Oktavianey Gasperius Patana Hamahena Meman
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Manghobasi dalam Batak Toba sebagai Ekspresi Kasih dan Persekutuan dalam Gereja Katolik: Studi Fenomenologis Ona Sastri Lumban Tobing; Exnasia Retno Palupi Handayani; Florentina Dwi Astuti; Oktavianey Gasperius Patana Hamahena Meman
Borneo Review Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/0gev5756

Abstract

The manghobasi tradition in Batak Toba culture represents a form of communal solidarity and mutual assistance deeply rooted in social life. Within the context of Batak Toba Catholic communities, manghobasi is not merely a social act but also an expression of love and ecclesial communion grounded in the teachings of Christ. This study aims to explore the meaning of manghobasi among Batak Toba Catholics and to identify the theological values embodied in this practice. The research employs a qualitative phenomenological approach, focusing on the lived experiences of Catholic believers who practice manghobasi. Data were collected through in-depth interviews and Questionnaire, then analyzed using data reduction, meaning categorization, and thematic description. The findings reveal that manghobasi encompasses three essential meanings: (1) as a manifestation of God’s love through selfless service to others; (2) as an expression of ecclesial communion, strengthening solidarity and togetherness within the community; and (3) as a form of inculturated Catholic faith in Batak Toba culture, where Gospel values are embodied in local tradition. Thus, manghobasi bridges faith and culture, serving as a pastoral inspiration for the Church to nurture love and solidarity among the faithful.
Eklesiologi Gereja Lokal: Studi Deskriptif tentang Kesadaran Identitas sebagai Gereja pada Mahasiswa Teologi Semester 3 di STAKat Negeri Pontianak Ona Sastri Lumban Tobing; Exnasia Retno Palupi Handayani; Florentina Dwi Astuti; Oktavianey Gasperius Patana Hamahena Meman
Borneo Review Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/nxgvvc63

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat kesadaran identitas sebagai Gereja pada mahasiswa Teologi semester 3 di STAKat Negeri Pontianak dalam perspektif eklesiologi Gereja lokal. Kesadaran identitas sebagai Gereja dipahami sebagai penghayatan diri sebagai umat Allah yang hidup, berkomunio, dan diutus dalam konteks konkrit komunitas pendidikan tinggi teologi. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dengan metode kuantitatif sederhana yang didukung data kualitatif, melalui penyebaran angket tertutup dan terbuka kepada mahasiswa semester 3 serta wawancara terbatas untuk pendalaman pengalaman dan refleksi iman. Data dianalisis untuk melihat pola pemahaman, sikap, dan praktik konkrit yang mencerminkan kesadaran identitas sebagai Gereja, khususnya dalam dimensi communio, partisipasi, dan misi di lingkungan kampus dan paroki. Hasil penelitian menunjukkan dari 17 mahasiswa, 65% menunjukkan kesadaran identitas sebagai umat Allah pada tingkat sedang tinggi (35% tinggi, 30% sedang). Dimensi communio: 70% rutin terlibat dalam komunitas kampus/paroki, tetapi hanya 41% merasa keterlibatan itu memperkuat rasa menjadi Gereja. Dimensi partisipasi: 59% pernah memimpin atau terlibat pelayanan liturgi/pastoral; 41% mengeluhkan keterbatasan kesempatan partisipasi. Dimensi misi: 47% terlibat pelayanan/pengabdian masyarakat dalam setahun terakhir; 62% dari mereka melihatnya sebagai ekspresi identitas eklesial. Wawancara mendalam mengonfirmasi bahwa pengalaman spiritual pribadi, komunitas inklusif, dan praktik pastoral konkret memperkuat identitas eklesial; hambatan utama adalah integrasi kurikulum, pendampingan, dan beban akademik. Kesimpulan bahwa Formasi teologis dan aktivitas rohani di STAKat Negeri Pontianak membentuk kesadaran eklesial mayoritas mahasiswa, namun tingkatnya bervariasi. Perlu penguatan communio dan perluasan peluang partisipasi praktis melalui integrasi praktik pastoral dalam kurikulum dan peningkatan pendampingan rohani bagi mahasiswa Teologi.