Esya Anesty Mashudi
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Keterlibatan Ayah dalam Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini: Sebuah Studi Korelasional Alifia Nabila Sausan; Esya Anesty Mashudi; Pepi Nuroniah
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 9 No. 6 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v9i6.7506

Abstract

Keterlibatan ayah memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak usia dini, namun masih sering terabaikan dalam praktik pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara keterlibatan ayah dan perkembangan kognitif anak usia 4–6 tahun di Kecamatan Pacet dengan menggunakan desain kuantitatif korelasional . Sampel terdiri atas 76 pasangan ayah–anak yang dipilih melalui simple random sampling . Data dikumpulkan menggunakan kuesioner keterlibatan ayah dan lembar observasi perkembangan kognitif berdasarkan Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022. Hasil analisis Spearman's ? = 0,455, p < 0,01 , menunjukkan hubungan positif yang signifikan dengan customized R² = 0,188 , berarti kontribusi keterlibatan ayah sebesar 18,8% terhadap variasi perkembangan kognitif anak. Temuan ini pentingnya peran ayah dalam stimulasi kognitif melalui aktivitas sederhana di rumah seperti membacakan cerita, bermain konstruktif, dan berpikir dengan anak.
Penggunaan Executive Function Skills Anak Usia Dini dalam Permainan Tradisional Engklek : Studi Deskriptif Aida Aqliya Dzakkiyah; Nenden Sundari; Esya Anesty Mashudi
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i1.8039

Abstract

Executive Function Skills (EFS) merupakan kemampuan kognitif tingkat tinggi yang meliputi working memory, cognitive flexibility, dan inhibition yang berperan penting dalam regulasi diri anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan executive function skills anak usia dini melalui permainan tradisional engklek. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif terhadap 11 anak kelompok B TK YWKA Kota Serang dan 2 orang guru. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan engklek mampu menstimulasi executive function skills anak, ditunjukkan melalui kemampuan mengingat urutan permainan, menyesuaikan diri terhadap perubahan aturan, serta mengendalikan impuls dan emosi selama bermain. Dengan demikian, permainan tradisional engklek dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan kontekstual dalam mendukung perkembangan kognitif dan sosial-emosional anak usia dini.
Peran Pengasuhan Ayah terhadap Anak Hiperaktif: Sebuah Studi Kasus Siti Winda Mariam Nabila; Esya Anesty Mashudi; Pepi Nuroniah
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal (PPJ) PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/murhum.v6i2.1581

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali peran dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini dengan kebutuhan khusus, terutama yang mengalami gejala hiperaktivitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk penyelidikan mendalam dalam konteks dunia nyata. Penelitian dilaksanakan di Taman Cimuncang Indah, Serang, Banten, dengan tiga subjek: SR (anak berusia 5 tahun dengan gejala hiperaktivitas, tanpa didiagnosis sebagai gejala dari gangguan ADHD), ayah kandung SR (RM), dan ibu kandung SR (N). Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi kegiatan ayah dan anak. Data dianalisis dengan teknik triangulasi untuk memastikan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah penting dalam mengelola perilaku hiperaktif anak melalui aktivitas fisik dan interaksi harian yang mempererat ikatan emosional. Namun, tantangan seperti pengelolaan emosi, manajemen waktu, dan stereotip sosial mengenai peran ayah memerlukan perhatian lebih. Oleh karena itu, pelatihan pengasuhan positif bagi ayah dan pendekatan yang responsif terhadap kebutuhan anak sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pengasuhan.
Trust Beyond Confident: Bagaimana Pola Asuh Authoritative Mempengaruhi Kepercayaan Diri Anak Usia Dini Indira Sofy Anggraini; Nenden Sundari; Esya Anesty Mashudi
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal (PPJ) PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/murhum.v6i2.1603

Abstract

Keluarga terutama orang tua memiliki peran penting dalam membentuk rasa percaya diri anak sejak umur dini. Pola asuh orang tua turut menentukan bagaimana anak memandang diri sendiri, menghargai diri sendiri dan mempercayai kemampuannya sendiri. Tujuan dari studi ini ialah menganalisis pola asuh authoritative pada rasa percaya diri ana berumur 5–6 tahun di TK YWKA Kota Serang. Pendekatan yang digunakan ialah kuantitatif dengan metode korelasional. Penelitian ini subjeknya yakni 56 anak berumur 5-6 tahun beserta orangtua mereka yang dipilih menggunakan teknik sensus data penelitian dikumpulkan melalui pengadministrasian kuesioner untuk orang tua dan observasi terhadap anak. Teknik analis data dengan uji regresi linier sederhana dan uji korelasi rank Spearman. Hasil penelitian mengindikasikan adanya pengaruh positif serta signidikan dari pola asuh authoritative pada kepercayaan diri anak dengan nilai korelasi 0,686.  Sehingga hipotesis studi ini menyatakan “Terdapat pengaruh positif signifikan pola asuh authoritative terhadap kepercayaan diri anak usia 5-6 tahun di TK YWKA Kota Serang” dinyatakan diterima. Penghitungan koefisien determinasi menunjukkan kontribusi sebesar 41,9% dari pola asuh authoritative pada rasa percaya diri anak. Temuan ini menguatkan sejumlah hasil penelitian terdahulu terkait penerapan orang tua melalui pola asuh authoritative sebagai hal yang ideal dan direkomendasikan untuk memfasilitasi anak dalam membentuk kepercayaan dirinya sejak dini.
Dampak Pola Komunikasi Keluarga Consensual dan Laissez-Faire terhadap Interaksi Sosial Anak Usia Dini Amelya Ayu Syaputri; Esya Anesty Mashudi; Pepi Nuroniah
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal (PPJ) PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/murhum.v6i2.1675

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak pola komunikasi keluarga terhadap interaksi sosial anak usia dini melalui studi kasus pada dua anak di RA Al-Hikmah yang berasal dari keluarga dengan pola komunikasi consensual dan laissez-faire. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan wawancara kepada orang tua dan guru serta observasi langsung interaksi sosial anak di kelas. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman untuk mengidentifikasi hubungan antara pola komunikasi keluarga dan bentuk interaksi sosial anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari keluarga dengan pola komunikasi consensual cenderung menampilkan interaksi sosial asosiatif seperti kerja sama, empati, dan partisipasi aktif, sedangkan anak dari keluarga dengan pola laissez-faire menunjukkan kecenderungan interaksi disosiatif, menarik diri, dan kurang berinisiatif dalam situasi sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi keluarga yang terbuka, responsif, dan suportif sebagai fondasi keterampilan sosial anak usia dini. Implikasinya, orang tua dan guru perlu membangun kolaborasi dalam menerapkan pola komunikasi yang efektif guna mendukung perkembangan sosial anak, sementara pembuat kebijakan pendidikan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk merancang program parenting berbasis komunikasi positif.