Alin Anggreni Ginting
Prodi Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PERBANDINGAN PEMBERIAN KOMPRES ES DAN KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS) SETELAH AKTIVITAS EKSENTRIK Rosmi Lasmaria Sinurat; Fajar Apollo Sinaga; Novita Sari Harahap; Alin Anggreni Ginting; Zulaini
Sains Olahraga : Jurnal Ilmiah Ilmu Keolahragaan Vol. 10 No. 1: April 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/n2nzwd72

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan pemberian kompres es dan kompres air hangat terhadap penurunan tingkat nyeri Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) setelah aktivitas eksentrik pada siswa ekstrakurikuler sepak bola SMA Negeri 1 Silimakuta. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan pretest-posttest control group design. Subyek dalam penelitian terdiri dari 24 siswa yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kompres es, kelompok kompres air hangat, dan kelompok kontrol, masing-masing berjumlah delapan orang. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah (One Way ANOVA) untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk menunjukkan kompres es 0,095, kompres air hangat 0,093, kontrol 0,067. Jika nilai signifikansi kelompok lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) maka data tersebut berdistribusi normal. Selanjutnya hasil uji homogenitas menunjukka bahwa ketiga kelompok memiliki varians yang homogeny dimana nilai signifikansi (p = 0,780 > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian kompres es dan kompres air hangat terhadap penurunan nyeri otot setelah aktivitas eksentrik. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai F = 32,689 dengan nilai signifikansi (p = < 0,001 < 0,05). Dengan demikian pemberian kompres es memberikan penurunan tingkat nyeri yang lebih besar dibandingkan dengan kompres air hangat maupun kelompok kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompres es lebih efektif dalam mengurangi nyeri otot akibat DOMS setelah aktivitas eksentrik. Kata Kunci: Kompres Es, Kompres Air Hangat, DOMS, Aktivitas Eksentrik
PERBANDINGAN TINGKAT VO₂ MAX ANTARA MAHASISWA PEROKOK DAN NON-PEROKOK Teguh Jabrani Lubis; Ayu Elvana; Nurman Hasibuan; Alin Anggreni Ginting; Nurhamida Sari Siregar
Sains Olahraga : Jurnal Ilmiah Ilmu Keolahragaan Vol. 10 No. 1: April 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/xgs5az53

Abstract

Kebugaran kardiorespirasi merupakan indikator penting dalam menilai kondisi kesehatan dan kemampuan fisik seseorang, khususnya pada mahasiswa yang memiliki aktivitas akademik dan fisik yang cukup tinggi. Salah satu faktor yang diduga dapat memengaruhi kebugaran tersebut adalah kebiasaan merokok yang masih banyak ditemukan di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat VO₂ Max antara mahasiswa perokok dan non-perokok. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis deskriptif komparatif dan desain cross-sectional. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 38 mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Medan stambuk 2023, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri dari 21 mahasiswa perokok dan 17 mahasiswa non-perokok. Pengukuran VO₂ Max dilakukan menggunakan Bleep Test, kemudian data dianalisis menggunakan uji Independent Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata VO₂ Max mahasiswa perokok sebesar 33,00 ml/kg/menit yang termasuk dalam kategori kurang, sedangkan mahasiswa non-perokok sebesar 41,68 ml/kg/menit yang termasuk dalam kategori cukup. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa non-perokok memiliki tingkat kebugaran kardiorespirasi yang lebih baik dibandingkan mahasiswa perokok.   Kata kunci: VO₂ Max, perokok, non-perokok, kebugaran kardiorespirasi