Fajar Illahi
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Filsafat Pendidikan Progresivisme dan Perannya dalam menumbuhkan Kesadaran Sosial Mahasiswa (Kajian Empiris di Lingkungan Universitas Islam Riau) Fajar Illahi
Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2026): Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : PT. AKSARA AKADEMIA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0111/afkar.v2i1.117

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran filsafat pendidikan progresivisme dalam menumbuhkan kesadaran sosial mahasiswa di lingkungan Universitas Islam Riau. Latar belakang penelitian ini berangkat dari adanya kesenjangan antara idealitas tujuan pendidikan tinggi Islam yang mengintegrasikan keislaman, dan kemasyarakatan dengan realitas praktik pendidikan yang masih cenderung berorientasi kognitif-instrumental. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan merujuk pada kerangka filsafat pendidikan progresivisme, khususnya pemikiran John Dewey, serta nilai-nilai pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai progresivisme melalui pembelajaran kontekstual, dan berbasis pengalaman berkontribusi signifikan dalam menumbuhkan kesadaran sosial mahasiswa. Kesadaran sosial tersebut terwujud dalam berbagai dimensi, antara lain kepedulian terhadap masalah sosial, tanggung jawab moral dan etis, kolaborasi sosial, kepedulian lingkungan, serta inisiatif dan kepemimpinan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi filsafat pendidikan progresivisme dengan nilai-nilai keislaman efektif dalam memperkuat fungsi pendidikan tinggi Islam sebagai ruang pembentukan mahasiswa yang kritis, berkeadaban sosial, dan berorientasi pada keadilan serta kemaslahatan umat. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi filsafat pendidikan progresivisme dengan nilai-nilai keislaman efektif dalam memperkuat fungsi pendidikan tinggi Islam sebagai ruang pembentukan mahasiswa yang kritis, berkeadaban sosial, dan berorientasi pada keadilan serta kemaslahatan umat.
Penguatan Nilai Moderasi Beragama Sebagai Upaya Mencegah Kekerasan di Lingkungan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Ihsan Riau Fajar Illahi
Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2026): Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : PT. AKSARA AKADEMIA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0111/afkar.v2i2.147

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penguatan nilai moderasi beragama sebagai upaya mencegah kekerasan di Pondok Pesantren Al-Ihsan Riau. Penelitian dilatarbelakangi meningkatnya intoleransi dan potensi kekerasan berbasis agama, sehingga diperlukan pembinaan karakter yang sistematis. Pesantren berperan penting menanamkan nilai tawassuth (jalan tengah), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (keadilan). Metode yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket kepada 41 santri SMP IT IBS Riau. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama telah diterapkan melalui kurikulum, pembelajaran, budaya asrama, keteladanan ustadz, musyawarah, dan pembinaan karakter. Mayoritas responden memiliki pemahaman baik tentang toleransi, keadilan, keseimbangan, dan hidup damai. Nilai moderasi beragama berkontribusi membentuk sikap sabar, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan konflik melalui dialog. Namun, masih ditemukan potensi kekerasan verbal ringan sehingga diperlukan penguatan aturan, pengawasan, dan pembinaan berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan moderasi beragama efektif menciptakan lingkungan pesantren yang aman, harmonis, dan minim kekerasan serta dapat menjadi model bagi lembaga pendidikan Islam lainnya.
Integrasi Hermeneutika Hans-Georg Gademer dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist: Studi Metodologi di Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi Fajar Illahi; Muhammad Farhan Firas; Saifullah
Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2026): Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : PT. AKSARA AKADEMIA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0111/afkar.v2i2.165

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi hermeneutika filosofis yang dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis di Pesantren Sumatera Thawalib Parabek. Studi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengembangan pendekatan metodologis dalam studi Al-Qur’an dan Hadis yang berorientasi pada transmisi makna tekstual, dan konteks sosial yang terus berkembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan angket yang melibatkan 41 responden yang terdiri dari santri dan tenaga pendidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi hermeneutika Gadamer dalam pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis berlangsung secara substantif. Pembelajaran tetap bertumpu pada metodologi tafsir klasik melalui penggunaan kitab turats dan qawā‘id lughawiyyah. Namun demikian, proses pembelajaran juga memberikan ruang dialog antara warga pesantren terhadap makna teks dalam konteks kehidupan kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan adanya perjumpaan antara. horizon tradisi keilmuan pesantren, dan horizon pengalaman aktual santri yang mencerminkan konsep fusion of horizons dalam hermeneutika Gadamer. Selain itu, kesadaran terhadap kesinambungan tradisi keilmuan juga mencerminkan konsep Wirkungsgeschichte, sementara pengalaman dan latar belakang santri dalam memahami teks menunjukkan adanya dimensi Vorverständnis. Integrasi tersebut menghasilkan model pembelajaran yang menekankan transmisi pengetahuan normatif, serta terbentuknya kesadaran interpretatif yang reflektif, dan mampu menghadirkan pemahaman keagamaan yang tetap berakar pada turats juga relevan dengan dinamika masyarakat modern
Eksistensi Perempuan dalam Pendidikan Pesantren: Analisis Pemikiran Simone de Beaouvoir di Lingkungan Asrama UIN Bukittinggi Fajar Illahi; Andri Umar Soleh; Ridha Ahida
Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2026): Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : PT. AKSARA AKADEMIA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0111/afkar.v2i2.197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi perempuan dalam pendidikan pesantren melalui perspektif pemikiran Simone de Beauvoir di lingkungan Asrama UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan Islam yang diiringi dengan berbagai dinamika terkait identitas, kebebasan, kesetaraan, dan konstruksi gender. Meskipun perempuan telah memperoleh akses pendidikan yang lebih luas, berbagai stereotip dan ekspektasi sosial masih memengaruhi posisi serta peran mereka dalam kehidupan sosial dan akademik. Oleh karena itu, pemikiran Simone de Beauvoir digunakan untuk memahami bagaimana perempuan membangun eksistensinya sebagai subjek yang bebas dan mandiri dalam lingkungan pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Lokasi penelitian berada di Asrama UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Informan penelitian terdiri atas mahasiswi, pengurus asrama, musyrifah, dan pembina asrama yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahap kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan konsep the Other, kebebasan eksistensial, dan becoming woman dari Simone de Beauvoir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asrama berfungsi sebagai ruang pembentukan identitas perempuan yang mendorong berkembangnya kemandirian, kepemimpinan, kepercayaan diri, dan partisipasi sosial. Mahasiswi memiliki kesempatan yang luas untuk berorganisasi, menyampaikan pendapat, serta mengembangkan potensi akademik dan keagamaan. Konsep becoming woman tampak dalam proses pembentukan identitas perempuan melalui pendidikan dan pengalaman sosial, sedangkan konsep the Other masih ditemukan dalam bentuk stereotip gender yang tidak lagi dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan pesantren modern di lingkungan Asrama UIN Bukittinggi berkontribusi signifikan dalam memperkuat eksistensi perempuan sebagai individu yang bebas, mandiri, dan berdaya tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.