites moluccana Willd) DI DESA BANGKA ARUS, KECAMATAN POCO RANAKA TIMUR, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Kamelia S. M. Risna; Paulus Un; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1906

Abstract

This study aims to analyze: 1) how the technical aspects of Candlenut cultivation; 2) how much income and profits of farmers; 3) how is the marketing chain of Candlenut. This research was conducted in Bangka Arus Village, Poco Ranaka Timur District, Manggarai Timur Regency. The survey method was conducted in December 2018 - January 2019. Data collected in the form of primary data and secondary data. Primary data was obtained through interviews with 210 farmers who were determined based on simple random sampling and secondary data obtained from the stakeholders. The data analysis used was descriptive analysis and analysis of farm income, as well as the R/C ratio. The results of research showed that: 1) the technical aspects of Candlenut farming (Aleurites moluccana Willd) in Bangka Arus Village, Poco Ranaka Timur District, Manggarai Timur Regency were sources of seeds, planting and spacing, maintenance, age of plants, other types of plants, soil types, and slope of land; 2) total costs incurred by 210 respondent farmers in Bangka Arus Village were Rp 77.850.000 with an average of Rp 370.714 per respondent farmer while the total receipt was Rp 753.006.000 with an average of Rp 3.485.743 per respondent farmer. The total income received by respondent farmers was Rp 675.156.000 with an average of Rp 3.215.028 per respondent farmer. Candlenut farming (Aleurites moluccana Willd) in Bangka Arus Village is feasible and profitable for farmers to cultivate with a revenue ratio with a total cost of 15,84; 3) there are four marketing chains of Candlenut in Bangka Arus Village, Poco Ranaka Timur District, Manggarai Timur Regency namely: I (farmers, village level collectors, district level collectors and wholesalers), II (farmers, village level collectors and wholesalers), III (farmers, district level collectors and wholesalers), IV (farmers and wholesalers).
KONTRIBUSI HUTAN JATI TERHADAP PENERIMAAN RUMAH TANGGA PETANI DI DESA PITAY, KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG Margaretha Tae; damianus Adar; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1907

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan rumah tangga petani dari hasil tanaman Jati di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. 2) Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan Rumah Tangga Petani secara total di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. 3) Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi hasil tanaman Jati terhadap penerimaan rumah tangga petani di Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara mewawancarai responden berdasarkan kuisioner, sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara mengambil data dari instansi yang mempunyai relevansi dengan judul penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yaitu terdiri dari 24 Kepala Keluarga atau rumah tangga yang memiliki hutan Jati. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa penerimaan Rumah Tangga petani yang memiliki pohon Jati di Desa Pitay, dari penjualan pohon Jati sebesar Rp.32.075.000 dan jika di rata- ratakan maka setiap responden menerima Rp.1.336.458 dengan jumlah penerimaan terendah Rp.245.000, tertinggi Rp.6.750.000 dan terdapat simpangan sebesar Rp.1.371.769.Total Penerimaan responden sejak bulan Mei 2017 hingga Mei 2018 dari hasil penjualan pohon Jati, pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan, serta pekerjaan lain sebesar Rp.135.815.000dan jika di rata- ratakan maka setiap responden menerima Rp.5.658.958 dengan jumlah penerimaan terendah Rp. 835.000, tertinggi Rp.23.050.000 dan terdapat simpangan sebesar Rp.4.901.408. Kontribsusi dari penerimaan hutan Jati terhadap penerimaan total rumah tangga petani di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, selama 1 tahun yaitu sejak bulan Mei 2017 sampai dengan bulan Mei 2018, yaitu sebesar Rp.32.075.000dari total penerimaan. Hal ini menunjukkan bahwa dari total penerimaan petani yakni Rp.135.815.000, sebanyak 23,62 persen penerimaan berasal dari penjualan pohon Jati. Penerimaan tersebut pada umumnya digunakan petani untuk tambahan biaya sekolah anak- anak mereka.
IDENTIFIKASI HAMA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L.F) DI UDUKAMA, KECAMATAN TASIFETO BARAT, KABUPATEN BELU Antonius Metris Rampung; Wilhelmina Seran; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2577

Abstract

Pembangunan hutan tanaman seringkali menghadapi kendala teknis, dengan adanya ancaman serangan hama..Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas kayu Jatidan dapat menjadi faktor pembatas produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengidentifikasi jenis hama pada tanaman Jati (Tectona grandis) L.F. 2. Mengetahui populasi dan frekuensi kerusakan yang disebabkan oleh hama pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F). Penelitian ini dilakukan di hutan Jati Udukama, Kecamatan Tasifeto Barat, `Kabupaten Belu menggunakan metode survey yang dilakukan pada bulan mei- juli 2019.Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekuder.Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dilapangan dengan menggunakan klaster plot. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data menggunakan rumus frekuensi serangan: jumlah tanaman yang terserang/ jumlah tanaman yang diamati x 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) jenis hama yang ditemukan pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F) di Udukama, adalah: rayap (Neortemes tectonae), kutu putih (pseudococcus sp) dan empoasca sp. 2) Frekuensi keruskankan yang disebabkan hama pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F) adalah: rayap (Neortemes tectonae) 37,5%, kutu putih (pseudococcus sp) 14,4 % dan Empoasca sp 5,3% serta tingkat kerusakan oleh hama rayap kategori agak berat, kutu putih katogori ringan, dan empoasca kategori ringan. 3). Populasi hama rayap Rayap (Neortemes tectonae) pada minggu pertama (113) ekor, minggu kedua (168) ekor, minggu ketiga (190) ekor, dan minggu keempat (243) ekor. Kutu putih (pseudococcus sp) pada minggu pertama (35) ekor, minggu kedua (53) ekor, minggu ketiga (78) ekor, dan minggu keempat (92) ekor dan Empoasca SP pada minggu pertama (17) ekor, minggu kedua (35) ekor, minggu ketiga (48) ekor, dan minggu keempat (72) ekor
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HUTAN TAMAN WISATA ALAM BAUMATA,DI DESA BAUMATA KECAMATAN TAEBENU, KABUPATEN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Eldo Carlito Kemis; Lusia Sulo Marimpan; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2582

Abstract

Taman Wisata Alam, sebagaimana kawasan konservasi di Indonesia dipengaruhi oleh masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan, Salah satunya Taman wisata alam Baumata. Taman Wisata Alam Baumata berada dalam wilayah pemangkuan Resort Konservasi wilayah Taman Wisata Alam Baumata, Seksi Konservasi Wilayah II Camplong, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Soe pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur. Masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan konservasi tetap akan bertindak sebagai aktor utama yang mungkin akan memberikan dampak negatif maupun positif terhadap hutan. Masyarakat di sekitar dan di dalam hutan pada umumnya merupakan masyarakat yang tertinggal. Kondisi sosial ekonomi golongan masyarakat ini pada umumnya masih rendah. Hal ini salah satunya disebabkan adanya pengabaian kepentingan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan hutan. Sehingga akhirnya timbul kecemburuan sosial masyarakat setempat terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap, persepsi, perilaku masyarakat mengenai Hutan Taman Wisata Alam Baumata dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Hutan Taman Wisata Alam Baumata. Sampel yang digunakan dalam peneletian ini adalah penduduk Desa Baumata yang berjumlah 84 jiwa, dengan penentuannya menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa sikap, persepsi, partisipasi dan perilaku terhadap Hutan Taman Wisata Alam Baumata, di Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggar Timur tergolong sangat baik.
ANALISA PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE DI PANTAI UTARA KABUPATEN SIKKA, BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Nixon Rammang; Fransiskus R Meda; Norman P.L.B. Riwu Kaho; Ludji Michael Riwu Kaho
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2587

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tutupan lahan mangrove dan perubahan tutupan lahan mangrove Pantai Utara Kabupaten Sikka dari tahun 1988, 1998, 2008 sampai tahun 2018, berbasis Sistem Informasi Geografis dan mengetahuiperubahan kepadatan tutupan lahan mangrove di Pantai Utara Kabupaten Sikka, berbasis Sistem Informasi Geografis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua metode antara lain metode OBIA (Object Based ImageSegmentation) dan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Penelitian ini dilaksanakan disepanjang jalur pantai utara Kabupaten Sikka selama bulan Januari sampai April 2019. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada tahun 1988-1998tutupan mangrove tersebut berkurang seluas 130 ha menjadi 2768 ha, tahun 1998- 2008 berkurang seluas 1376 ha menjadi 1392 ha, tahun 2008-2018 meningkat sebanyak 1061 ha menjadi 2.453 ha. Faktor pemicu yang terjadi jalur pantai utaraKabupaten Sikka pada kurung waktu tersebut antara lain terjadi tsunami yang berkekuatan 6,5 SR, abrasi dan angin/badai, serta peningkatan luasan mangrove disebabkan oleh penerapan sistem hybrid engineering oleh masyarakat setempatbersama WII (Wetlands International Indonesia)
PEMANFAATAN JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG ROKORAKA (Studi Kasus Desa Reda Pada, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya) Maria Helmince Dangga; Wilhelmina Seran; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2592

Abstract

Tumbuhan obat memiliki manfaat yang cukup besar bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang jenis-jenis tumbuhan obat dan pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar kawasanhutan lindung Rokoraka. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi menggunakan metode jalur transek, sebanyak 55 plot dengan ukuran plot 2 x 2 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m, dan 20 x 20 m. Data yang dikumpulkan adalah data primerdan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 20 narasumber yang ditentukan dengan purposive sampling untuk mengetahui penggunaan berbagai jenis tumbuhan obat oleh masyarakat lokal dan observasilangsung dengan melakukan analisis vegetasi sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau lembaga terkait yang relevan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 31 jenis tumbuhan obat di Hutan Lindung Rokoraka. Hasil analisis pada tumbuhan obat tingkat semai diperoleh 26 jenis 16 obat dengan INP tertinggi 29,16 %, tingkat pancang diperoleh 14 jenis obat dengan INP tertinggi 34,58 %, tingkat tiang diperoleh 14 jenis obat dengan INP tertinggi 37,55 % dan tingkat pohon diperoleh 11 jenis obat dengan INP tertinggi 49,31 %. Masyarakat lokal menggunakan 18 jenis tumbuhan obat yang berasal dari kawasan Hutan Lindung Rokoraka. Informasi potensi tumbuhan obat yang ada di kawasan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan dapat mendukung upaya konservasi untuk tetap menjaga kelestariannya.
EVALUASI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG MUTIS TIMAU DENGAN POLA AGROFORESTRY Yollis C.S Sakan; Wilhelmina Seran; Nixon Rammang
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3397

Abstract

Administratively, the Timau Mutis nature reserve extends to the reigns of Mollo Utara and the reigns of Timor Tengah Selatan. Natural conditions that are fertile and nutrient-rich encourage people to apply agroforestry patterns in their management. So far, however, it is not known which agroforestry management pattern is used by communities around the forest. This study aims to determine the management of the protected forest of Mutis Timau according to the agroforestry model in the village of Fatukoto. The research method used is descriptive and sampled according to the Slovenian formula.The main components of the forest protected by Timau Mutis in the village of Fatukoto are dominated by Cemara and Ampupu. There are other forestry products, namely mahogany, melina, mango and turi. The dominant agricultural raw materials are cassava, sweet potato, and carrots and oranges, which are classified as plantation raw materials. The implementation of the protection forest management based on eight indicators shows that 79.90% of the population has a good understanding and management techniques for the management of the protected forest of Mutis Timau according to the agroforestry model. The high level of implementation is also reflected in the reduction in open spaces, which is reflected in the differences in the maps of the Mutis Timau protected area in 1983 and 2019. The management of the protected forest of Mutis Timau with alternating agroforestry patterns (alternative lines) falls into the good category. The people in the village of Fatukoto, who live around the protected forest of Mutis Timau, have also directly or indirectly felt the advantages of forest management with the applied agroforestry pattern.
Co-Authors Agusthinus Sampeallo Akwilin Nay Ali Warsito Andreas C. Louk Antonius Metris Rampung Arianto Joh Astin E. Mau Bernandus Bernandus Bernandus, Bernandus Christanty Wahyuni Selan Corna Juliuster Marlin Selan Damianus Adar Dian Kana Huru Diana Soli Laxina Ngongo Eldo Carlito Kemis Elfrida Kastila Ine Tiga Elisa Iswandono Elyn Novtansya Pelupessy Erefansius K. Aldi Florentina Jebaru Fransiskus R Meda Heni D A'oetpah Hevenly I.A. Berubu Hilda Audreya Consita Soares I Nyoman W. Mahayasa I Wayan Mudita Ikujram Goasyah Irene Ascicin Johanna Suek Juniawan Amir Kalvein Rantelobo Kamelia S. M. Risna Ludji Michael Riwu Kaho Ludji Michael Riwu Kaho Lusia Sulo Marimpan Lusia Sulo Marimpan Mamie E Pelondo'u Mamie E. Pellondo’u Mamie E. Pelondo'u Mamie Elsyana Pellondo'u Mamie Elsyana Pellondou Margareth H. R. Turwewi Margaretha Tae Maria Helmince Dangga Maria Henindra Martin Seran Maria M. E. Purnama Maria M. E. Purnama Maria Manggiasih Meo Due Maria Margaretha Uge Mario Fernando Eni Embu Marsela Cerlina Melan I Mesakh Neti Nenabu Norman P. L. B. Riwu Kaho Norman P.L.B. Riwu Kaho Norman P.L.B. Riwu Kaho Ofliyani Yeni Sanrina Tabana Oki Hidayat Pamona S. Sinaga Pamona Silvia SINAGA Paulus Un Paulus Un Pramatana, Fadlan Priskila Kurniawat Ayu Prudensia Wea Putri Rai Sae Samuel Abraham Ayub Meko Sarida Oktavia Deku Selvia Alfionita Dhiu Sion Christanto Kaho Hinga Sixta Angrainy Lagur Stefan E. D. Atawatun Stefania Santy Sirik Sukartino Habamananga Suryani Suryani Theodosius Laubase Theresia Luku Lea Leri Trison Meiwilson Heri Veronika Anna Lamen Vinsensia Dolorosa Golu Ruron Vinsensus Dominggus Dolet Wihelmina Seran Wilhelmina Seran Wilhelmina Seran Yohana Chandrya Inggrid Meo Yollis C.S Sakan