Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Komodifikasi Barang Cacat: Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah terhadap Praktik Jual Beli Ban Rekondisi : Penelitian Feby Rizki Pratiwi; M. Arif Musthofa; Zeni Sunarti; Achmad Hidayat; Sarwono
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.408

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh praktik jual beli ban bekas di Kelurahan Rano yang masih dilakukan secara langsung melalui pemeriksaan fisik, tawar-menawar, dan kesepakatan antara penjual dan pembeli. Permasalahan utama dalam transaksi ini adalah belum optimalnya keterbukaan informasi mengenai kondisi ban, seperti tingkat keausan, bekas tambalan, retakan, vulkanisir, tahun produksi, dan riwayat pemakaian ban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik jual beli ban bekas di Kelurahan Rano serta menganalisisnya berdasarkan prinsip hukum ekonomi syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yuridis empiris. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pedagang ban bekas, pembeli, tokoh agama, serta pihak terkait. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik jual beli ban bekas di Kelurahan Rano pada umumnya telah memenuhi unsur dasar jual beli, yaitu adanya penjual, pembeli, barang, harga, dan kesepakatan. Namun, dari perspektif hukum ekonomi syariah, transaksi tersebut masih memiliki potensi gharar dan tadlis apabila kondisi ban tidak dijelaskan secara jujur dan rinci kepada pembeli. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa jual beli ban bekas dapat dibenarkan dalam hukum ekonomi syariah selama dilakukan secara suka sama suka, objek barang jelas, harga disepakati, serta penjual menyampaikan kondisi dan kekurangan barang secara transparan.
DINAMIKA GAYA HIDUP HALAL GENERASI MUDA: ANALISIS PREFERENSI KONSUMSI DALAM FRAME EKONOMI ISLAM Widia Sari; Haeran; Siti Fatimah; Sarwono
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 10 No. 3 (2026): September
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/zw709p04

Abstract

The transformation of halal lifestyle from mere religious compliance into a part of popular culture has created new dynamics in the consumption preferences of young Muslim consumers. This study aims to analyze the meaning, practices, and rationality of halal consumption among students at Institut Islam Al-Mujaddid Sabak from the perspective of Islamic economics. The study employed a descriptive qualitative field research approach involving 10 students from different study programs and academic levels selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured in-depth interviews, participatory observation, and documentation, and were analyzed through data condensation, thematic coding, data display, and conclusion drawing and verification. Data trustworthiness was strengthened through source, technique, and time triangulation. The findings show that students’ halal lifestyle has developed into a broader way of life encompassing halal food and cosmetics, the use of Islamic financial services, and ethical conduct in daily life. However, a gap was identified between halal awareness, halal literacy, and consistency of practice, particularly due to limited product accessibility, peer influence, social media trends, and symbolic consumption. From the perspective of Islamic economics, students’ consumption preferences tend to reflect the fulfillment of maslahah through the hierarchy of dharuriyyah, hajiyyah, and tahsiniyyah, while also relating to the protection of hifz al-din, hifz al-nafs, and hifz al-mal. This study proposes a halal consumption rationality model for young Muslims consisting of religious awareness, halal literacy, social and digital influence, maslahah evaluation, consumption decision, and self-control. The model demonstrates that Muslim youth consumption rationality is determined not only by the halal status of products, but also by their ability to assess maslahah and control tendencies toward israf, tabdzir, and halal hedonism.
Demistifikasi Asimetri Informasi dan Relasi Kuasa: Re-evaluasi Prinsip Al-‘Adl dan Al-Gharar dalam Rantai Pasok Kelapa Sawit: Penelitian Agi Alfiansah; M. Arif Musthofa; Siti Fatimah; Daud; Hasna Dewi; Erwina Kartika Devi; Sarwono
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.584

Abstract

Praktik transaksi distribusi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit pada ranah agrikultur lokal kerap terjebak dalam formalisme akad yang mengabaikan ketimpangan struktural. Penelitian ini bertujuan menyingkap (demystify) bagaimana asimetri informasi dan relasi kuasa memicu eksploitasi tersembunyi, serta merangkai re-evaluasi teoretis atas prinsip al-‘adl (keadilan) dan al-gharar (ketidakpastian) dalam rantai pasok kelapa sawit di Kecamatan Geragai. Menggunakan pendekatan socio-legal kualitatif-kritikal dengan desain studi lapangan, data digali melalui wawancara mendalam terhadap petani swadaya, tengkulak/pengepul, perwakilan Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dan pakar muamalah melalui purposive sampling. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa gharar dalam rantai pasok sawit tidak lagi berwujud gharar klasik/fisik, melainkan gharar struktural yang terwujud melalui manipulasi penetapan grading kualitas, arbitrase potongan timbangan, serta penundaan skema pembayaran yang terhegemoni oleh relasi ketergantungan ekonomi. Situasi ini mengerosi substansi keadilan (al-‘adl) karena memindahkan risiko fluktuasi dan ketidakpastian secara sepihak kepada petani sebagai aktor paling rentan. Penelitian ini merekonstruksi batas teoretis gharar dalam muamalah modern dari dimensi fiq
Dynamics of Subjective Well-Being and Economic Resilience Among Pandan Craftsmen Sherly Permata Sari; Daud; Sri Kadarsih; Sarwono
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Januari 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i2.2136

Abstract

While existing scholarship on rural craft micro-enterprises predominantly focuses on objective economic outcomes, the socio-psychological mechanisms driving artisan perseverance remain underexplored. This study examines the dynamic interplay between Subjective Well-Being (SWB) and Economic Resilience within the Pandan Radesta handicraft collective in Kelurahan Rano, Tanjab Timur Regency, Jambi. Utilizing a qualitative research design rooted in a transcendental phenomenological framework, empirical data were gathered through semi-structured, in-depth interviews with 12 active weavers, enterprise coordinators, and local officials, complemented by field observations and thematic analysis. The findings reveal that pandan craft manufacturing functions as a dual engine for rural livelihoods: providing a vital financial cushion (contributing 30–35% to household budgets) while simultaneously fostering psycho-social empowerment, domestic decision-making agency, and community solidarity among rural women. Crucially, high SWB acts as an emotional buffer that stabilizes labor participation and prevents enterprise abandonment during market fluctuations. However, long-term economic resilience remains structurally constrained by manual production techniques, limited capital, restricted local market exposure, and underdeveloped digital e-commerce adoption. To overcome these bottlenecks, the collective deploys adaptation strategies centered on product diversification and informal mutual aid (gotong royong). This research concludes that subjective well-being and economic resilience are mutually reinforcing constructs, advocating for a paradigm shift in rural development policies toward human-centered capacity building, digital literacy, and multi-stakeholder Triple Helix synergies