Suko Wardono
Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DINAMIKA DAN IMPLIKASI KONSERVASI PERDAGANGAN SPESIES IKAN DILINDUNGI ATAU CITES: STUDI KASUS DI BPSPL PONTIANAK: DYNAMICS AND CONSERVATION IMPLICATIONS OF TRADE IN PROTECTED AND/OR CITES-LISTED FISH SPECIES: A CASE STUDY AT BPSPL PONTIANAK Suko Wardono
Jurnal Ilmiah Satya Minabahari Vol. 11 No. 1 (2025): Vol. 11 No. 1 (2025): Vol. 11 No. 1 Agustus 2025 - Januari 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Satya Negara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53676/jism.v11i1.251

Abstract

Pemanfaatan dan perdagangan spesies ikan yang dilindungi dan/atau tercantum dalam Appendiks CITES perlu dikelola secara berkelanjutan untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan konservasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pemanfaatan, distribusi perdagangan, kontribusi ekonomi, dan implikasi konservasi jenis ikan yang tercantum dalam Appensiks CITES di wilayah kerja Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif berdasarkan data administratif layanan pemanfaatan jenis ikan periode Januari-Desember 2022. Data yang dianalisis meliputi jenis layanan, volume perdagangan, tujuan distribusi, dan nilai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdagangan didominasi oleh pasar domestik dengan total 6.749 dokumen layanan, terutama SAJI-DN Tentengan (46,3%) dan SAJI-DN (30,6%). Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi produk hiu dan pari serta ikan hias arwana. Distribusi domestik terkonsentrasi di DKI Jakarta dan Jawa Timur, sedangkan perdagangan internasional didominasi tujuan Malaysia, Vietnam, dan Tiongkok. Aktivitas tersebut menghasilkan PNBP sebesar Rp2,51 miliar dengan kontribusi terbesar berasal dari perdagangan domestik (70,6%). Temuan ini menunjukkan bahwa perdagangan spesies CITES memberikan manfaat ekonomi yang signifikan, namun memerlukan penguatan pengawasan dan ketertelusuran untuk mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya.
KARAKTERISTIK UNIT PENGOLAH DAN DISTRIBUTOR SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN HILIRISASI IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) DI INDONESIA: CHARACTERISTICS OF PROCESSING UNITS AND DISTRIBUTORS AS A BASIS FOR DOWNSTREAM DEVELOPMENT OF STRIPED CATFISH (Pangasianodon hypophthalmus) IN INDONESIA Suko Wardono; Budi Sulistyo; R. Moh. Ismail; Muhammad Yusuf; Catur Pramono adi; Ujang Komarudin; Widya Rusyanto; Taufik Hadi Ramli; Muhammad R Hakim
Jurnal Ilmiah Satya Minabahari Vol. 11 No. 2 (2026): Vol. 11 No. 2 (2026): Vol. 11 No. 2 Februari - Juli 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Satya Negara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59314/jism.v11i2.270

Abstract

Hilirisasi merupakan strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ikan patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus), namun karakteristik unit pengolah dan distributor di Indonesia masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan mengarakterisasi unit pengolah dan distributor sebagai dasar pengembangan hilirisasi patin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif–eksploratif terhadap 20 unit usaha (12 unit pengolah dan 8 distributor) di 12 provinsi yang dipilih secara purposif. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, tabulasi silang, dan uji eksak Fisher. Hasil menunjukkan bahwa unit pengolah terkonsentrasi di Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat, sedangkan distributor memperluas pemasaran melalui jaringan antarprovinsi. Sebagian besar unit pengolah (83,3%) hanya menghasilkan fillet, sementara 41,7% telah memanfaatkan hasil samping secara komersial. Pemanfaatan hasil samping berhubungan signifikan dengan bentuk bahan baku (p=0,002), di mana seluruh unit yang menggunakan ikan hidup atau segar melaporkan pemanfaatannya. Seluruh distributor menerapkan rantai dingin dengan kendaraan berpendingin dan cold storage. Secara deskriptif, hilirisasi patin masih berada pada tahap dasar menuju menengah, sehingga perlu diperkuat melalui diversifikasi produk, optimalisasi hasil samping, dan integrasi pembudi daya, unit pengolah, serta distributor