Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat kesadaran identitas sebagai Gereja pada mahasiswa Teologi semester 3 di STAKat Negeri Pontianak dalam perspektif eklesiologi Gereja lokal. Kesadaran identitas sebagai Gereja dipahami sebagai penghayatan diri sebagai umat Allah yang hidup, berkomunio, dan diutus dalam konteks konkrit komunitas pendidikan tinggi teologi. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dengan metode kuantitatif sederhana yang didukung data kualitatif, melalui penyebaran angket tertutup dan terbuka kepada mahasiswa semester 3 serta wawancara terbatas untuk pendalaman pengalaman dan refleksi iman. Data dianalisis untuk melihat pola pemahaman, sikap, dan praktik konkrit yang mencerminkan kesadaran identitas sebagai Gereja, khususnya dalam dimensi communio, partisipasi, dan misi di lingkungan kampus dan paroki. Hasil penelitian menunjukkan dari 17 mahasiswa, 65% menunjukkan kesadaran identitas sebagai umat Allah pada tingkat sedang tinggi (35% tinggi, 30% sedang). Dimensi communio: 70% rutin terlibat dalam komunitas kampus/paroki, tetapi hanya 41% merasa keterlibatan itu memperkuat rasa menjadi Gereja. Dimensi partisipasi: 59% pernah memimpin atau terlibat pelayanan liturgi/pastoral; 41% mengeluhkan keterbatasan kesempatan partisipasi. Dimensi misi: 47% terlibat pelayanan/pengabdian masyarakat dalam setahun terakhir; 62% dari mereka melihatnya sebagai ekspresi identitas eklesial. Wawancara mendalam mengonfirmasi bahwa pengalaman spiritual pribadi, komunitas inklusif, dan praktik pastoral konkret memperkuat identitas eklesial; hambatan utama adalah integrasi kurikulum, pendampingan, dan beban akademik. Kesimpulan bahwa Formasi teologis dan aktivitas rohani di STAKat Negeri Pontianak membentuk kesadaran eklesial mayoritas mahasiswa, namun tingkatnya bervariasi. Perlu penguatan communio dan perluasan peluang partisipasi praktis melalui integrasi praktik pastoral dalam kurikulum dan peningkatan pendampingan rohani bagi mahasiswa Teologi.