Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Vandalism as a Social Expression: A Theoretical Study of the Dynamics of Individual-Public Space Relations in Railway Infrastructure Shinta Julianti; Puri Septiana Nursetiyawati; Frida Nurrahma Masturi; Tissa Silvia; Titi Rahmawati
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4254

Abstract

Vandalism on railway infrastructure is not merely understood as destructive behavior but also as a form of social expression that reflects the dynamic relationship between individuals and public space. This article examines vandalism as a socially structured phenomenon rooted in social interaction, environmental conditions, and power inequalities within public transportation spaces. The research method in this study is a theoretical study or systematic literature review with a Qualitative-Analytical approach. The data sources in this study are secondary, including sociology and criminology journals that discuss deviation, vandalism, graffiti, public space, and transportation infrastructure. The analysis employs various sociological perspectives, including Anomie Theory to describe collective frustration and weakened normative control; Social Learning Theory to understand peer group influence and the imitation of deviant behavior; Social Control Theory to explore the weakened social bonds that reduce conformity; Conflict Theory to observe vandalism as a symbolic form of resistance against inequality in public space governance; and Social Ecology Theory to highlight the role of environmental disorganization and lack of surveillance in enabling destructive acts. Based on this theoretical mapping, the article argues that vandalism is a multidimensional social phenomenon that requires a comprehensive approach, incorporating not only legal intervention but also strengthened social attachment, community empowerment, and more inclusive public space planning that is responsive to societal needs. It is hoped that this analysis can provide a more comprehensive understanding of the sociological roots of vandalism on railway assets and formulate practical implications for developing more holistic, community-based, and sustainable prevention strategies beyond merely repressive approaches.
Eksistensi Lengger Lanang dalam Persepsi Sosial Masyarakat Banyumas Najwa Bilhaq Iskandar; Laetare Clara Febrianti; Fitri Maudi; Rifa'i Setia Utama; Sabila Hikmah Mutiara Putri; Puri Septiana Nursetiyawati
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - April
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.8415

Abstract

Kesenian tradisional memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan mempertahankan nilai budaya lokal di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Salah satu bentuk kesenian khas Banyumas, Jawa Tengah, yang menarik perhatian adalah Lengger Lanang. Lengger Lanang merupakan tarian tradisional yang ditarikan oleh laki-laki dengan penampilan menyerupai perempuan. Tarian ini tidak hanya kaya akan makna filosofis dan spiritual, tetapi juga menyimpan sejarah panjang tentang perjuangan budaya yang dihadapi para pelaku seni. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik menganalisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan. Teknik keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Lengger Lanang masih bertahan di tengah arus modernisasi, berkat peran aktif para pelaku seni, dukungan komunitas lokal, serta adanya regenerasi seniman muda. Namun demikian, kesenian ini juga menghadapi tantangan berupa stigma sosial, penurunan minat generasi muda, dan kurangnya dukungan dari pemerintah. Dengan demikian, pelestarian kesenian Lengger Lanang membutuhkan kolaborasi antara seniman, masyarakat, dan pemerintah agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.