p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sriwijaya Bioscientia
Mustafa Kamal
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya Jalan Palembang-Prabumulih, Km32 Indralaya Ogan Ilir 30662

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi jenis polimer mikroplastik pada ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis Castelnau, 1855) Sungai Musi Kota Palembang menggunakan analisis fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) Doni Setiawan; Enggar Patriono; Mustafa Kamal
Sriwijaya Bioscientia Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : Biology Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24233/sribios.7.1.2026.581

Abstract

Pencemaran mikroplastik pada ekosistem perairan tawar menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang meningkat salah satunya di Sungai Musi Kota Palembang yang berpotensi mengalami akumulasi limbah plastik yang berasal dari aktivitas domestik, industri, transportasi, dan perikanan. Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan jenis ikan yang memiliki kemampuan mengakumulasi partikel mikroplastik akibat degradasi dari limbah plastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis polimer mikroplastik pada saluran pencernaan ikan sapu-sapu di Sungai Musi Kota Palembang menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Penelitian dilaksanakan pada November-Desember 2025 di kawasan Sungai Keramasan dan Musi II. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa mikroplastik pada saluran pencernaan ikan sapu-sapu teridentifikasi sebagai polimer polypropylene (PP) dan polyethylene terephthalate (PET). Polimer PP ditandai oleh keberadaan gugus C–H alifatik, sedangkan PET dicirikan oleh pita serapan gugus karbonil ester (C=O). Beberapa spektrum menunjukkan indikasi proses pelapukan akibat oksidasi selama berada di lingkungan perairan. Keberadaan polimer tersebut menunjukkan bahwa sumber mikroplastik di Sungai Musi diduga berasal dari limbah kemasan plastik, botol minuman, tekstil sintetis, peralatan perikanan, dan aktivitas antropogenik lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu berpotensi digunakan sebagai bioindikator pencemaran ikroplastik serta memberikan informasi dasar mengenai karakteristik polimer mikroplastik sebagai dasar pemantauan kualitas perairan dan pengelolaan pencemaran plastik berkelanjutan.
Identifikasi, prevalensi dan intensitas ektoparasit pada kucing di UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatera Selatan, Palembang Sri Amnadewi; Syafrina Lamin; Kamila Alawiyah; Mustafa Kamal; Sri Maulina
Sriwijaya Bioscientia Vol 7 No 2 (2026)
Publisher : Biology Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24233/sribios.7.2.2026.588

Abstract

Infestasi ektoparasit merupakan masalah kesehatan utama pada kucing yang dapat menyebabkan dermatitis, anemia, hingga penularan penyakit zoonosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, menghitung prevalensi, dan intensitas ektoparasit pada kucing di UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan pada Desember 2025 dengan total 36 ekor kucing sebagai sampel. Metode pemeriksaan menggunakan superficial skin scraping, ear swab, dan flea combing. Hasil penelitian  ditemukan tiga jenis ektoparasit yakni  3 jenis, 3 famili dan  2 Ordo, meliputi pinjal    Ctenocephalides felis (Ordo: Siphonaptera, Famili: Pulicidae), serta dua jenis tungau dari Ordo Sarcoptiformes, yaitu Notoedres cati (Famili: Sarcoptidae) dan Otodectes cynotis (Famili: Psoroptidae), total prevalensi infestasi ektoparasit sebesar 33,31%  wilayah pravalensi terbesar yakni  daerah bukit lama (22,22 %) pravalensi dan intensitas ectoparasit. Pinjal Ctenocephalides felis (prevalensi 11,44%, tungau dengan kategori sedang, tetapi intensitasnya 5-7 individu parasit perkucing (sedang),  Notoedres cati (prevalensi 25%  dalam kategori sedang dengan intensitas 2-4 individu/kucing (rendah), intensitas 3 individu/ekor), tungau  Notoedres cati (prevalensi 25%, intensitas 1 ind/ekor), dan tungau telinga Otodectes cynotis (prevalensi 3%, intensitas 1 ind/ekor).Tidak ada keterkaitan antara pravalensi dan intensitas invasi ektoparasit terhadap jenis kelamin, umur dan jenis kucing. Kondisi lingkungan yang lembab dan managmen  pemeliharaan luar ruangan menjadi faktor risiko utama transmisi ektoparasit di Kota Palembang.