Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pemanfaatan Pepaya Muda Carica Papaya L. Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Abon Dengan Perbandingan Ikan Cakalang Katsuwonus Pelamis St. Masitah; Suriana Laga; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4715

Abstract

Shredded meat is a processed product in the form of drying raw materials to which spices have been added and then roasted with the aim of improving the taste and extending the shelf life.  Currently, shredded products are not only made from animal raw materials but can also use vegetable ingredients such as papaya.  So far, most people do not use young papaya, only a few use it to make vegetables or salads. Therefore, by making young papaya shreds, people can make maximum use of papaya fruit, especially young papaya.  This research aims to determine the effect of comparing young papaya with skipjack tuna on water content, protein content, and organoleptic tests on the color, aroma, taste and texture of young papaya shreds. The research treatment was a comparison of young papaya with skipjack tuna (100%: 0%, 90%: 10%, 80%: 20%, and 70: 30%). The research parameters are water content, protein content, and organoleptic tests on the color, aroma, taste and texture of young papaya shreds. Data analysis used the Completely Randomized Design (CRD) method, with four treatment levels and three repetitions. The follow-up test used is the Least Significant Difference Test (BNT). The results of research on comparative treatment of young papaya with skipjack tuna had a significant effect on protein content, organoleptic tests on color, aroma, taste and texture, but had no significant effect on the water content of young papaya shreds. The best treatment was obtained in treatment P3 (70% young papaya: 30% skipjack tuna) in terms of protein content of 27.32%, organoleptic test for aroma 4.04 (like), taste 3.85 (like), and texture 3.93 (like). Abon adalah hasil olahan berupa pengeringan bahan baku yang telah ditambahkan bumbu-bumbu kemudian disangrai dengan tujuan untuk meningkatkan citarasa dan memperpanjang masa simpan.  Saat ini produk abon tidak hanya berbahan baku hewani tetapi juga dapat menggunakan bahan nabati seperti pepaya.  Selama ini sebagian besar masyarakat tidak memanfaatkan pepaya muda, hanya sebagian saja yang memanfaatkannya untuk dijadikan sayur atau salad. Oleh karena itu, dengan pembuatan abon pepaya muda masyarakat dapat memanfaatkan buah pepaya secara maksimal, khususnya pepaya muda.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan pepaya muda dengan ikan cakalang terhadap kadar air, kadar protein, dan uji organoleptik terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur abon pepaya muda. Perlakuan penelitian yaitu perbandingan pepaya muda dengan ikan cakalang (100%: 0%, 90%: 10%, 80%: 20%, dan 70%: 30%).  Parameter penelitian yaitu kadar air, kadar protein, dan uji organoleptik terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur abon pepaya muda. Analisis data menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat taraf perlakuan tiga kali pengulangan. Uji lanjutan yang digunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian perlakuan perbandingan pepaya muda dengan ikan cakalang berpengaruh nyata terhadap kadar protein, uji organoleptik terhadap warna, aroma, rasa, dan, tekstur, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air abon pepaya muda. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan P3 (pepaya muda 70%: ikan cakalang 30%) ditinjau dari kadar protein 27,32%, uji organoleptik terhadap aroma 4,04 (suka), rasa 3,85 (suka), dan tekstur 3,93 (suka).
Studi Pengolahan Minuman Instan Jahe Putih Zingiber Officinale Var. Amarum Dengan Penambahan Bubuk Cokelat Agnes Anisa Datu Manik; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4721

Abstract

Ginger is a type of spice which is one of the export commodities that is widely traded in the form of fresh ginger. The high production of ginger can be used as an opportunity to innovate food products. According to BPS, in 2022 cocoa production in Indonesia will reach 650.6 thousand tons, cocoa commodities, especially in South Sulawesi, have managed to contribute 13.36% to the total production. This research aims to determine the effect of adding chocolate powder on water content, ash content and organoleptic tests including taste, color, and aroma of instant white ginger drinks.The research treatment was the addition of chocolate powder (10%, 12.5%, 15% and 17.5%). Data analysis used a completely randomized design (CRD) method with 4 treatment levels and 3 replications. The best results from this research were obtained in instant drinks treated with 12.5% F2 chocolate powder, seen from the water content of 2.24%, ash content of 4.08%, taste of 3.71 (like), color 4 (like), and fragrance 3.89 (likes). Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang menjadi salah satu komoditas ekspor yang banyak di perdagangkan dalam bentuk jahe segar. Tingginya produksi jahe dapat di jadikan sebagai peluang untuk melakukan suatu inovasi produk pangan. Menurut BPS tahun 2022 produksi kakao di Indonesia mencapai 650,6 ribu ton, komoditas kakao khususnya di Sulawesi selatan telah berhasil menyumbangkan 13,36% terhadap total keseluruhan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk cokelat terhadap kadar air, kadar abu dan uji organoleptik meliputi cita rasa, warna, dan aroma pada minuman instan jahe putih. Perlakuan penelitian yaitu dengan penambahan bubuk cokelat (10%, 12,5%, 15% dan 17,5%). Analisis data menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil terbaik dari penelitian ini diperoleh pada minuman instan perlakuan perlakuan bubuk cokelat F2 12,5% dilihat dari kadar air 2,24%, kadar abu 4,08%, cita rasa 3,71 (suka), warna 4 (suka), dan aroma 3,89 (suka).
Pemanfaatan Rambut Jagung (Zea mays L.) Sebagai Bahan Dasar Minuman Teh Herbal Dengan Penambahan Madu Miranti Oktaviana A Oktaviana; Andi Abriana; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4766

Abstract

Corn (Zea mays L.) is a plant that is widespread in Indonesia. So far, people only know about the benefits of corn, corn silk is waste that has not been utilized by the community. Corn silk contains compounds such as tannins, phenolics, flavonoids, beta carotene, beta sitosterol, and antioxidants. Apart from that, corn silk also contains carbohydrates, protein, vitamin C, vitamin E and vitamin K. The aim of this research is to determine the effect of adding powdered honey on chemical tests, namely water content, ash content and organoleptic tests, namely taste, aroma and color. The research treatment was the addition of honey powder (0%, 15%, 25% and 35%). Data analysis used the Completely Randomized Design (CRD) method with 4 levels and 3 replications, then analyzed using SPSS and the Least Significant Difference Test (BNT). Based on research, the addition of powdered honey in making corn silk tea (Zea Mays L), has a significant effect on water content and ash content, while organoleptic tests on color, aroma and taste. The best results produced by corn hair tea with the addition of honey powder were in the T4 treatment (35%). Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman yang tersebar luas di Indonesia. Selama ini masyarakat hanya mengetahui manfaat buah jagung saja, rambut jagung merupakan limbah yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Rambut jagung mempunyai Kandungan senyawa seperti tanin, fenolik, flanoid, beta karoten, beta sitosterol, dan antioksidan. Selain itu, rambut jagung juga mengandung karbohidrat, protein, vitamin C, vitamin E, dan vitamin K. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan madu bubuk terhadap uji kimia yaitu kadar air, kadar abu, dan uji organoleptik yaitu rasa, aroma, dan warna. Perlakuan penelitian yaitu penambahan bubuk madu (0%, 15%, 25% dan 35%). Analisis data menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat taraf dan tiga kali ulangan, kemudian dianalisis menggunakan SPSS dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Berdasarkan penelitian penambahan madu bubuk dalam pembuatan teh rambut jagung (Zea mays L), berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kadar abu, sedangkan uji organoleptik pada warna, aroma, dan cita rasa. Hasil terbaik yang dihasilkan teh rambut jagung dengan penambahan bubuk madu yaitu pada perlakuan T4 (35%)
Penambahan Bubuk Jahe Pada Pengolahan Teh Daun Kelor (Moringa oleifera Lam) Muhammad Akmar; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4883

Abstract

Moringa leaves, apart from being a vegetable, can also be made into herbal tea. Moringa leaf tea is tea made from moringa leaves that have been dried and then mashed into powder. This study aims to determine the best moringa leaf tea formula with the addition of ginger on moisture content, ash content, and organoleptic test. This study aims to determine the effect of ginger powder addition on moringa tea and to determine the best formulation of moringa tea with ginger powder addition on moisture content, ash content, and organoleptic test (color, aroma, and taste). The research treatment was the addition of ginger powder (0%, 10%, 20%, and 30%). The research parameters were moisture content, ash content, organoleptic test of color, aroma, and taste. Data were analyzed using the Completely Randomized Design (CRD) method, with four treatments and three replications. Observation data were analyzed using the test of variance (ANOVA) with further test (BNT). The best results obtained by moringa leaf tea with the addition of ginger powder are in P3 treatment of 30% ginger powder addition in terms of water content of 5.69%, ash content of 9.63%, color 3.88 (like), aroma 3.6 (like), and taste 3.32 (like). The water content in this study meets SNI 3945 - 2016 BSN. Meanwhile, the ash content of moringa leaf tea with the addition of ginger powder does not meet SNI 3945 - 2016 BSN. Daun kelor selain sebagai sayur, juga dapat dibuat menjadi teh herbal. Teh daun kelor adalah teh yang dibuat dari daun kelor yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan hingga menjadi bubuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik teh daun kelor dengan penambahan jahe terhadap kadar air, kadar abu, dan uji organoleptik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk jahe terhadap teh daun kelor dan untuk mengetahui formulasi terbaik teh daun kelor dengan penambahan bubuk jahe terhadap kadar air, kadar abu, dan uji organoleptik (warna, aroma, dan rasa). Perlakuan penelitian penambahan bubuk jahe (0%, 10%, 20%, dan 30%). Parameter penelitian kadar air, kadar abu, uji organoleptik warna, aroma, dan rasa. Analisis data dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji keragaman (ANOVA) dengan uji Lanjut (BNT). Hasil terbaik diperoleh teh daun kelor dengan penambahan bubuk jahe terdapat pada P3 perlakuan penambahan bubuk jahe 30% ditinjau dari kadar air 5,69%, kadar abu 9,63%, warna 3,88 (suka), aroma 3,6 (suka), dan rasa 3,32 (suka). Kandungan kadar air dalam penelitian ini memenuhi SNI 3945 – 2016 BSN; sedangkan kandungan kadar abu teh daun kelor dengan penambahan bubuk jahe tidak memenuhi SNI 3945 – 2016 BSN.
Pengaruh Perendaman Larutan Kapur Sirih Terhadap Keripik Batang Pisang Muh. Fathur Rizky Azis; Abdul Halik; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.5083

Abstract

Chips are classified as snacks or snacks in the form of thin slices which are widely known because they are not too filling, tasty, crunchy and have a variety of flavors such as spicy, salty and sweet. Therefore, the author took the initiative to develop innovation in using banana stems as the main ingredient in making chips.This research aims to evaluate the effect of soaking in whiting solution on the quality of banana stem chips. The method used was experimentation with variations in soaking time (8, 10, 12, and 14 hours) and the influence of water content, ash content, and organoleptic tests (color, aroma, taste, and texture). Data were analyzed using a Completely Randomized Design (CRD) and continued with the ANOVA test.The results showed that soaking in a whiting solution could improve the quality of banana stem chips. Chips soaked for 10 hours produced the lowest water content (4.12%) and optimal ash content (2.65%). Organoleptic tests showed that this sample also received the best assessment from the panelists, with the highest scores on color and aroma. This research concludes that soaking in a whiting solution is effective in improving the quality of banana stem chips, providing new opportunities for utilizing agricultural waste with economic value. Keripik tergolong cemilan ataupun makanan ringan dengan bentuk irisan tipis yang banyak dikenal sebab sifat yang dimiliki yakni tidak terlalu mengenyangkan, gurih, renyah, dan beraneka rasa misalnya pedas, asin, dan manis. Oleh karena itu, penulis berinisiatif mengembangkan inovasi dalam memanfaatkan pelepah pisang sebagai bahan utamanya dalam pembuatan keripik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perendaman larutan kapur sirih terhadap kualitas keripik batang pisang. metode yang digunakan adalah eksperimen dengan variasi lama perendaman (8, 10, 12, dan 14 Jam) dan pengaruh parameter kadar air, kadar abu, serta uji organoleptik (warna, aroma, rasa, dan Tekstur). Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilanjutkan dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dalam larutan kapur sirih dapat meningkatkan kualitas keripik batang pisang. Keripik yang direndam selama 10 jam menghasilkan kadar air terendah (4,12%) dan kadar abu yang optimal (2,65%). Uji organoleptik menunjukkan bahwa sampel ini juga mendapat penilaian terbaik dan panelis, dengan skor tertinggi pada warna dan aroma. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perendaman dalam larutan kapur sirih efektif dalam meningkatkan kualitas keripik batang pisang, memberikan peluang baru dalam pemanfaatan limbah pertanian yang bernilai ekonomis.
Minuman Serbuk Instan Sari Buah Semangka (Citrullus Lanatus) Dengan Penambahan Krimer Yunianti; Andi Abriana; Fatmawati; Suriana Laga; Rosdiani Azis
Forum Cendekia: Jurnal Ilmiah Multidisipliner Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : DPW FORSILADI SULSEL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah semangka memiliki banyak manfaat, seperti zat antioksidan yang baik bagi kulit, dapat merangsang hormon dalam otak untuk mengatasi kecemasan, meningkatkan kekebalan tubuh serta dapat melawan infeksi. Buah semangka memiliki kadar air yang tinggi sehingga tidak dapat bertahan lama olehnya itu perlu pengolahan sari buah semangka dibuat menjadi minuman serbuk instan agar memiliki daya simpan lebih lama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan krimer terhadap kadar air, kadar gula, dan uji organoleptik yang dihasilkan dari minuman serbuk instan sari buah semangka. Perlakuan penelitian ini yaitu penambahan krimer dengan konsentrasi (5%, 10%, 15%, dan 20%). Analisis data menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan dan tiga kali ulangan, kemudian dianalisis uji Anova dan uji Beda Nyata Terkecil. Hasil perlakuan terbaik yaitu penambahan krimer 20% ditinjau dari aroma (khas semangka dengan susu dari krimer) 4,19 (sangat suka) dan penambahan krimer 15% ditinjau dari citarasa (manis) 4,24 (suka). Kandungan kadar air minuman serbuk instan sari buah semangka yaitu berkisar 4,82%-5,4% belum memenuhi syarat menurut SNI 01-4320-2004 minuman serbuk karena melebihi 5%. Sedangkan kadar gula pada minuman serbuk instan sari buah semangka telah memenuhi syarat SNI 01-4320-2004 minuman serbuk yaitu 41%-43% karena tidak melebihi 60%.
Pembuatan Kerupuk Ikan Cakalang Dengan Penambahan Biji Alpukat (Persea americana) Ferby Anggun Aprilyanti; Rosdiani Azis; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.4974

Abstract

Fish crackers are a dry food product made from starch flour and fish meat with the addition of other permitted food ingredients. This research aims to determine the effect of adding avocado seed pulp on the water content, ash content, degree of expansion, and organoleptic properties of skipjack tuna (cakalang) crackers. The method used was a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications, namely the addition of avocado seed pulp at 1% (F1), 2.5% (F2), 4% (F3), and 5.5% (F4). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by the Least Significant Difference (LSD/BNT) test where appropriate. The addition of avocado seed pulp had a significant effect on water content, aroma, taste, and texture. Water content decreased as the proportion of avocado seed pulp increased, ranging from 6.70% (F1) to 4.09% (F4), well within the SNI 2713.3:2009 maximum limit of 11%. The degree of expansion increased with higher avocado seed pulp addition, from 26.65% (F1) to 32.27% (F4), consistent with the higher amylopectin content contributed by the avocado seed starch. Among the organoleptic attributes, F1 (1% avocado seed pulp) received the most preferred scores for color (3.76), aroma (3.73), and taste (3.92), while F4 (5.5%) received the most preferred score for texture (3.59). No single treatment was superior across every parameter tested; the choice of optimum formulation therefore depends on which quality attribute is prioritized. Kerupuk ikan adalah produk makanan kering yang dibuat dari tepung pati dan daging ikan dengan penambahan bahan-bahan lain yang diizinkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubur biji alpukat terhadap kadar air, kadar abu, derajat pengembangan, dan sifat organoleptik kerupuk ikan cakalang. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu penambahan bubur biji alpukat 1% (F1), 2,5% (F2), 4% (F3), dan 5,5% (F4). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila diperlukan. Penambahan bubur biji alpukat berpengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, rasa, dan tekstur. Kadar air menurun seiring bertambahnya proporsi bubur biji alpukat, berkisar antara 6,70% (F1) hingga 4,09% (F4), dan seluruh perlakuan telah memenuhi syarat mutu SNI 2713.3:2009 (maksimal 11%). Derajat pengembangan meningkat seiring bertambahnya bubur biji alpukat, dari 26,65% (F1) menjadi 32,27% (F4), sejalan dengan kontribusi amilopektin dari pati biji alpukat. Pada uji organoleptik, F1 (bubur biji alpukat 1%) memperoleh skor kesukaan tertinggi untuk warna (3,76), aroma (3,73), dan rasa (3,92), sedangkan F4 (5,5%) memperoleh skor kesukaan tertinggi untuk tekstur (3,59). Tidak terdapat satu perlakuan tunggal yang unggul pada seluruh parameter yang diuji, sehingga pemilihan formulasi optimum bergantung pada atribut mutu yang menjadi prioritas.
Pengaruh Penambahan Kelapa Sangrai Terhadap Karakteristik Fisikokimia Dan Sensori Cokelat Batang Dwi Angraeni; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6758

Abstract

This study evaluated the effect of roasted coconut addition on the physicochemical and sensory characteristics of chocolate bars. Four formulations were prepared by adding 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), or 15% (P4) roasted coconut to 100 g of chocolate paste. A completely randomized design with three replications was used. Fat, moisture, and ash contents were analyzed, while color, aroma, taste, and texture were assessed by 25 panelists using a five-point hedonic scale. Data were evaluated by one-way analysis of variance and the least significant difference test at a = 0.05 when a significant treatment effect was detected. Roasted coconut addition significantly affected fat content (p = 0.020) and moisture content (p = 0.010), but did not significantly affect ash content (p = 0.081), color (p = 0.467), aroma (p = 0.311), taste (p = 0.410), or texture (p = 0.072). Fat and moisture contents increased from 42.45% and 1.85% in P1 to 46.70% and 3.50% in P4, respectively. Sensory scores ranged from 2.83 to 4.10 and did not differ statistically among formulations. The 5% formulation may be considered a practical compromise because it incorporated roasted coconut while maintaining moisture below 2%; however, an overall optimum was not statistically established. Complete standard compliance cannot be concluded because only selected chemical parameters were measured and variability statistics were not reported. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh penambahan kelapa sangrai terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori cokelat batang. Empat formulasi dibuat dengan menambahkan kelapa sangrai sebesar 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), dan 15% (P4) pada 100 g pasta cokelat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar lemak, kadar air, kadar abu, serta tingkat kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan 25 panelis dan skala hedonik lima tingkat. Data dianalisis melalui analisis ragam satu arah dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada a = 0,05 apabila perlakuan berpengaruh nyata. Penambahan kelapa sangrai berpengaruh nyata terhadap kadar lemak (p = 0,020) dan kadar air (p = 0,010), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu (p = 0,081), warna (p = 0,467), aroma (p = 0,311), rasa (p = 0,410), dan tekstur (p = 0,072). Kadar lemak dan kadar air meningkat dari 42,45% dan 1,85% pada P1 menjadi 46,70% dan 3,50% pada P4. Skor sensori berkisar 2,83–4,10 dan tidak berbeda nyata antarfomulasi. Formulasi 5% dapat dipertimbangkan sebagai kompromi praktis karena telah mengandung kelapa sangrai dengan kadar air di bawah 2%, tetapi formula optimum secara keseluruhan belum dapat ditetapkan secara statistik. Kesesuaian penuh terhadap standar produk juga belum dapat disimpulkan karena penelitian hanya mengukur sebagian parameter kimia dan belum melaporkan ukuran keragaman data.
Karakteristik Cokelat Batang Berisi Bubuk Daun Kelor Dan Kelapa Sangrai Maria Beatrix Una; Rosdiani Azis; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.7073

Abstract

This study evaluated the effect of Moringa leaf powder concentration on the physicochemical and sensory characteristics of chocolate bars containing 10% roasted coconut. Four formulations containing 0% (K1), 1% (K2), 2% (K3), or 3% (K4) Moringa leaf powder were prepared using a completely randomized design with three replications. Fat, moisture, and ash contents were analyzed, while color, aroma, taste, and texture were evaluated by 25 panelists using a five-point hedonic scale. Data were analyzed by one-way analysis of variance followed by the least significant difference test when the treatment effect was significant at a = 0.05. Increasing Moringa leaf powder significantly reduced fat content from 42.64% in K1 to 27.76% in K4 and increased moisture content from 1.36% to 3.30%. The treatment also significantly affected color and texture, but did not significantly affect ash content, aroma, or taste. Sensory scores remained within the rather-like to like range. The 1% formulation may be considered a practical candidate because it combined relatively low moisture with acceptable sensory scores; however, an overall optimum and full compliance with a product standard cannot be concluded from the available data because variability statistics, complete formulation details, and several required quality parameters were not reported. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi bubuk daun kelor terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori cokelat batang yang mengandung kelapa sangrai 10%. Empat formulasi dibuat dengan bubuk daun kelor 0% (K1), 1% (K2), 2% (K3), dan 3% (K4) menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar lemak, kadar air, kadar abu, serta tingkat kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan 25 panelis dan skala hedonik lima tingkat. Data dianalisis dengan analisis ragam satu arah dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil apabila perlakuan berpengaruh nyata pada a = 0,05. Peningkatan bubuk daun kelor menurunkan kadar lemak secara nyata dari 42,64% pada K1 menjadi 27,76% pada K4 dan meningkatkan kadar air dari 1,36% menjadi 3,30%. Perlakuan juga berpengaruh nyata terhadap warna dan tekstur, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu, aroma, dan rasa. Skor sensori berada pada rentang agak suka hingga suka. Formulasi 1% dapat dipertimbangkan sebagai kandidat praktis karena mengombinasikan kadar air yang relatif rendah dan penerimaan sensori yang baik, tetapi formula optimum dan kesesuaian penuh terhadap standar produk belum dapat disimpulkan dari data yang tersedia karena ukuran keragaman, rincian formulasi, dan beberapa parameter mutu belum dilaporkan.