Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek krusial dalam sektor konstruksi yang dikenal memiliki tingkat risiko kecelakaan tinggi. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat lebih dari 2,3 juta pekerja meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sementara BPJS Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 265 ribu kasus kecelakaan kerja pada tahun 2022 di Indonesia, dengan sektor konstruksi sebagai salah satu penyumbang terbesar. Salah satu faktor dominan penyebab kecelakaan kerja adalah rendahnya kesadaran penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), termasuk pada calon tenaga kerja dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Observasi awal di SMK Negeri 1 Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, menunjukkan siswa kompetensi keahlian konstruksi masih belum terbiasa menggunakan APD saat praktik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa terhadap penerapan APD melalui edukasi, sosialisasi berbasis studi kasus kecelakaan kerja, dan diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test terhadap 14 siswa dengan 20 butir soal. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata akurasi jawaban dari 58% pada pre-test menjadi 81% pada post-test, atau meningkat 23 poin, setara skor gain ternormalisasi 0,55 (kategori sedang). Peningkatan paling menonjol terjadi pada pemahaman peran utama APD dan acuan regulasi Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK). Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi K3 berbasis studi kasus efektif meningkatkan pengetahuan siswa, meskipun perlu dilengkapi dengan praktik langsung penggunaan APD agar dampaknya lebih optimal..