Penelitian ini bertujuan menganalisis peran budaya literasi sekolah dalam membentuk minat baca siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di SD Negeri 13 Pangkalan Bemban Selakau. Partisipan dipilih melalui purposive sampling dan melibatkan beberapa informan yang terdiri atas kepala sekolah, koordinator literasi atau pengelola perpustakaan, guru, siswa, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kegiatan literasi, serta dokumentasi program, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, member checking, serta audit trail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya literasi sekolah membentuk minat baca melalui lima tema utama, yaitu pembiasaan membaca, akses dan kebebasan memilih bahan bacaan, keteladanan serta pendampingan guru, interaksi sosial dan pengalaman emosional dalam membaca, serta hambatan struktural pelaksanaan program. Temuan memperlihatkan bahwa rutinitas membaca belum cukup untuk menumbuhkan minat apabila tidak didukung bahan bacaan yang relevan, keterlibatan guru, lingkungan yang menyenangkan, dan kesempatan bagi siswa untuk membaca secara sukarela. Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa budaya literasi merupakan praktik sosial, programatik, fisik, dan afektif yang saling berkaitan. Implikasinya, sekolah perlu mengevaluasi program literasi berdasarkan kualitas keterlibatan siswa, memperbarui koleksi bacaan, memperkuat keteladanan guru, serta melibatkan keluarga. Penelitian selanjutnya perlu melibatkan sekolah dengan karakteristik sosial dan geografis yang lebih beragam.