Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Subjective Well-being and Burnout on Gender in Lecturers at Private Universities in Lombok Island Isra Dewi Kuntary Ibrahim; Tifani Dame Hasany; Dhanny Safitri; Siti Riadah
Target : Jurnal Manajemen Bisnis Vol. 7 No. 2 (2025): Target : Jurnal Manajemen Bisnis
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/target.v7i2.5664

Abstract

A lecturer is an educator at a university. During their career, lecturers will encounter students with diverse characters. The main duties of a lecturer are teaching, researching, and community service. There are many other administrative duties that a lecturer must carry out. These numerous demands can cause lecturers to experience burnout. Burnout can occur because everyone experiences pressure in their daily activities. Burnout can be reduced by improving an individual’s well-being. Subjective well-being is a state in which individuals perceive and evaluate everything that happens in their lives, namely, cognitive and affective evaluation. Burnout is very likely to affect both men and women. Men are more prone to burnout than women. It is because women experience the same pressures as men, as for men, “working” is an absolute necessity to support their families, whereas for women, this is not the case. Working is not a necessity for women, including in the teaching profession. Therefore, the objective of this study is to analyse whether there is a difference in the effect of subjective well-being on burnout among lecturers at private universities on the island of Lombok, based on gender. The sample consisted of 137 men and 137 women, totaling 174 participants, to represent the phenomenon. The data analysis technique used was Multigroup Analysis (MGA) in PLS-SEM. The study concludes that there is a significant difference between SWB and burnout among male and female lecturers.
Penguatan Self-Efficacy sebagai Upaya Mendorong Keberlanjutan Pendidikan Santri dan Santriwati di Lombok Tengah Dinis Cahyaningrum; Ni Wayan Adelia Mutiara Asri; Isra Dewi Kuntary Ibrahim; Khairul Mujahidi; Baiq Krisnina Maharani Putri; Baiq Nurul Suryawati
Sciences du Nord Community Service Vol. 3 No. 01 (2026): Sciences du Nord Community Service
Publisher : North Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71238/sncs.v3i01.121

Abstract

Pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, namun keberlanjutan pendidikan masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, termasuk Lombok Tengah. Salah satu faktor yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan adalah self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat self-efficacy santri dan santriwati sebagai upaya mendorong keberlanjutan pendidikan. Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Wasilatul Abror dengan melibatkan 39 santri yang terdiri atas 18 laki-laki dan 21 perempuan. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pembelajaran interaktif yang meliputi ceramah, diskusi kelompok, dan refleksi diri. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri, partisipasi, serta kemampuan santri dalam merencanakan pendidikan lanjutan. Selain itu, terjadi peningkatan student engagement yang ditandai dengan keaktifan dalam diskusi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan self-efficacy berperan penting dalam meningkatkan motivasi dan kesiapan santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, intervensi berbasis penguatan aspek psikologis dapat menjadi strategi efektif dalam mendukung keberlanjutan pendidikan, khususnya pada lingkungan pesantren di wilayah non-perkotaan.