Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Collaborative Governance dalam Penyelenggaraan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa Sungai Rambutan Retno Susilowati; Khairunnas Khairunnas; Rahmat Rafinzar; Maudy Noor Fadhlia
INDONESIAN GOVERNANCE JOURNAL : KAJIAN POLITIK-PEMERINTAHAN Vol 5 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.669 KB) | DOI: 10.24905/igj.5.2.2022.96-111

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi kondisi Demografi Desa Sungai Rambutan yang heterogen dan merupakan kawasan Kota Terpadu Mandiri dan sebagai desa pusat pengembangan dan riset di Ogan Ilir. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyelenggaraan musrenbangdes dalam perspektif collaborative governance dan menggambarkan model aksi kolaborasi yang dapat diterapkan dalam penyelenggaraan Musrenbangdes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan Wawancara mendalam dengan key informan, observasi, dan tinjauan pustaka. Selanjutnya data yang diperoleh dari hasil wawancara diolah dengan menggunakan Software NVIVO 12 Plus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan Musrenbangdes di Desa Sungai Rambutan belum maksimal. Minimnya sosialisasi dan pengetahuan terkait musrenbangdes berdampak terhadap rendahnya partisipasi masyarakat dan tidak terselenggaranya serap aspirasi dalam bentuk musyawarah bertingkat dari level dusun. Selain itu penyelenggaraan musrenbangdes di Desa Sungai Rambutan juga terkendala ketersediaan anggaran dalam mengakomodir mayoritas usulan pembangunan fisik yang membutuhkan anggaran yang besar. Melalui Penelitian ini peneliti memberikan rekomendasi model tindakan kolaborasi dalam pelaksanaan musrenbangdes yang melibatkan akademisi dan pihak swasta sebagai bentuk pemecahan masalah.
PENDAMPINGAN PENGELOLAAN INDUSTRI KEMPLANG TUNU DENGAN MENERAPKAN STRATEGI PACKAGING DI DESA TANJUNG PERING KECAMATAN INDRALAYA UTARA KABUPATEN OGAN ILIR Raniasa Putra; Alfitri Alfitri; Sena Putra Prabujaya; Muhammad Yusuf Abror; Maudy Noor Fadhlia; Januar Eko Aryansah; Dimes Akbar Perdana
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 1 No. 11: November 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemplang tunu merupakan salah satu produk cemilan khas masyarakat Sumatera Selatan khususnya Desa Tanjung Pering Kabupaten Ogan Ilir yang memiliki populasi usaha industri terbanyak dan sangat banyak diminati. Kemplang tunu merupakan industri rumahan yang jika digeluti dengan serius akan mendatangkan income yang signifikan. Namun, permasalahan Kemplang tunu di Desa Tanjung Pering ini yaitu pengemasan produk yang masih sangat sederhana dan belum melakukan pengemasan dengan model yang menarik. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada pelaku industri Kemplang tunu di Desa Tanjung Pering Kecamatan Indralaya Utara tentang pentingnya inovasi dan kreativitas dalam meningkatkan produksi. Metode pelaksanaan yang digunakan pada pengabdian ini diawali dengan memberikan pemahaman terkait strategi pengembangan usaha, bagaimana cara membranding produk dengan baik, packaging yang menarik, pembuatan yang mengedepankan kebersihan produk, dan mengoptimalkan daya tahan produk tanpa menggunakan bahan pengawet berbahaya.
Global South Perspective on the Threat to Multilateralism in G20 Post-Russia’s Invasion of Ukraine Maudy Noor Fadhlia; Azza Bimantara
Global South Review Vol 4, No 1 (2022): Global South Review
Publisher : Institute of International Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/globalsouth.80982

Abstract

The G20 is set up to foster cooperation among states while sharing common principles and values. Even though it was first created to handle the global financial crisis, G20 has become a big multilateral forum covering other strategic developmental issues. At the beginning of this year, Russia's invasion of Ukraine came unexpectedly and created commotion among the G20 members. Some members assume it threatens multilateralism in G20 since Russia ignores international law. This paper uses a qualitative approach through a case study, collects the data from a literature review, and looks at different dimensions of multilateralism. Furthermore, the discussion will focus on the perspective of the Global South regarding the multilateralism crisis by overviewing the characteristics of multilateralism in crisis. The result of this paper indicates that the division among the West, Russia, China, and other members showed that the consensus and compliance in G20 no longer exist. It is considered a sign of the deficit of multilateralism where Russia and the West challenged and then pressured the multilateral system. On the other hand, most Global South countries took a different perspective and stance when the West and its allies heavily condemned Russia. While the other countries busily try to expel Russia from G20, the Global South representative countries remain neutral to maintain their relationship with the superpowers. The different perspectives and actions among the G20 members emphasize the crisis of multilateralism that reflects a battle of narratives.
Pendampingan penyusunan rencana bisnis bagi penyandang disabilitas di Yayasan Sharing Disability Indonesia Khairunnas Khairunnas; Maudy Noor Fadhlia; Decka Pratama Putra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.33924

Abstract

Abstrak Penyandang disabilitas menghadapi keterbatasan akses dalam kewirausahaan, sehingga membutuhkan pendampingan khusus untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Yayasan Sharing Disability Indonesia (YSDI) Palembang dengan tujuan meningkatkan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui pendampingan penyusunan rencana bisnis. Kegiatan yang dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui konsultasi bisnis. Metode pelatihan menggunakan kombinasi ceramah, diskusi dengan Narasumber, serta praktik penyusunan rencana usaha sederhana, yang meliputi pre-test, workshop, pendampingan pengisian formulir rencana bisnis, post-test, dan analisis hasil. Sebanyak 24 peserta yang tergabung dalam kelompok disabilitas mengikuti program ini. Hasil pre-test menunjukkan rata-rata pemahaman peserta sebesar 66,67%, dengan kekuatan pada aspek rencana bisnis, analisis pelanggan, dan proses produksi. Setelah pelatihan, rata-rata pemahaman meningkat menjadi 94,6%, dengan beberapa indikator mencapai 100% seperti pemahaman manfaat rencana bisnis, pemasaran, dan proses produksi. Peningkatan signifikan terjadi pada aspek analisis pesaing, pemasaran, dan harga pokok produksi. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan dan pendampingan terstruktur mampu memperkuat kapasitas wirausaha penyandang disabilitas, mendukung prinsip kewirausahaan inklusif, dan selaras dengan tujuan SDGs dengan pendampingan yang menghasilkan pemahaman peserta tentang perencanaan bisnis, analisis pasar, serta strategi pemasaran. Sebagian besar peserta mampu menyusun rencana bisnis sesuai minat dan potensi usahanya. Program pendampingan ini efektif dalam mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Kata kunci: pendampingan; rencana bisnis; penyandang disabilitas. Abstract People with disabilities face limited access to entrepreneurship, so they need special assistance to improve their economic independence. This community service activity was carried out at the Sharing Disability Indonesia Foundation (YSDI) in Palembang with the aim of improving the economic independence of people with disabilities through assistance in preparing business plans. The activity was conducted using a participatory approach through business consultations. The training method combined lectures, discussions with experts, and practical exercises in developing simple business plans, including pre-tests, workshops, guidance in filling out business plan forms, post-tests, and analysis of results. A total of 24 participants from the disability group participated in the program. The pre-test results showed an average understanding of 66.67% among participants, with strengths in business plan aspects, customer analysis, and production processes. After the training, the average understanding increased to 94.6%, with some indicators reaching 100%, such as understanding the benefits of business plans, marketing, and production processes. Significant improvements were observed in competitor analysis, marketing, and production cost analysis. This activity demonstrates that structured training and mentoring can strengthen the entrepreneurial capacity of people with disabilities, support the principles of inclusive entrepreneurship, and align with SDG objectives through mentoring that enhances participants' understanding of business planning, market analysis, and marketing strategies. Most participants were able to develop business plans aligned with their interests and business potential. This mentoring program is effective in promoting economic independence for people with disabilities. Keywords: mentoring; business plan; people with disabilities.