Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Black Woman Radicals (BWR) Advocacy Manifesto: Intersectional Feminist Analysis of Afro-Palestinian Layered Oppression Arina Nihayati; Larasati Larasati; Zhillan Zhalila Fahlevi; Luwemba Musa Maswanku
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 2 (2025): August
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i2.3385

Abstract

The Israeli-Palestinian conflict has drawn global attention for decades, involving not only states but also international organizations, individuals, and non-governmental organizations. Media coverage often simplifies the conflict as Israeli Defense Force (IDF) vs Hamas or Jews vs Arabs. However, Afro-Palestinian communities face layered oppression that goes underreported—experiencing marginalization both as Black people and as Palestinians. This study aims to analyze how the Black Women Radicals (BWR) movement advocates for Afro-Palestinians through a transnational and intersectional feminist lens. Using an integrative review method, this study systematically examines data such as advocacy manifestos, organizational campaigns, and scholarly articles. Findings show that BWR’s initiatives highlight the intersection of race, nationality, and gender within systems of oppression. Kimberlé Crenshaw’s theory of intersectionality becomes crucial in interpreting BWR’s advocacy as a response to Afro-Palestinians’ structural invisibility and multidimensional subjugation.Konflik Israel dan Palestina telah menjadi perhatian global selama beberapa dekade, melibatkan negara, organisasi internasional, individu, hingga lembaga non-pemerintah. Media kerap membingkai konflik ini secara biner sebagai Israel Defense Force (IDF) melawan Hamas atau Yahudi melawan Arab. Namun, kelompok Afro-Palestina mengalami opresi berlapis yang luput dari pemberitaan utama—sebagai warga Palestina sekaligus ras kulit hitam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana gerakan Black Women Radicals (BWR) melakukan advokasi terhadap Afro-Palestina melalui pendekatan feminisme interseksional dan advokasi transnasional. Menggunakan metode integrative review, studi ini mengkaji berbagai data seperti manifesto advokasi, kampanye organisasi, dan artikel akademik. Temuan menunjukkan bahwa inisiatif BWR menyoroti pertemuan antara ras, kewarganegaraan, dan gender dalam sistem penindasan struktural. Teori interseksionalitas dari Kimberlé Crenshaw penting untuk memahami advokasi BWR sebagai respons terhadap ketaknampakan struktural dan subordinasi multidimensi yang dialami Afro-Palestina.
Gender Dynamics in ASEAN Economic Liberalization: The Implications of AFTA on Equality and Women’s Empowerment Roy Setiawan; Ahmad Mujaddid Fachrurreza; Maudy Noor Fadhlia; Zhillan Zhalila Fahlevi
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 6, No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v6i2.45958

Abstract

Abstract. This study investigates the implications of the ASEAN Free Trade Area (AFTA) on gender equality and women's empowerment in Southeast Asia, focusing on the effects of economic liberalization on women's access to economic opportunities and the persistence of structural inequalities. Utilizing a qualitative approach grounded in feminist economics and intersectionality, the research reveals that while AFTA has facilitated regional economic growth, it has not equitably benefited women, who continue to face systemic barriers in employment, wage equity, and access to resources. Women are often confined to precarious jobs in labor-intensive sectors, and their contributions, particularly in unpaid care work, remain undervalued. The findings highlight the intersectionality of gender with other social identities, complicating women's experiences under economic liberalization. The study underscores the need for gender-responsive policies that address the unique challenges faced by women in the labor market, emphasizing that integrating gender considerations into economic frameworks is essential for achieving equitable economic outcomes.  Keywords: AFTA, Gender Equality, Women's Empowerment, Economic Liberalization, Feminist Economics, Intersectionality.  Abstrak. Penelitian ini menyelidiki implikasi dari Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) terhadap kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Asia Tenggara, dengan fokus pada dampak liberalisasi ekonomi terhadap akses perempuan pada peluang ekonomi dan ketimpangan struktural yang terus berlanjut. Menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan ekonomi feminis dan interseksionalitas, penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun AFTA telah memfasilitasi pertumbuhan ekonomi regional, hal ini belum memberikan manfaat yang setara bagi perempuan, yang terus menghadapi hambatan sistemik dalam pekerjaan, kesetaraan upah, dan akses terhadap sumber daya. Perempuan sering terjebak dalam pekerjaan yang tidak stabil di sektor-sektor yang padat karya, dan kontribusi mereka, terutama dalam pekerjaan perawatan yang tidak dibayar, tetap tidak dihargai dengan semestinya. Temuan-temuan ini menyoroti interseksionalitas gender dengan identitas sosial lainnya, yang memperumit pengalaman perempuan di bawah liberalisasi ekonomi. Penelitian ini menekankan pentingnya kebijakan yang responsif terhadap gender yang dapat mengatasi tantangan unik yang dihadapi perempuan di pasar tenaga kerja, dengan menegaskan bahwa mengintegrasikan pertimbangan gender ke dalam kerangka ekonomi sangat penting untuk mencapai hasil ekonomi yang adil.  Kata Kunci: AFTA, Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan, Liberalisasi Ekonomi, Ekonomi Feminis, Interseksualitas.