Akbar Adiwinata
Universitas Bumigora

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konstruksi Maskulinitas pada Era Orde Baru dalam Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Akbar Adiwinata; Abdul Muhid; Sutarman Sutarman; Zainudin Abdussamad
DIDAKTIS : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4 No 1 (2026): DIDAKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Fakultas Sastra, Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/didaktis.v4i1.1056

Abstract

Films often represent masculinity as a social construction shaped and legitimized by state power. This study examines how the state produces and regulates various forms of masculinity in the film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Rather than portraying masculinity as a single and stable identity, the film challenges state-supported hegemonic masculinity by presenting masculine identities as diverse, fluid, and continuously negotiated within particular socio-political contexts. This research employs a multimodal discourse analysis approach to explore the relationship between state authority, gender ideology, and cinematic representation. The findings indicate that the state reinforces hegemonic masculinity through regulatory practices that reproduce patriarchal values and maintain social hierarchies. At the same time, the film opens spaces of resistance, especially for heterosexual men who do not fully conform to dominant masculine norms, enabling them to renegotiate their social position within the masculine order. Although the film was produced during the Reformasi era while narratively set in the Orde Baru period, it reflects a transitional moment in which masculinity is increasingly understood as contested and unstable. The boundaries of masculinity become more flexible, allowing the emergence of new forms of gender negotiation. This study demonstrates that cinema can critically interrogate state-constructed models of masculinity while offering alternative interpretations of masculine identity in post–Orde Baru Indonesian film.
Representasi Budaya Patriarki dan Diskriminasi Gender Abad Ke-19 dalam Serial Netflix Anne with an E: Kajian Feminisme Liberal Naomi Wolf: Representation of Patriarchal Culture and Gender Discrimination in the 19th-Century in Netflix Series Anne with an E: A Liberal Feminism Study of Naomi Wolf Akbar Adiwinata; Diah Supatmiwati
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2597

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh budaya patriarki terhadap munculnya diskriminasi gender serta mengidentifikasi bentuk perlawanan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam serial Anne with an E dalam upaya memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu dat primer dan data sekunder. Data primer penelitian ini berupa adegan dan dialog dalam serial Anne with an E, sedangkan data sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan referensi daring yang relevan. Penelitian ini menerapkan metode analisis kualitatif dengan menggunakan perspektif feminisme liberal Naomi Wolf sebagai kerangka teoritis dalam menafsirkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik budaya patriarki berkontribusi terhadap munculnya berbagai bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh-tokoh perempuan. Bentuk diskriminasi tersebut tampak dalam beberapa aspek kehidupan, seperti dalam bidang pendidikan, kesempatan kerja, pernikahan, serta kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidup. Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam serial tersebut menampilkan berbagai strategi perlawanan sebagai respons terhadap ketidaksetaraan yang mereka alami. Bentuk-bentuk perlawanan tersebut diwujudkan melalui peningkatan kesadaran ideologis mengenai kesetaraan gender, pembentukan komunitas yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, kampanye mengenai kebebasan berpendapat dan berekspresi, upaya pembaruan dalam sistem pendidikan, serta dorongan bagi perempuan untuk berpartisipasi secara aktif dalam ranah politik. Temuan ini menunjukkan bahwa representasi gerakan feminisme dalam serial tersebut menjadi sarana untuk menggambarkan perjuangan perempuan dalam menuntut pengakuan hak dan kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial.