Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pura Lingsar sebagai Destinasi Wisata Budaya antara Sakralitas dan Komersialisasi Riski Sumardani; Anak Agung Ayu Ribeka Martha Purwahita; I Wayan Kartimin; I Made Weda Satia Negara
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v8i1.11313

Abstract

Pariwisata berbasis budaya terus menjadi penggerak ekonomi daerah, tetapi destinasi yang mengandung nilai kesakralan kerap berhadapan dengan dilema antara menjaga tradisi dan memenuhi tuntutan pasar wisata. Walaupun sejumlah penelitian telah menyoroti potensi gesekan antara sektor pariwisata dan ruang religius, kajian mengenai bagaimana komunitas lokal menegosiasikan batas kesakralan sembari meraih manfaat ekonomi masih relatif terbatas. Kekosongan inilah yang melatarbelakangi penelitian mengenai Pura Lingsar di Lombok, sebuah situs yang menggabungkan fungsi keagamaan dan aktivitas wisata. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana hubungan antara pariwisata dan kegiatan bisnis mempengaruhi tata kelola ruang sakral di Pura Lingsar, serta bagaimana masyarakat setempat untuk mempertahankan nilai adat dalam kondisi komersialisasi yang terus meningkat. Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dipilih karena pendekatan ini untuk peneliti menggali pemaknaan, persepsi, serta praktik sosial berbagai actor mulai dari wisatawan, tokoh adat, hingga pengelola pura lingsar secara lebih mendalam dan sesuai konteks lokal. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesakralan Pura Lingsar tetap terpelihara melalui manajemen berbasis kearifan lokal yang secara jelas memisahkan ruang inti sakral, seperti Kemaliq, yang aksesnya dibatasi, dari area luar yang boleh dimanfaatkan untuk kegiatan wisata seperti Ritual Perang Topat merupakan komodifikasi yang dikendalikan dengan cermat, di mana bagian depan situs dijadikan ruang tontonan, sementara area belakang tetap difungsikan untuk praktik esoteris tanpa keterlibatan pengunjung. Pendekatan tersebut menghasilkan hubungan saling menguntungkan antara kegiatan ekonomi pariwisata dan pelestarian budaya, sekaligus menggeser posisi komunitas dari pihak yang pasif menjadi pengelola aktif. Meski demikian, penelitian ini masih terbatas pada satu lokasi dan belum menelusuri aspek ekonomi secara kuantitatif. Oleh karena itu, studi berikutnya disarankan untuk memperluas objek kajian ke destinasi sakral lain serta memadukan metode kualitatif dan kuantitatif agar pemahaman mengenai keberlanjutan pariwisata budaya dapat diperoleh secara lebih utuh.
Cultural Heritage Tour Package Planning For Salt Education In Kusamba, Dawan District, Klungkung Regency I Wayan Agus Selamet; I Made Weda Satia Negara; Atabuy Frit Elisa Yonce; Komang Satya Permadi; I Made Sudana
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol. 8 No. 2 (2025): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v8i2.334

Abstract

This study aims is cultural heritage tour package planning for salt education in Kusamba, Dawan District, Klungkung Regency. The salt-making traditionan important form of intangible cultural heritage is experiencing decline due to low economic returns and shifting livelihood preferences among local residents. Recognizing its cultural value and tourism potential, this study aims to design an educational tourism package that can support cultural preservation and local empowerment. A qualitative research approach with a phenomenological and content analysis design was employed. Data were collected through field observations, in-depth interviews, and documentation involving salt farmers, community leaders, and tourism stakeholders. Data analysis followed the Miles and Huberman interactive model and was strengthened through triangulation and member checking. The findings reveal that Kusamba’s traditional salt production process provides strong experiential and educational value. Based on these findings, a one-day itinerary titled Cultural Heritage Salt Education Tour Kusamba was formulated. Marketing strategies are carried out through offline collaboration with travel agencies and brochure distribution, as well as online promotion via websites, social media, and online travel agents. TripAdvisor reviews indicate high appreciation for the authenticity and educational aspects of the experience. This research contributes a structured model for transforming declining traditional livelihoods into sustainable heritage-based educational tourism. The novelty lies in positioning salt education tourism as a replicable approach for community-based cultural revitalization in rural Indonesia.