Fatmawati Fatmawati
Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Studi Pembuatan Stik Talas Colocasia Esculenta Dengan Perbandingan Wortel Daucus Corotal L Rahmia Rahmia; Abdul Halik; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4663

Abstract

Stik merupakan makanan ringan yang diminati semua kalangan masyarakat, biasanya stik umumnya dibuat hanya menggunakan tepung terigu namun seiring berkembangnya tren makanan ringan, masyarakat menambahkan bahan pangan lain seperti talas yang mengandung antioksidan dan rendah kolestrol, serta wortel yang mengandung vitamin dan senyawa -karoten yang memberi warna alami. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui konsentrasi perlakuan terbaik dan (2) pengaruh stik talas dengan perbandingan wortel terhadap kadar air, kadar abu dan uji organoleptik. Perlakuan penelitian yaitu talas dengan kosentrasi (50%, 40%, 30%, 20%) dan wortel (0%, 10%, 20%, 30%). Analisis data menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat taraf perlakuan dan tiga kali ulangan. Hasil penelitian ini diperoleh perlakuan terbaik yaitu talas 20% : wortel 30% ditinjau dari kadar air 3,16%, kadar abu 1,05%, warna 3,68% (suka), aroma 3,64% (suka), rasa 3,89% (suka) dan tekstur 3,59% (suka). Berdasarkan hasil penelitian stik talas dengan perbandingan wortel berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, warna, aroma, dan tekstur, sedangkan tidak berpengaruh nyata terhadap rasa. Berdasarkan SNI 2973:2022 kadar air semua perlakuan memenuhi standar mutu dibawah dari 5%, sedangkan kadar abu tidak ada perlakuan yang memenuhi SNI 2973:2022 yaitu dibawah dari 0,1%.
Studi Penambahan Sari Daun Bayam Hijau Amaranthus Tricolor Terhadap Brownis Kukus Fahriya Ningsi; Fatmawati Fatmawati; Abdul Halik
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4720

Abstract

Brownies are one of the bakery products that are very popular and commonly consumed by people in Indonesia. Spinach (Amaranthus) is considered the king of vegetables because its nutritional content contains vitamins A, B, and C, in addition spinach contains important mineral salts such as calcium, phosphorus, and iron. This study aims to determine the effect of adding green spinach leaf juice to steamed brownies and to determine the best concentration of green spinach leaf juice in steamed brownies for organoleptic tests of color, aroma, taste, texture and water content and ash content tests. The research treatment was the addition of green spinach leaf juice (0%, 2%, 4%, and 6%). Data analysis used a completely randomized design (CRD) method with 4 treatment levels and 3 replications. The best result of adding green spinach leaf extract to making steamed brownies was treatment B2 (4%) green spinach leaf extract, seen from the results of water content (41.27%), ash content (0.59%), organoleptic test of color 3.97 (like), aroma 3.84 (like), taste 4.03 (like), and texture 4 (like). Brownis adalah salah satu produk bakery yang sudah sangat populer dan umum dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Bayam (Amaranthus) dianggap sebagai raja sayuran karena kandungan gizinya mengandung vitamin A, B, dan C, selain itu bayam mengandung garam-garam mineral yang penting seperti kalsium, fosfor, dan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari daun bayam hijau terhadap brownis kukus dan mengetahui konsentrasi terbaik sari daun bayam hijau pada brownis kukus terhadap uji organoleptik warna, aroma, cita rasa, tekstur dan uji kadar air dan kadar abu. Perlakuan penelitian yaitu dengan penambahan sari daun bayam hijau (0%, 2%, 4%, dan 6%). Analisis data menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil terbaik penambahan sari daun bayam hijau pada pembuatan brownis kukus adalah perlakuan B2 (4%) sari daun bayam hijau, dilihat dari hasil kadar air (41,27%), kadar abu (0,59%), uji organoleptik warna 3,97 (suka), aroma 3,84 (suka), cita rasa 4,03 (suka), dan tekstur 4 (suka).
Studi Pengolahan Minuman Instan Jahe Putih Zingiber Officinale Var. Amarum Dengan Penambahan Bubuk Cokelat Agnes Anisa Datu Manik; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4721

Abstract

Ginger is a type of spice which is one of the export commodities that is widely traded in the form of fresh ginger. The high production of ginger can be used as an opportunity to innovate food products. According to BPS, in 2022 cocoa production in Indonesia will reach 650.6 thousand tons, cocoa commodities, especially in South Sulawesi, have managed to contribute 13.36% to the total production. This research aims to determine the effect of adding chocolate powder on water content, ash content and organoleptic tests including taste, color, and aroma of instant white ginger drinks.The research treatment was the addition of chocolate powder (10%, 12.5%, 15% and 17.5%). Data analysis used a completely randomized design (CRD) method with 4 treatment levels and 3 replications. The best results from this research were obtained in instant drinks treated with 12.5% F2 chocolate powder, seen from the water content of 2.24%, ash content of 4.08%, taste of 3.71 (like), color 4 (like), and fragrance 3.89 (likes). Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang menjadi salah satu komoditas ekspor yang banyak di perdagangkan dalam bentuk jahe segar. Tingginya produksi jahe dapat di jadikan sebagai peluang untuk melakukan suatu inovasi produk pangan. Menurut BPS tahun 2022 produksi kakao di Indonesia mencapai 650,6 ribu ton, komoditas kakao khususnya di Sulawesi selatan telah berhasil menyumbangkan 13,36% terhadap total keseluruhan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk cokelat terhadap kadar air, kadar abu dan uji organoleptik meliputi cita rasa, warna, dan aroma pada minuman instan jahe putih. Perlakuan penelitian yaitu dengan penambahan bubuk cokelat (10%, 12,5%, 15% dan 17,5%). Analisis data menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil terbaik dari penelitian ini diperoleh pada minuman instan perlakuan perlakuan bubuk cokelat F2 12,5% dilihat dari kadar air 2,24%, kadar abu 4,08%, cita rasa 3,71 (suka), warna 4 (suka), dan aroma 3,89 (suka).
Studi Pembuatan Minuman Instan Alpukat (Persea americana) Dengan Penambahan Gula Semut Olivia Lois; Abdul Halik; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4735

Abstract

Instant powdered drinks are products with quite low water content, namely around 0.6-0.85% through certain processing processes, and do not affect the content or efficacy of food ingredients. Brown sugar is crystallized palm sugar. Avocados contain vitamins A, C, E, K, vitamin B6, thiamine, riboflavin, niacin, and magnesium. This research aims to determine the best addition of ant sugar in making instant drinks and to determine the effect of adding ant sugar on water content, sugar content, and organoleptic tests (color, aroma, and taste) in instant avocado drinks. The research treatment was the addition of ant sugar (30%, 35%, 40%, 45%) and 40% avocado meat (constant). Research parameters for water content, sugar content, organoleptic tests for color, aroma, and taste. Data analysis used the Completely Randomized Design (CRD) method, with four treatment levels and three replications. The observation data was analyzed using diversity (ANOVA) with a follow-up test using the Least Significant Difference (BNT) test. The best results obtained from adding ant sugar were found in the treatment of adding 40% ant sugar in terms of water content 3.9%, sugar content 48.71%, color 3.02 (like), aroma 2.85 (like), and taste 2.74 (suka). The water content produced in this research does not meet SNI 01-4320-2004. Meanwhile, the sugar content of instant avocado drinks meets the requirements of SNI-4320-2004. Minuman serbuk instan merupakan produk dengan kadar air yang cukup rendah yaitu sekitar 0.6-0.85% melalui proses pengolahan tertentu, dan tidak mempengaruhi kandungan atau khasiat dalam bahan pangan. Gula semut (Brown sugar) adalah gula merah palma (palm sugar) yang dikristalkan. Alpukat memiliki kandungan vitamin A, C, E, K, vitamin B6, tiatamin, riboflavin, niasin, dan magnesium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan terbaik gula semut pada pembuatan minuman instan dan untuk mengetahui pengaruh penambahan gula semut terhadap kadar air, kadar gula, dan uji organoleptik (warna, aroma, dan cita rasa) pada minuman instan alpukat. Perlakuan penelitian yaitu penambahan gula semut (30%, 35%, 40%, 45%) dan daging alpukat 40% (konstan). Parameter penelitian kadar air, kadar gula, uji organoleptik warna, aroma, dan cita rasa. Analisis data digunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat taraf perlakuan dan tiga kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan keragaman (ANOVA) dengan uji lanjutan yang digunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil terbaik diperoleh pada penambahan gula semut terdapat pada perlakuan penambahan gula semut 40% ditinjau dari kadar air 3.9%, kadar gula 48.71%, warna 3.02 (suka), aroma 2.85% (suka), dan cita rasa 2.74 (suka). Kandungan kadar air yang dihasilkan dalam penelitian ini tidak memenuhi SNI 01-4320-2004; sedangkan, kandungan kadar gula minuman instan alpukat memenuhi syarat SNI 01-4320-2004.
Studi Perbandingan Daun Tin Dengan Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Sebagai Produk Teh Herbal Reski Amalia Ramadani; Andi Abriana; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4753

Abstract

Processing fig leaf tea with a comparison of telang flowers is an effort to utilize fig leaves which contain flavonoids, triterpenoids/steroids, tannins, alkaloids, have antioxidant activity in them, while telang flowers contain flavonoids and anthocyanins which have been proven to have an anti-inflammatory effect. So these two ingredients are suitable for combining in making herbal tea. This study aims to (1) determine the effect of the concentration of fig leaves compared to telang flowers (Clitoria ternatea L.) in making tea on water content, ash content, and organoleptic tests on color, aroma and taste (2) the best comparison between fig leaves and butterfly pea flowers (Clitoria ternatea L.) in herbal tea. The research method was a comparison of fig leaves with butterfly pea flowers (100% : 0%, 95% : 5%, 90% : 10%, 85% : 15%), with using a Completely Randomized Design (CRD) with three replications, the observational data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and the Least Significant Difference follow-up test. The results of comparing fig leaves with butterfly pea flowers for herbal tea did not differ significantly in water content, but had a significant effect on ash content, aroma, color and taste. The best results from fig leaf tea are found in the ratio (90% fig leaves: 10% telang flowers) in terms of water content 9.3%, color 3.9 (like it), aroma 3.37 (somewhat like it), and taste 3 .3 (somewhat like it). Pengolahan teh daun tin dengan perbandingan bunga telang merupakan upaya untuk memanfaatkan daun tin yang memiliki kandungan flavonoid, triterpenoid/steroi, tanin, dan alkaloid memiliki aktivitas antioksidan didalamnya, sedangkan bunga telang yang memiliki kandungan flavonoid dan antosianin yang terbukti memiliki efek sebagai antiinflamasi. Sehingga dari kedua bahan tersebut cocok untuk dipadukan dalam pembuatan teh herbal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh konsentrasi daun tin dengan perbandingan bunga telang (Clitoria ternatea L.) dalam pembuatan teh terhadap kadar air, kadar abu, dan uji organoleptik terhadap warna, aroma, dan citarasa; dan (2) perbandingan terbaik antara daun tin dan bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap teh herbal.. Metode penelitian yaitu perbandingan daun tin dengan bunga telang (100% : 0%, 95% : 5%, 90% : 10%, 85% : 15%), dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan, data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis keragaman (ANOVA) dan uji lanjutan Beda Nyata Terkecil. Hasil perbandingan daun tin dengan bunga telang terhadap teh herbal tidak berbeda nyata pada kadar air, tetapi berpengaruh nyata terhadap kadar abu, aroma, warna, dan citarasa. Hasil terbaik dari teh daun tin terdapat pada perbandingan (daun tin 90% : 10% bunga telang) yang ditinjau dari kadar air 9,3%, warna 3,9 (suka), aroma 3,37 (agak suka), dan citarasa 3,3 (agak suka).
Penambahan Bubuk Madu Dalam Pembuatan Teh Daun Sukun (Artocarpus Altilis) Syakirah Khaerunnisah; Fatmawati Fatmawati; Abdul Halik
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4769

Abstract

Breadfruit leaves have unique pharmacological activity and chemical content in the form of phenolic compounds, saponins, tannins, flavonoids, polyphenols, hydrocyanic acid, acetylcholine, and riboflavin. This compound includes secondary metabolites that are beneficial for human health. The breadfruit plant, especially its leaves, is believed to be efficacious in treating various diseases such as kidney, heart, high blood pressure, liver, enlarged spleen, diabetes, alleviating asthma, and so on. Breadfruit leaves have a highwater content so they cannot last long, so it is necessary to process the breadfruit leaves into tea so that they have a longer shelf life. The aim of this research was to determine the effect of adding honey powder to breadfruit leaf tea and the best treatment of breadfruit leaf tea on organoleptic tests (taste, color and aroma) and chemical tests (water content and ash content). The research treatment was the addition of honey powder with concentrations (0%, 15%, 30%, 45%). Data analysis used a completely randomized design (CRD) method with four treatment levels and 3 replications, then analyzed using SPSS and the Least Significant Difference Test (BNT). Based on research, the addition of honey powder in making breadfruit leaf tea (Artocarpus altilis) has a significant effect on water content and ash content, while organoleptic tests on color, aroma and taste. The best results produced by breadfruit leaf tea with the addition of honey powder were in the S4 treatment (45%). Daun sukun memiliki aktivitas farmakologi dan kandungan kimianya yang unik berupa senyawa fenolik, saponin, tanin, flavanoid, polifenol, asam hidrosianat, asetilkolin, dan riboflavin. Senyawa ini termasuk metabolit sekunder yang bermanfaat untuk kesehatan manusia. Tanaman sukun, terutama daunnya dipercaya berkhasiat mengobati berbagai penyakit seperti ginjal, jantung, tekanan darah tinggi, liver, pembesaran limpa, kencing manis, meringankan asma, dan sebagainya. Daun sukun memiliki kadar air yang tinggi sehingga tidak dapat bertahan lama olehnya itu perlu pengolahan daun sukun dibuat menjadi teh agar memiliki daya simpan lebih lama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk madu terhadap teh daun sukun dan perlakuan terbaik teh daun sukun terhadap uji organoleptik (rasa, warna, dan aroma) dan uji kimia (kadar air dan kadar abu). Perlakuan penelitian yaitu penambahan bubuk madu dengan konsentrasi (0%, 15%, 30%, dan 45%). Analisis data menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan dan tiga kali ulangan, kemudian dianalisis menggunakan SPSS dan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Berdasarkan penelitian penambahan bubuk madu dalam pembuatan teh daun sukun (Artocarpus altilis) berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kadar abu, sedangkan uji organoleptik pada warna, aroma, dan cita rasa. Hasil terbaik yang dihasilkan teh daun sukun dengan penambahan bubuk madu yaitu pada perlakuan S4 (45%.)
Penambahan Bubuk Jahe Pada Pengolahan Teh Daun Kelor (Moringa oleifera Lam) Muhammad Akmar; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4883

Abstract

Moringa leaves, apart from being a vegetable, can also be made into herbal tea. Moringa leaf tea is tea made from moringa leaves that have been dried and then mashed into powder. This study aims to determine the best moringa leaf tea formula with the addition of ginger on moisture content, ash content, and organoleptic test. This study aims to determine the effect of ginger powder addition on moringa tea and to determine the best formulation of moringa tea with ginger powder addition on moisture content, ash content, and organoleptic test (color, aroma, and taste). The research treatment was the addition of ginger powder (0%, 10%, 20%, and 30%). The research parameters were moisture content, ash content, organoleptic test of color, aroma, and taste. Data were analyzed using the Completely Randomized Design (CRD) method, with four treatments and three replications. Observation data were analyzed using the test of variance (ANOVA) with further test (BNT). The best results obtained by moringa leaf tea with the addition of ginger powder are in P3 treatment of 30% ginger powder addition in terms of water content of 5.69%, ash content of 9.63%, color 3.88 (like), aroma 3.6 (like), and taste 3.32 (like). The water content in this study meets SNI 3945 - 2016 BSN. Meanwhile, the ash content of moringa leaf tea with the addition of ginger powder does not meet SNI 3945 - 2016 BSN. Daun kelor selain sebagai sayur, juga dapat dibuat menjadi teh herbal. Teh daun kelor adalah teh yang dibuat dari daun kelor yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan hingga menjadi bubuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik teh daun kelor dengan penambahan jahe terhadap kadar air, kadar abu, dan uji organoleptik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk jahe terhadap teh daun kelor dan untuk mengetahui formulasi terbaik teh daun kelor dengan penambahan bubuk jahe terhadap kadar air, kadar abu, dan uji organoleptik (warna, aroma, dan rasa). Perlakuan penelitian penambahan bubuk jahe (0%, 10%, 20%, dan 30%). Parameter penelitian kadar air, kadar abu, uji organoleptik warna, aroma, dan rasa. Analisis data dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji keragaman (ANOVA) dengan uji Lanjut (BNT). Hasil terbaik diperoleh teh daun kelor dengan penambahan bubuk jahe terdapat pada P3 perlakuan penambahan bubuk jahe 30% ditinjau dari kadar air 5,69%, kadar abu 9,63%, warna 3,88 (suka), aroma 3,6 (suka), dan rasa 3,32 (suka). Kandungan kadar air dalam penelitian ini memenuhi SNI 3945 – 2016 BSN; sedangkan kandungan kadar abu teh daun kelor dengan penambahan bubuk jahe tidak memenuhi SNI 3945 – 2016 BSN.
Pembuatan Kerupuk Ikan Cakalang Dengan Penambahan Biji Alpukat (Persea americana) Ferby Anggun Aprilyanti; Rosdiani Azis; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.4974

Abstract

Fish crackers are a dry food product made from starch flour and fish meat with the addition of other permitted food ingredients. This research aims to determine the effect of adding avocado seed pulp on the water content, ash content, degree of expansion, and organoleptic properties of skipjack tuna (cakalang) crackers. The method used was a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications, namely the addition of avocado seed pulp at 1% (F1), 2.5% (F2), 4% (F3), and 5.5% (F4). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by the Least Significant Difference (LSD/BNT) test where appropriate. The addition of avocado seed pulp had a significant effect on water content, aroma, taste, and texture. Water content decreased as the proportion of avocado seed pulp increased, ranging from 6.70% (F1) to 4.09% (F4), well within the SNI 2713.3:2009 maximum limit of 11%. The degree of expansion increased with higher avocado seed pulp addition, from 26.65% (F1) to 32.27% (F4), consistent with the higher amylopectin content contributed by the avocado seed starch. Among the organoleptic attributes, F1 (1% avocado seed pulp) received the most preferred scores for color (3.76), aroma (3.73), and taste (3.92), while F4 (5.5%) received the most preferred score for texture (3.59). No single treatment was superior across every parameter tested; the choice of optimum formulation therefore depends on which quality attribute is prioritized. Kerupuk ikan adalah produk makanan kering yang dibuat dari tepung pati dan daging ikan dengan penambahan bahan-bahan lain yang diizinkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubur biji alpukat terhadap kadar air, kadar abu, derajat pengembangan, dan sifat organoleptik kerupuk ikan cakalang. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu penambahan bubur biji alpukat 1% (F1), 2,5% (F2), 4% (F3), dan 5,5% (F4). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila diperlukan. Penambahan bubur biji alpukat berpengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, rasa, dan tekstur. Kadar air menurun seiring bertambahnya proporsi bubur biji alpukat, berkisar antara 6,70% (F1) hingga 4,09% (F4), dan seluruh perlakuan telah memenuhi syarat mutu SNI 2713.3:2009 (maksimal 11%). Derajat pengembangan meningkat seiring bertambahnya bubur biji alpukat, dari 26,65% (F1) menjadi 32,27% (F4), sejalan dengan kontribusi amilopektin dari pati biji alpukat. Pada uji organoleptik, F1 (bubur biji alpukat 1%) memperoleh skor kesukaan tertinggi untuk warna (3,76), aroma (3,73), dan rasa (3,92), sedangkan F4 (5,5%) memperoleh skor kesukaan tertinggi untuk tekstur (3,59). Tidak terdapat satu perlakuan tunggal yang unggul pada seluruh parameter yang diuji, sehingga pemilihan formulasi optimum bergantung pada atribut mutu yang menjadi prioritas.
Pengaruh Nisin Dalam Edible Coating Alginat Terhadap Mutu Stroberi Selama Penyimpanan Ahmad Dwi Rizky; Suriana Laga; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5078

Abstract

This study evaluated the effect of nisin concentration in an alginate-based edible coating on the physicochemical quality of strawberries during storage. All fruits were coated with 2% (w/v) alginate and 2% (w/v) glycerol, while nisin was varied at 0, 0.5, and 1% (w/v). A 3 × 4 factorial completely randomized design was used, comprising three nisin concentrations and four storage periods (0, 2, 4, and 6 days), with two replications. Weight loss, moisture content, vitamin C, and pH were analyzed using two-way analysis of variance followed by the least significant difference test at 5% when appropriate. Nisin concentration and storage time affected all measured responses, whereas their interaction was not significant for weight loss but was significant for moisture content, vitamin C, and pH. The 1% nisin formulation showed the lowest mean weight loss (46%) and, on day 6, retained higher moisture (61.84%) and vitamin C (12.9 mg/100 g), with a lower pH (3.85), than the coating without nisin.  This experiment did not include an uncoated control, microbiological measurements, or coating characterization, the findings demonstrate a comparative effect of nisin within the alginate-coating system but do not yet establish shelf-life extension or antimicrobial efficacy. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi nisin dalam edible coating berbasis alginat terhadap mutu fisikokimia buah stroberi selama penyimpanan. Seluruh buah dilapisi larutan alginat 2% (b/v) dan gliserol 2% (b/v), sedangkan konsentrasi nisin divariasikan menjadi 0; 0,5; dan 1% (b/v). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial 3 × 4 yang terdiri atas tiga konsentrasi nisin dan empat lama penyimpanan (0, 2, 4, dan 6 hari) dengan dua ulangan. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, vitamin C, dan pH. Data dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji BNT taraf 5% apabila berpengaruh nyata. Konsentrasi nisin dan lama penyimpanan memengaruhi seluruh parameter, sedangkan interaksi kedua faktor tidak nyata pada susut bobot, tetapi nyata pada kadar air, vitamin C, dan pH. Formulasi nisin 1% menghasilkan rata-rata susut bobot terendah (46%) dan pada hari ke-6 mempertahankan kadar air 61,84%, vitamin C 12,9 mg/100 g, serta pH 3,85. Penelitian ini tidak menggunakan kontrol tanpa coating, tidak mengukur jumlah mikroba, dan tidak mengarakterisasi lapisan, hasil ini menunjukkan pengaruh komparatif nisin di dalam sistem coating alginat, tetapi belum membuktikan perpanjangan masa simpan maupun efektivitas antimikroba.
Pengaruh Penambahan Kelapa Sangrai Terhadap Karakteristik Fisikokimia Dan Sensori Cokelat Batang Dwi Angraeni; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6758

Abstract

This study evaluated the effect of roasted coconut addition on the physicochemical and sensory characteristics of chocolate bars. Four formulations were prepared by adding 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), or 15% (P4) roasted coconut to 100 g of chocolate paste. A completely randomized design with three replications was used. Fat, moisture, and ash contents were analyzed, while color, aroma, taste, and texture were assessed by 25 panelists using a five-point hedonic scale. Data were evaluated by one-way analysis of variance and the least significant difference test at a = 0.05 when a significant treatment effect was detected. Roasted coconut addition significantly affected fat content (p = 0.020) and moisture content (p = 0.010), but did not significantly affect ash content (p = 0.081), color (p = 0.467), aroma (p = 0.311), taste (p = 0.410), or texture (p = 0.072). Fat and moisture contents increased from 42.45% and 1.85% in P1 to 46.70% and 3.50% in P4, respectively. Sensory scores ranged from 2.83 to 4.10 and did not differ statistically among formulations. The 5% formulation may be considered a practical compromise because it incorporated roasted coconut while maintaining moisture below 2%; however, an overall optimum was not statistically established. Complete standard compliance cannot be concluded because only selected chemical parameters were measured and variability statistics were not reported. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh penambahan kelapa sangrai terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori cokelat batang. Empat formulasi dibuat dengan menambahkan kelapa sangrai sebesar 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), dan 15% (P4) pada 100 g pasta cokelat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar lemak, kadar air, kadar abu, serta tingkat kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan 25 panelis dan skala hedonik lima tingkat. Data dianalisis melalui analisis ragam satu arah dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada a = 0,05 apabila perlakuan berpengaruh nyata. Penambahan kelapa sangrai berpengaruh nyata terhadap kadar lemak (p = 0,020) dan kadar air (p = 0,010), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu (p = 0,081), warna (p = 0,467), aroma (p = 0,311), rasa (p = 0,410), dan tekstur (p = 0,072). Kadar lemak dan kadar air meningkat dari 42,45% dan 1,85% pada P1 menjadi 46,70% dan 3,50% pada P4. Skor sensori berkisar 2,83–4,10 dan tidak berbeda nyata antarfomulasi. Formulasi 5% dapat dipertimbangkan sebagai kompromi praktis karena telah mengandung kelapa sangrai dengan kadar air di bawah 2%, tetapi formula optimum secara keseluruhan belum dapat ditetapkan secara statistik. Kesesuaian penuh terhadap standar produk juga belum dapat disimpulkan karena penelitian hanya mengukur sebagian parameter kimia dan belum melaporkan ukuran keragaman data.