Fery Muhamad Firdaus
Program Studi Magister Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH MEDIA FLASHCARD TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA HURUF PADA ANAK HAMBATAN INTELEKTUAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Helen Sagita; Fery Muhamad Firdaus
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13873

Abstract

Letter-reading ability is a fundamental literacy skill that remains challenging for students with intellectual disabilities due to limitations in memory, attention, and information processing. These limitations often hinder students' ability to recognize and distinguish letters, affecting the development of subsequent reading skills. Previous studies have reported the effectiveness of visual learning media in improving early reading skills; however, studies specifically examining the effectiveness of flashcard media for junior high school students with intellectual disabilities using a Single Subject Research (SSR) approach remain limited. Therefore, this study was conducted to provide empirical evidence regarding the effectiveness of flashcard media as an individualized intervention. This study aimed to examine the letter-reading ability of a student with an intellectual disability before and after the implementation of a flashcard-based intervention and to determine its effect on improving letter-reading ability. A quantitative approach employing a Single Subject Research (SSR) method with an A-B-A design was used. The participant was one purposively selected junior high school student with an intellectual disability who experienced difficulties in letter recognition and reading, consistent with the SSR approach that focuses on an in-depth analysis of behavioral change in a single participant. Data were collected through alphabet letter-reading tests (A–Z) and tests requiring the student to distinguish commonly confused letters. The data were analyzed using visual analysis within and across conditions based on scores obtained during the baseline and intervention phases. The findings showed that the participant's letter-reading ability before the intervention remained in the low category, with scores ranging from 46% to 50%. Following the flashcard intervention, the scores increased to 61% in the first intervention session, 73% in the second session, and 76% in the third session. The ability to distinguish commonly confused letters also improved from 25% during the baseline phase to 88% in the final intervention phase. These findings indicate that flashcard media had a positive effect on improving the letter-reading ability of a junior high school student with an intellectual disability. ABSTRAK Kemampuan membaca huruf merupakan keterampilan literasi dasar yang masih menjadi tantangan bagi anak dengan hambatan intelektual karena keterbatasan dalam memori, perhatian, dan pemrosesan informasi. Kondisi tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan mengenali dan membedakan huruf sehingga menghambat perkembangan kemampuan membaca pada jenjang berikutnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa media visual dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca permulaan, namun kajian yang secara spesifik menguji efektivitas media flashcard pada siswa hambatan intelektual tingkat SMP dengan pendekatan Single Subject Research (SSR) masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memperoleh bukti empiris mengenai efektivitas penggunaan media flashcard sebagai intervensi individual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca huruf pada anak hambatan intelektual sebelum dan sesudah diberikan intervensi menggunakan media flashcard, serta mengetahui pengaruh media tersebut terhadap peningkatan kemampuan membaca huruf. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Single Subject Research (SSR) desain A-B-A. Subjek penelitian terdiri atas satu siswa hambatan intelektual tingkat SMP yang dipilih secara purposif karena mengalami kesulitan membaca huruf dan sesuai dengan karakteristik penelitian SSR yang berfokus pada analisis perubahan perilaku secara mendalam pada satu subjek. Data dikumpulkan melalui tes membaca huruf alfabet A–Z dan tes membedakan huruf yang sering tertukar, kemudian dianalisis menggunakan analisis visual dalam kondisi dan antar kondisi berdasarkan skor pada fase baseline dan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca huruf sebelum intervensi berada pada kategori rendah dengan persentase 46%–50%. Setelah diberikan intervensi menggunakan media flashcard, kemampuan membaca huruf meningkat menjadi 61% pada sesi intervensi pertama, 73% pada sesi kedua, dan 76% pada sesi ketiga. Kemampuan membedakan huruf yang sering tertukar juga meningkat dari 25% pada fase baseline menjadi 88% pada fase intervensi terakhir. Hasil tersebut menunjukkan bahwa media flashcard memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan membaca huruf pada siswa hambatan intelektual tingkat SMP.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS NARASI MURID SLOW LEARNER MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI DI SMP Pita Ayu Dwi Patma Kusumawati; Fery Muhamad Firdaus
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13874

Abstract

This study aims to determine the improvement of narrative text writing skills among slow learner students at SMPN 1 Muara Bengkal, as well as to investigate the implementation of serial picture media in the learning process. The study was motivated by the students' low ability to generate ideas, organize the sequence of events, use appropriate vocabulary, and construct coherent paragraphs, resulting in narrative texts that were still of low quality and poorly organized. This study employed a qualitative approach using Classroom Action Research (CAR), which was conducted in two cycles. Each cycle consisted of planning, action, observation, and reflection stages. The research subject was a seventh-grade student at SMPN 1 Muara Bengkal who was identified as a slow learner. Data were collected through observation, interviews, documentation, and narrative writing tests. The intervention involved the use of serial picture media to help the student understand story sequences visually and systematically.  The results showed that the use of serial picture media improved the narrative writing skills of the slow learner student. The student’s pre-cycle score of 50% increased to 55% in Cycle I and further improved to 70% in Cycle II. In addition, the student’s learning activities improved from the fair category to the good category. The student became more active, focused, and capable of organizing story events more coherently after the implementation of serial picture media in the learning process. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis teks narasi pada murid slow learner di SMPN 1 Muara Bengkal, serta mengetahui penerapan media gambar berseri dalam pembelajaran. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan murid dalam menyusun ide, mengurutkan alur cerita, menggunakan kosakata yang tepat, dan menyusun paragraf secara runtut sehingga hasil tulisan narasi yang dihasilkan masih rendah dan kurang terstruktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah murid kelas VII SMPN 1 Muara Bengkal dengan fokus utama pada satu murid slow learner. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes hasil belajar menulis teks narasi. Tindakan yang diberikan berupa penggunaan media gambar berseri sebagai media pembelajaran untuk membantu murid memahami alur cerita secara visual dan sistematis.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar berseri dapat meningkatkan kemampuan menulis teks narasi murid slow learner. Nilai prasiklus sebesar 50% meningkat menjadi 55% pada siklus I dan kembali meningkat menjadi 70% pada siklus II. Selain itu, aktivitas belajar murid juga mengalami peningkatan dari kategori cukup menjadi baik. Murid terlihat lebih aktif, fokus, dan mampu menyusun alur cerita secara lebih runtut setelah penggunaan media gambar berseri dalam pembelajaran.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TERMODIFIKASI UNTUK MENINGKATKAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS VI DENGAN HAMBATAN MEMBACA SPESIFIK Yuniati; Fery Muhamad Firdaus
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13881

Abstract

Reading comprehension is a fundamental skill that remains challenging for students with specific reading difficulties because it affects their ability to understand information and participate effectively in classroom learning. This study aimed to examine the improvement in reading comprehension following the implementation of a modified active learning model for sixth-grade students with specific reading difficulties at SDN 007 Sangatta Selatan. The study employed a quantitative approach using a one-group pretest–posttest pre-experimental design. The participants consisted of two students purposively selected based on their identified specific reading difficulties. Data were collected through reading comprehension tests administered before and after the intervention, measuring three indicators: literal comprehension, simple inference, and the ability to identify main ideas and important information. The findings revealed an average improvement of 30% in the students' reading comprehension scores after the intervention. The greatest improvement was found in the simple inference indicator, whereas the smallest improvement occurred in identifying main ideas. These findings suggest that the modified active learning model has the potential to support the development of reading comprehension through structured, multisensory, and cognitively engaging learning activities. However, given the very small number of participants and the absence of a control group, the findings should be interpreted within the limited context of this study and require further investigation with larger samples. ABSTRAK Kemampuan membaca pemahaman merupakan kompetensi dasar yang masih menjadi tantangan bagi siswa dengan hambatan membaca spesifik karena memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami informasi dan mengikuti proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peningkatan kemampuan membaca pemahaman setelah penerapan model pembelajaran aktif termodifikasi pada siswa kelas VI dengan hambatan membaca spesifik di SDN 007 Sangatta Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental tipe one-group pretest–posttest. Subjek penelitian terdiri atas dua siswa yang dipilih secara purposive karena teridentifikasi mengalami hambatan membaca spesifik. Data dikumpulkan menggunakan tes membaca pemahaman sebelum dan sesudah intervensi yang mengukur tiga indikator, yaitu pemahaman literal, inferensi sederhana, serta kemampuan menentukan ide pokok dan informasi penting. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca pemahaman pada kedua subjek dengan rata-rata kenaikan skor sebesar 30% setelah mengikuti pembelajaran. Peningkatan terbesar terjadi pada indikator inferensi sederhana, sedangkan peningkatan terendah terdapat pada kemampuan menentukan ide pokok. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran aktif termodifikasi berpotensi mendukung peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran yang terstruktur, multisensori, dan berpusat pada aktivitas kognitif siswa. Meskipun demikian, mengingat penelitian hanya melibatkan dua subjek dengan desain tanpa kelompok kontrol, hasil penelitian ini perlu dipahami sebagai temuan pada konteks penelitian yang terbatas dan memerlukan pengujian lebih lanjut pada jumlah subjek yang lebih besar.