Muhammad Iqbal
Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

NILAI ESTETIS DAN SIMBOLIS ORNAMEN GONG NEKARA: STUDI KASUS WARISAN ZAMAN PERUNGGU KEPULAUAN SELAYAR Muhammad Iqbal; Meisar Ashari; Andi Baetal Mukaddas
Harmoni: Jurnal Pemikiran Pendidikan, Penelitian Ilmu-ilmu Seni, Budaya dan Pengajarannya Vol 11 No 2 (2021): HARMONI: OCTOBER 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muham

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/3ja8a598

Abstract

Nekara atau yang sering disebut gong perunggu, merupakan salah satu peninggalan dari hasil peninggalan kebudayaan don song, yang biasanya, pada masa itu digunakan sebagai alat upacara, simbol status sosial, alat musik dan benda pusaka dalam berbagai ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk visual ornamen yang terdapat pada Gong Nekara di Kampung Matalalang, Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan. Gong Nekara merupakan artefak perunggu  peninggalan kebudayaan Don song yang memiliki nilai historis dan estetis tinggi, serta menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Kepulauan Selayar, provinsi Sulawesi selatan. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis elemen visual ornamen seperti garis, bentuk, pola, dan komposisi yang ada pada gong nekara selayar, serta menginterpretasikan maknanya melalui pendekatan formalisme dengan menggunakan teori Significant Form oleh Clive Bell. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis data dilakukan dengan mengkaji struktur visual ornamen dan menghubungkannya dengan konteks estetika serta pengalaman visual yang ditimbulkannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ornamen pada Gong Nekara menampilkan pola- pola geometris, motif matahari, spiral, burung, dan figur antropomorfik yang disusun secara simetris dan ritmis. Bentuk-bentuk tersebut memiliki daya tarik visual yang kuat dan mampu membangkitkan emosi estetis, sebagaimana dijelaskan dalam teori Clive Bell. Selain itu, meskipun memiliki akar simbolik dalam budaya lokal, keindahan visualnya dapat dinikmati secara universal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian seni tradisional serta menjadi referensi dalam studi visual dan estetika ornamen Nusantara, khususnya di kawasan maritim seperti Kepulauan Selayar.